Thursday, September 8, 2011

Bulan Pesisir Pantura

Bulan Pesisir Pantura
Mang Oejank Indro


Sekarang aku mencari keadilan. Tidak ada laki-laki yang sekeji itu selain dirimu. Bukan karena aku lahir di pedesaan kumuh yang berair payau, berbau amis, dan penuh sesak dengan kubangan lumpur menjijikkan. Kau ingat, ketika tubuhku kau nikmati dengan bengis birahimu? Aku memaki-maki diriku sendiri disudut kamar kita. Tidak sekalipun kau menatapku, apalagi membelaiku dengan jari-jari tanganmu yang kasar. Tidak lagi. Tidak seperti dulu. Sebelum rahimku berhenti menyediakan benih seorang bayi. Iya! Aku mandul. Aku mandul. Aku tidak bisa memberi keturunan untukmu. Keturunan yang berhulu dari spermamu. Dan menjadi darah dagingmu.
Aku tidak akan menyalahkan Lindu, juga Teti. Mereka tidak mandul. Mereka gadis subur yang bisa memberi keturunan untukmu. Kau akan bahagia dengan mereka. Aku lebih senang dimadu dengan Teti, ia perempuan baik-baik. Aku yakin itu. Ayahnya memang berandalan, tapi ibunya tidak berandal. Aku yakin, kita bisa rukun. Asalkan kau bisa berlaku adil. Memang sangat berat untukku. Tapi aku masih isterimu. Perintahmu adalah jalanku ke surgaNya.
Dua tahun lalu. Banyak perjaka yang berbondong-bondong melamarku. Saat itu aku masih 23 tahun. Kau tahu? Aku seorang kembang desa, sebelum aku tunduk pada uangmu. Sebelum bapak dan ibuku ‘menjualku’ demi rumah bertingkat dua yang sama sekali tak nyaman untukku.
Kau tahu? Hal yang paling menyakitkan adalah ketika aku terjatuh dari tangga rumah mewahmu. Dan, setelah itu kau mulai berubah. Ingat ketika aku berlumuran darah dibawah tangga? Kau begitu khawatir. Kau menangisiku. Kau membelai pipiku dan membopongku dengan histeris. Aku tahu kau sangat menyangiku. Ya! Benar-benar menyangiku. Waktu itu aku hamil muda. Setiap malam jemarimu membelai hangat perutku. Menciumi keningku dan tak lupa membelai rambutku, lalu tidur tepat disampingku.
Kau percaya takdir bukan? Aku tahu persis kau membenci aliran Qodariyah. Iya, kan?
Setelah keluar dari rumah sakit pun, kau masih melempar semnyuman. Dan kau tidak ragu-ragu untuk tersenyum kepadaku. Seminggu aku kau manjakan. “Aku akan menjagamu. Lekaslah sembuh, dan lupakan kejadian yang sudah lalu.” Begitulah caramu menghiburku. Mungkin bulan depan, atau minggu depan? Bisa juga lusa. Aku akan menjadi jandamu. Jika beruntung, aku akan menjadi isteri keduamu, meskipun kau bersetubuh untuk pertamakali denganku.
Sudahlah. Jangan kau berpikir aku akan menyiapkan seutas tali dan mengakhiri hidupku. Aku memang terlahir ditengah kepulan asap kapal-kapal berbau amis. Tapi aku bukan perempuan yang lemah. Hal itu aku buktikan setahun terakhir. Aku masih melayanimu seperti dulu. Itu kewajibanku. Meskipun tidak lagi kau nikmati romansa perkawinan tahun pertama denganku itu.
“Maafkan aku Ro, aku juga ingin seperti mereka. Bercanda dengan buah hatinya, menggendongnya dan melemparnya ke udara. Lalu mereka tertawa riang. Mereka senang.” Kata suamiku.
Iya, aku juga ingin mengalirkan air susu ke kerongkongannya. Memandikannya dua kali sehari, memakaikan baju kesangannya, dan mengantarkan ia bersekolah, dimana ia bisa tertawa lepas bersama anak-anak seusianya. Bukan cuma kau yang tersiksa. Tapi aku mengerti semua itu. Akulah yang patut disalahkan. Aku mandul.
