Sunday, December 4, 2011

SAJAK UNTUK JULIA


Oleh, Oejank Indro

Tunggu sebentar, aku hanya ingin mengingatkanmu. Sebenarnya, sudah lama aku ingin melambaikan tangan dari anjungan kecil ini. Tapi, lagi-lagi karena hal yang sangat kecil itu, semuanya urung kulakukan.
“Semua ini salahmu.” Ia mulai menatapku. Nada bicaranya sangat tinggi, rok merah mudanya terurai lembut ke tanah. Sebuah tas jinjing yang semula ia pegangi, sekarang ia letakkan pelan di dekat simpuhannya. “Selalu saja itu, seenaknya kau bermain-main dengan perasaanku. Apa kau kira aku ini kambing? Ha!!!”
Aku memalingkan pandanganku ke seberang sungai. Sedikitpun berusaha memaki diri sendiri di ujung anjungan kecil.
“Ini, kau lupa?” Teriaknya sambil mngangkat sehelai selendang hijau tua. Selendang itu bergelayutan terkena hembusan angin sore. “Ini, kau masih ingat, bukan? Jawab!!!!” Teriaknya lagi. Kali ini ia menjatuhkan selendang  dan menyodorkan kotak kecil dari kayu akasia. Tentu saja aku terperanjat. Tapi aku tidak sedikitpun berpaling.
Ia menjatuhkan diri. Menangis.
Aku selalu datang. Aku juga masih ingat semua itu. Tidak mudah kulupakan.
“Lalu?” Kepalanya mendongak. wajahnya sudah merah dan berlumuran air mata. Aku berbalik dan menatapnya heran. “Kau sudah mengerti sejak dahulu. Egomu yang membatasi ketulusanmu. Semua ini bukan semata salahku.” Kataku pelan.
“Tidak. Kau memang bajingan.” Ia memberontak. “Ini semua salahmu. Kau salah. Kau yang kalah.” Ia mulai mengumpat. Nadanya semakin lama semakin tinggi. Aku langsung memeluknya. Benar-benar memeluknya dengan sangat erat. Air matanya mulai membasahi pundakku. Sulit baginya memang. Tangisnya tulus.
Sejujurnya saat itu ia seperti Rapunzel ketika rambut ajaibnya ia relakan untuk dipotong. Aku membelainya. Aku tahu ia sangat tertekan waktu itu. “Maafkan aku. Sebaiknya segera kau pergi. Aku tidak mengusirmu. Tapi, mempersilahkanmu.” Aku berbisik kepadanya. Ia masih terisak-isak dalam pelukanku. Pelukannya semakin erat dan membuatku gusar.
“Sudah. Kau bisa Julia. Aku tahu ini pasti sulit, tapi jangan kau buat lebih sulit.” Aku berusaha merayunya. “Selamat jalan Julia.” Kataku singkat. Kulepaskan pelukannya pelan-pelan dan menjauh perlahan. Julia tertunduk, lalu tersipu di ujung anjungan. Sejak saat itu, aku tidak mendengar kabar Julia.
**
Bangun dini hari, menghangatkan diri dengan secangkir kopi, dan menikmati sejuk pemandangan berlatar sungai. Meskipun kadang-kadang kabut memutihkan hijau dan rindang pepohonan diseberang sungai. Malam tadi aku tidak pulas tertidur. Gelisah. Asal kau tahu, saat ini masih tercecer lembar-lembar kertas tulisan tanganku. Setidaknya ada beberapa lembar yang sudah aku rampungkan. Sisanya menjubal di dalam tong sampah, berserakan di atas ranjang, dan terinjak-injak di dasar lantai.
Selepas Julia pergi, aku rajin menulis sajak-sajak kecil pada lembaran kertas, dengan tanganku sendiri. Biasanya aku menulis ketika sang surya akan terlelap. Tempat favoritku adalah di mejak kecil yang berdiri tepat di jendela kamar. Jendela itu menghadap langsung ke arah barat, dari situ Aku dengan jelas melihat sungai yang berkelok. Indah.
Entah sudah berapa judul puisi, berapa sajak, dan bait yang sudah kutulis. Aku tidak begitu peduli berapa jumlahnya. “Aku sudah hafal semua sajak yang aku tulis.” Begitulah jawabanku ketika beberapa orang penghuni komplek mempertanyakan jumlah sajak-sajakku. Aku dan mereka, tetangga kamarku dan segelintir orang merasa dirinya manusia, sudah tidak mengerti lagi apa arti keluarga. Kami sudah terlalu memahami makna keluarga. Rasa kekeluargaan kami tidak hanya berdasarkan ikatan darah. Tidak seperti manusia di luar sana. Lantang berteriak, “Kami adalah saudara, kami adalah keluarga, satu bangsa, satu bahasa….” Tapi mereka lupa. Lupa makna keluarga.