---0---
“Setidaknya kau masih bisa hidup layak bersamaku. Aku masih memberimu nafkah.” Kata suamiku. Pagi ini ia tidak bekerja. Ia mengambil jatah cuti selama tiga hari. Tiga hari inilah yang akan membuatku harus menangis sepanjang malam. “Selamanya?” Tanyaku. ia menampakkan wajah yang penuh kecurigaan. Aku hanya menyudutkan diri di depan meja rias berkaca lebar, dan ingin sekali mengeluarkan air mata. Sayang aku tak sanggup mengeluarkannya dihadapan suamiku.
“Aku masih suamimu Roh. Tidak mungkin aku menyia-nyiakanmu!” Jawab suamiku. Ia menghampiriku. Berdiri tepat dibelakangku. Ia menatapku melalui cermin. Tapi aku hanya menunduk.
“Masih? Sampai kapan? Sampai kau tak lagi ingin meniduriku?”
“Roseminah.. Itu tidak mungkin terjadi. Janganlah berpikiran sedangkal itu. Tidak ada dalam kamus hidupku untuk menceraikanmu. Tidak ada!” Cetus suamiku dengan nada meninggi.
“Benar tidak ada? Aku pikir kau masih ingat ketika kau mengatakan tidak akan menduakanku dan akan menerima aku apa adanya. Sekarang? Apa yang terjadi? Aku tidak menagih janjimu. Tidak. Aku tidak seperti yang kau bayangkan. Aku terima, aku terima semua ini. Aku yang salah. Aku mandul.”
Suamiku memelukku dari belakang. Isak tangisnya mulai berkumandang. Aku hanya diam dan tidak beranjak sedikitpun. Sakit yang aku rasakan membuatku tak mampu lagi bergerak dan meneteskan air mata. Suamiku laki-laki baik, setidaknya untuk saat ini. “Minggu depan aku ingin kau menjadi saksi pernikahanku dengan Lindu. Undangan sudah aku sebarkan. Maaf, aku tidak ingin melibatkanmu untuk persiapan pernikahanku. Pestanya sengaja aku gelar di luar  kota.” Ujar suamiku pelan. Ia masih tidak melepaskan pelukannya.
“Baiklah, sekarang aku mohon tinggalkan aku sendiri. Jika tidak keberatan, aku akan tidur di kamar tengah. Supaya kau bisa lebih terbiasa dengan isteri barumu nanti. Tapi aku tidak menolak jika kau ingin aku temani tidur. Sudah kewajibanku. Untuk dua malam kedepan, aku tidak bisa.” Jawabku lirih. Suamiku melepaskan pelukannya. Aku beranjak dari kamar yang sudah aku tempati selama dua tahun bersamanya. Dan, minggu lagi akan ada wanita lain didalamnya.
Aku menutupi wajah dengan bantal putih. Menutup pintu kamar rapat-rapat. Membiarkan air mataku mengucur keluar dengan bebas. Sesekali aku berteriak, sulit untuk kugambarkan apa yang sedang terjadi. Seandainya isteri baru suamiku adalah Teti. Aku mungkin masih bisa tersenyum dihadapannya, tapi suamiku memilih Lindu. Perempuan yang tidak pernah mengenal Rosulnya, apalagi Tuhannya. Masih beberapa hari lagi pernikahan suamiku, tapi aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika Lindu tinggal di rumah ini. Pertamakali adalah foto keluarga yang terpampang di ruang tamu akan ia ganti. Selanjutnya cat rumah, alih nama surat-surat tanah, kendaraan, dan sebagainya. Terakhir adalah mengusirku dari kamar tidur utama.
Hari pernikahan suamiku dilangsungkan hari ini. Aku berpakaian rapi dan berdandan. Parasku tidak kalah menarik dari pengantin baru suamiku. Hanya ukuran bra dan pinggulku tidak sebesar milik Lindu. Aku mengakui Lindu wanita seksi.
Tamu undangan sudah banyak yang hadir. Tidak terkecuali orang tuaku. Mereka tampak biasa-biasa saja, bahkan ketika menyaksikan ijab-kabul, mereka kulihat bersemangat meneriakkan “SAH” di belakangku. Seperti yang sudah aku katakan, aku ikhlas. Iklhasku untuk kebahagiaan suamiku. Hadir juga teman-temanku semasa SMA, mereka beramai-ramai mengajak anak-anak mereka. Sungguh sebuah keluarga, ayah, ibu, dan anak. Aku berusaha menutupi semua kesedihan yang membakar hati dan jiwaku. Sepertinya semuanya nampak baik-baik saja. Semua orang percaya aku bahagia dimadu. Allah menutupi kesedihanku. Aku tahu itu.
Malam pertama. Aku memeluk guling putih di kamar tengah. Kusaksikan suamiku menggendong Lindu memasuki kamar utama. Mereka bahagia. Sangat bahagia. Seperti ketika dulu suamiku menutup pintu dan mematikan lampu tepat di malam pertama pernikahanku. Aku masih bisa mencium aroma parfumnya. Sekarang giliran Lindu. Ia sudah sah menjadi isteri muda suamiku.
Sudah larut malam dan aku harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan hidangan sarapan. Mungkin aku harus menyiapkan pertanyaan seputar malam pertama suamiku dengan Lindu. Lampu kamar kumatikan. Selimut aku tarik menutupi tubuhku. Tidak berselang lama, suamiku mendekapku dari belakang. “Maafkan aku, ini memang bukan maumu. Tapi, aku tidak bisa menahan hasratku memiliki buah hati. Kau mengerti itu, bukan?” ia   mencium keningku. Aku hanya mengangguk, dan suamiku menaikkan selimutku. Lalu ia kembali kepada Lindu. ia menikmati malam pertama dengan isteri barunya. Sedangkan aku menikmati malam pertama berbagi pria dengan wanita lain.
Kemarin malam aku tidur sendirian. Nanti malam aku masih sendiri. Lusa? Aku yakin masih sendiri. Sungguh aku melihat kebahagiaan terpancar cerah dari wajah suamiku akhir-akhir ini. Semenjak ia meminang Lindu. Aku harus menerima, menjadi pinggiran hati suamiku. Memang sangat menyakitkan, tapi itu tidak akan lama. Mungkin setelah mengakrabkan diri dengan Lindu, aku bisa lebih ikhlas berbagi suami. Seminggu, sebulan, dan seterusnya. Ini takdirmu Roseminah.

---0---

Setahun sudah aku berbagi suami dengan Lindu. kenyataannya tidak seperti apa yang aku yakini. Bercengkeramah bersama di halaman belakang rumah, berbelanja kebutuhan rumah tangga, memasak untuk suami, mencuci, dan mengurus rumah bersama-sama, tidak pernah Lindu membantu. Ia hanya menyiapkan jas mas Hari yang aku cuci dan seterika dengan tanganku, tapi ia dengan bangga memakaikannya. Aku seperti sudah tak pantas lagi menyisir rambut suamiku sendiri. Dua bulan terakhir, aku hanya ditidurinya dua malam saja. Lindu tidak mungkin aku salahkan. Diriku yang salah, dan semestinya aku mengalah. Aku mandul.
“Jangan lupa, cucian, belanja bulanan, dan beli popok untuk Nindi, uangnya di atas meja dapur.” Kata-kata itu mulai akrab ditelingaku. Itu kata-kata Lindu. Dalam hatiku ingin menjerit. “Aku bukan babu! Aku isteri pertama suami kita.”
“Kalian berdua isteriku. Bersikaplah yang baik. Kalian sekarang saudara.” Begitulah Mas Heri biasanya melerai Lindu yang mulai berani menamparku. Itupun jika Mas Heri tahu, jika tidak, aku selalu beralasan terjedot pintu, terjatuh di kebun belakang dan terbentur pohon mangga. Lindu pernah menjambakku dan menendang paha kananku hingga memar. Malam harinya Mas Heri tidur denganku. Ia mengetahui memar di pahaku. Aku berbohong kepadanya. Aku berdalih tergelincir saat sedang mengepel lantai depan rumah. Memang ada beberapa anak tangga di sana, dan Mas Heri pun percaya.
Allah membantuku. Setahun berlalu dan aku masih menerima Lindu sebagai saudaraku, dan Mas Heri sebagai suamiku. aku sendiri tidak mengerti kenapa bisa begini perasaanku.
“Awas, kalau sampai kau mengadu pada Mas Heri, besok akan banyak pelayat mengaji untukmu!” Lindu mengancamku. Aku tidak peduli dengan ancaman itu. Aku tidak takut mati, karena hatiku sudah terasa mati sejak Lindu menikah dengan suamiku.