Ada lagi. Ini cerita dari penghuni kamar sebelah. Namanya Seno, ia keturunan Jawa dan beraga Islam. Pernah ia sedang merenung di anjungan sungai saat malam bulan purnama. “Kenapa bulan tak selalu bulat setiap malam?” Aku masih berjalan mendekat ketika ia menanyakan hal itu. “Dan kenapa matahari selalu bulat setiap hari?” Tanyanya lagi.
“Sudah menjadi kehendak Tuhan.” Jawabku. Lalu aku duduk di dekatnya. Ia mengambil batu kecil dan melemparnya ke tengah sungai. “Kenapa bulan tidak pernah protes kepada Tuhan?” Seno kembali bertanya. “Aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Aku hanya percaya, Tuhan memiliki maksud dibalik itu semua.” Kataku pelan.
“Kau terlalu bodoh.” Sanggah Seno. Ia berdiri dan memandangi purnama. “Hei bulan, kau senang? Apa kau tidak bosan dengan hanya memantulkan cahaya matahari? Kata orang cahayamu itu indah, cahayamu itu menyejukkan. Bukankah kau hanya memantulkan cahanya matahari? Kau tidak malu?”
Seno kembali duduk dan menatapku. “Kau benar, seno.” Ujarku. Seno tersenyum. Ia kembali melihat purnama. “Hei bulan, kau tidak perlu malu. Kau adalah temanku, keluargaku. Kau selalu mengingatkanku. Karena aku masih tinggal di bumi.”
“Maksudmu?” Tanyaku. Seno segera menatapku. Matanya menjuling dan posisi duduknya berubah. “Waktuku, waktuku, dan waktu mereka tidak sebanyak orang-orang di luar sana.” Katanya dengan santai. Aku mengambil nafas dalam-dalam. “Iya, aku mengerti. Kita akan berjumpa lagi dengan Tuhan kita. Tidak lama lagi.”
Seno menundukkan kepalanya. Badannya terlihat melemah. “Aku, kau, dan mereka…” ia memandangi komplek. “Ibarat bulan yang memantulkan cahaya dari Tuhan. Cahaya itu tidak selalu indah bukan? Biarlah, cahaya kita tidak indah untuk kita, tapi pantulan cahaya kita akan indah untuk orang-orang di luar sana.” Lanjutnya.
“Bersyukurlah. Tuhan memberikan kita jalan hidup yang spesial.” Kataku sambari menepuk pundaknya.
Ia kembali bercerita lagi. Kali ini tentang saudara seagamanya. “Kata bapakku, semua umat Islam itu saudara. Ibarat tembok yang kokoh.” Katanya.
“Iya, kamu benar.” Tukasku singkat.
“Kau tahu? Berapa banyak jumlah orang yang mengaku Islam di Indonesia? Apakah mereka masih saling menyapa ketika di dalam kereta? Apakah mereka masih mengucapkan salam ketika bertegur sapa? Lalu, kenapa mereka mudah mengkafirkan saudara mereka sendiri? Lalu, kenapa mereka tidak pernah mau memanusiakan saudara mereka sendiri?” Ia mengangkat tangannya. Menunjuk ke langit malam yang berhias purnama dan bintang-bintang.
Aku diam saja. Tidak ada keinginan untuk menjawab pertanyaan Seno. Ya, sedikitpun tidak. Karena aku sendiri selalu merasa jauh dari saudaraku yang seiman. Mungkin kalian juga pernah merasakan hal yang sama. Tapi, kalian beruntung masih bebas memilih saudara kalian sendiri. sedangkan Aku, Seno, dan sekelompok kecil manusia disini, tidak seberuntung kalian yang diluar sana.
“Aku harus kembali ke kamar.” Kataku. “Baik, buatkan sajak untukku!” Ujar Seno. Ia membalikkan badannya ke sungai. Aku melenggang ramah menuju kamarku. “Hei, titip salam untuk Julia.” Imbuhnya. Aku tersenyum kecil. Seolah-olah Julia masih mau membaca surat-surat dan sajak-sajak rumpangku.
Aku merebahkan diri di atas kamar tidur kecil berbalut sprai putih. Dan kubiarkan malam berlalu seperti biasa. Untuk bangun di kala pagi buta, dan merajut kembali benang-benang kehidupan yang terurai acak dalam sebuah librium kehdiupan yang singkat.

Bersambung…


No comments:

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...