“Tidak akan aku mengadu pada Mas Heri. Dia suamiku, dan aku isterinya. Surgaku ada dalam dirinya.” Jawabku singkat. Setidaknya itu yang kuketahui dari guru agamaku ketika SMA. Ia hanya mengrenyitkan dahi, lalu menjulingkan matanya dan bergegas pergi. Keesokan harinya, Mbok Ijah ia berhentikan. Mbok Ijah merawat Mas Heri sejak masih balita. Dan Lindu menyuruhnya pergi tanpa meminta izin Mas Heri. Keterlaluan. “Maafin mbok ya Non, mbok harus pergi. Habisnya mbok takut sama Non Lindu, udah mukanya serem. Galak lagi!” Cetus Mbok Ijah.
“Maafin Lindu ya mbok, mungkin ia berpikir Mbok Ijah sudah waktunya kembali ke rumah. Mbok sudah banyak membantu keluarga Pak Heri, sekarang Mbok yang harus dirawat, bukan merawat. Kasihan juga anak dan cucu Mbok di kampung, masa neneknya ndak pulang-pulang selama 30 tahun? Iya kan Mbok?” Aku meredam suasana.
“Iya Non, tapi Mbok masih kuat. Lihat otot-otot Mbok masih kekar.” Celotehnya sambil menunjukkan lengan ala binaragawan.
“Iya Mbok, iya… Roh percaya kok Mbok bisa angkat galon air dua buah sekaligus.”
“Apa Non? Walah walah, ya ndak kuat Non kalau dua. Dulu waktu muda sih bisa. Tapi sekarang kan sudah bercucu banyak. Jadi mlempem.” Kata Mbok Ijah lantas terkekeh. Aku memegangi tangannya yang keriput. “Mbok, terimakasih sudah merawat Pak Heri dengan baik, jika beliau ada salah, mohon dimaafkan.”
“Mbok juga minta maaf Non, mbok titip salam ke Pak Heri, terimakasih banyak sudah menghidupi keluarga Mbok, Pak Heri itu seperti anak Mbok sendiri. Mbok masih ingat betul ketika Pak heri masih kecil. Mbok ndak bisa lupa Non. Dia anak baik, sebaik bapak dan ibunya.” Mbok Ijah tidak kuasa menahan air matanya. Sore itu aku kehilangan sosok ibu di rumah ini. “Mbok, ini dari saya. Terima saja, tidak usah dilihat disini. Mbok harus buka di rumah.” Aku memberikan sebuah buntelan. Kami berpelukan sejenak, dan Mbok Ijah melangkah lemas menuju taksi yang akan mengantarnya sampai ke stasiun. Matanya berlumuran air mata. Meninggalkan keluarga yang ia bantu selama 30 tahun adalah hal yang tidak mudah bagi Mbok Ijah. Karena separuh hidupnya ia bangun disini. Tapi ia harus pergi, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena sekarang aku bukan apa-apa di keluarga ini. Aku hanya isteri pertama dari suamiku dan aku mandul.
---0---
Cerita kepergian Mbok Ija aku karang sedemikian rupa. Aku berdalih Mbok Ijah ditunggu anak-anak dan cucunya, usianya mulai senja, dan ia sudah tidak sekuat dulu lagi. “Mbok sudah dijemput salah satu putranya. Aku tidak bisa menahannya. Sudahlah Mas, Mbok sudah banyak berjasa buat kita. Aku bisa menggantikan posisinya.” Kataku. Suamiku masih tidak membenarkan tindakanku.
“Iya, tapi selama ini Mbok tidak pernah mengeluh.” Sanggahnya singkat.
“Aku tahu mas, tapi menunggu Mbok Ijah mengeluh bukan keputusan yang baik. Ia punya keluarga. Sama seperti Mas Heri, yang merindukan kehadiran Lindu, Nindi, dan Aku dirumah ini.” Aku segera mengakhiri pembicaraan. “Aku bisa menggantikan Mbok Ijah, Mas. Lagipula ada Lindu yang lebih bisa mendampingi Mas.” Aku melempar senyum dan meninggalkan Mas Heri dengan segelas susu hangat dan biskuit di meja kerjanya.
Tiga bulan sudah aku menggantikan posisi Mbok Ijah. Sebagai isteri pertama yang membuang banyak waktunya di rumah. Mengelap kaca jendela, membersihkan halaman rumah, memandikan dan merawat balita perempuan darah daging suamiku. Aku tegaskan lagi, aku masih isteri Mas Heri. Nindi anakku juga, walaupun bukan dari rahimku. Nindi banyak menghabiskan waktu denganku. Setiap hari aku memandikannya, mengganti popoknya, menyuapinya dengan bubur yang kuracik sendiri. Sesekali saja Lindu mencurahkan kasih sayang kepada Nindi. Tapi aku tahu, aku benar-benar tahu, Lindu tidak akan tergantikan di hati Nindi. Ia ibunya, yang mengandungnya selama sembilan bulan lamanya, lalu mempertaruhkan hidupnya untuk membuatnya benar-benar menghirup udara dan melihat indahnya dunia.
Lindu ibu yang baik. Ia selalu mengingatkanku apa yang Nindi butuhkan. “Ingat, takaran susunya harus pas, baju-baju yang sudah kumal buang saja ke tong sampah, dan tolong suapi dia, beri vitamin dan gizi yang berimbang. Awas kalau sampai Nindi sakit! Orang pertama yang akan kumarahi adalah kau.” Cetusnya dengan nada agak tinggi dan sinis. Tapi aku yakin ia berlaku demikian karena khawatir pada Nindi. “Baiklah, Lin. Aku akan melaksanakannya dengan semampuku.” Jawabku.
“Sudah seharusnya kau menjawab seperti itu. Kau tidak pernah dan tidak akan pernah merasakan memiliki buah hati dari rahimmu sendiri bukan? Karena itu, aku memberimu kesempatan merawat Nindi.” Ujar Lindu dengan membuang muka. Ia berusaha merapikan mukanya dengan sekotak perlengkapan make up. Ia sekarang lebih sering keluar rumah. Biasanya menemui isteri-isteri kolega suamiku. Hal yang pernah aku ingin lakukan, tapi tidak mungkin bisa aku lakukan. Biarlah Lindu yang melakukan. Aku dirumah saja. Lagipula Mas Heri pasti malu jika isteri-isteri koleganya tahu aku hanya lulusan SMA, dan mandul.
Nindi adalah sahabat, keluarga, dan anak suamiku. Aku senang merawatnya, sudah seperti anakku sendiri, meskipun aku tak beranak. Seringkali aku mengajaknya menikmati desiran ombak di pesisir pantai, pantai utara pulau Jawa. Disana terbentang jalan panjang yang mengular sepanjang pesisir pantai. Banyak orang yang mengakhiri hidupnya di jalan itu, baik ketika jalan itu dibangun, atau ketika melewati jalan itu. Orang Jawa menamainya jalur pantai utara, pantura. Aku ingat ketika masih remaja, bapak dan ibuku selalu mengajakku menjajakan minuman botol, ikan asin, dan jajanan ketika menjelang hari raya Idul Fitri. Pada hari-hari itu banyak orang pulang ke kampung halaman, setelah mencari pundi-pundi di ibu kota.
Minggu depan hari-hari itu akan segera datang. Dimana banyak pemudik berlalu-lalang kembali ke kampung halaman. Berkumpul dengan keluarga mereka. Tertawa, bercanda, dan saling bersalaman. Nindi sudah mulai besar. Mas Heri akan membawanya ke rumah orang tua Lindu saat lebaran nanti, kemungkinan itu besar. Dan aku akan mengunjungi orang tuaku seorang diri, seperti tahun lalu. Hanya sekali aku berlebaran bersama suamiku. Bisakah kau bayangkan itu?
Pasir putih, karang menjulang dan menghilang dari balik ombak yang berkejaran. Akrab sekali suasana seperti ini. Aku ingin Nindi terbiasa dengan semua ini. Harapanku ketika ia dewasa nanti, ia mengingat ibu keduanya pernah begitu dekat dengannya, dan benar-benar menyanginya. Kuciumi keningnya, kudekap ia dengan seluruh kasih sayangku. Berdua kami nikmati mega yang memerah di pesisir pantura hingga kumandang adzan menggema.

---0---

No comments:

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...