Wednesday, February 22, 2012

Media Pustaka (HMPII)

Ilmu perpustakaan di Indonesia masih belum mendapatkan tempat yang memadahi di hati pelajar, masyarakat, dan cendekiawan. Salah satu faktor adalah tidak banyak buku-buku yang mengupas masalah perpustakaan dan pustakawan. Sebagai salah satu professional informasi, pustakawan di Indonesia kurang mendapatkan tempat untuk menyebarluaskan informasi. Keaadan ini diperparah oleh lemahnya pengaruh oraganisasi pustakawan di Indonesia, baik di tingkat mahasiswa hingga professional. Selain faktor diatas, minimnya media komunikasi berupa majalah, jurnal, dan website juga menjadi PR yang harus segera diselesaikan.

Berdasarkan hal tersebut, Universitas Indonesia mencoba meramaikan kajian ilmu perpustakaan melalui sebuah program kecil yang berjudul “Indonesia Library Center” (ILC). Program ini secara rutin akan menerbitkan majalah seputar perkembangan ilmu perpustakaan, meluncurkan portal/website dengan konten seputar keilmuan perpustakaan, dan menyelengaarakan berbagai seminar dan kajian. Seluruh rangkaian program tersebut terintegrasi dibawah Himpunan Mahasiswa Perpustakaan & Informasi Indonesia (HMPII) dengan pembinaan langsung dari Perpustakaan Nasional RI.

Berjuang denga Tulisan

Media masa merupakan entitas yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. Baik berupa media cetak maupun elektronik. Peran media dalam mengkonstruksi paradigma masyarakat sangat ampuh. Tidak salah jika ada sebuah adagium,
“Penguasa media adalah penguasa dunia.”  Perkembangan media di Indonesiaa mengalami masa ‘pencerahan’ sejak bergulirnya peristiwa Reformasi yang mengerucut pada tahun 1998. Sejak saat itu nyawa media Indonesia melayang bebas dengan berbagai variable yang beranekaragam. Mulai dari media investigasi sampai berita hiburan (entertainment) telah memeriahkan pentas media nasional.


Perkembangan media yang sangat cepat dan ‘lepas’ memberikan keuntungan dan profit yang menggiurkan. Namun, perkembangan tersebut juga meninggalkan dampak yang negatif, terutama untuk generasi muda. Hal ini disebabkan oleh cepatnya perkembangan teknologi informasi dan minimnya media pendidikan yang komprehensif. Perkembangan teknologi informasi yang menggelembung dengan konten-konten tidak mendidik merupakan corong utama destrukturisasi karakter bangsa. Filterisasi informasi yang tidak berimbang juga merupakan ‘monster’ yang dengan cepat menyerang kepribadian generasi muda Indonesia dalam dasawarsa terakhir. Saat ini sudah jarang kita temui pelajar yang akrab dengan identitas lokal ke-Indonesia-an. Setiap sentimeter media cetak sudah banyak terjejali budaya luar. Setiap inchi media elektronik tak luput dari jeratan kapitalis. Fenomena ini jika dibiarkan, maka akan berkembang biak dengan bebas dan menghancurkan kearifan lokal (local wisdom) yang dimiliki Indonesia di masa depan.

Fungsi media sebagai social control agaknya terfokus pada pemberitaan yang berbau politik-pemerintahan. Prinsip “Bad news is good news” terlalu di-‘dewakan’ oleh pelaku media di Indonesia. Meskipun ada beberapa media yang masih betah mempertahankan kredibilitasnya, namun media-media tersebut kebanyakan harus jatuh-bangun bergelut dengan modal. Hal ini dikarenakan profit yang mereka dapat kurang berimbang dari biaya operasional yang harus dikeluarkan. Politik bisnis media yang berkembang menyimpang tidak lain adalah faktor penentu sebuah media untuk menentukan kiblatnya dalam dunia pers nasional. Karena alasan modal dan kesinambungan karyawan-wartawan inilah, akhirnya banyak media bermetamorfosis dan patuh terhadap kapitalisator. Artinya, “Pemberitaan tergantung Pendanaan.” Dengan demikian, banyak hal sakral yang harus dikorbankan demi pesanan pasar. Penyesatan informasi struktural inilah yang harus segara direduksi dan disingkirkan jauh-jauh dari bumi pertiwi. Karena dampak yang sisematik sudah menggerogoti jiwa generasi muda sejak pecahnya peristiwa Reformasi hingga kini. Sebuah pendekatan baru dalam dunia pers nasional harus segera dimulai dari sekarang. Khususnya di bidang pendidikan yang merupakan dasar pembangunan nasional.
Berdasar pada pemikiran diatas, mahasiswa ilmu perpustakaan dan informasi – yang dalam hal ini bertanggung jawab secara akademis terhadap kesinambungan arus informasi dan ilmu pengetahuan – perlu melakukan sebuah terobosan kecil yang berdampak global guna memenuhi kebutuhan informasi dan pengembangan keilmuan, terutama dalam bidang kepustakaan dan informasi.

No comments:

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...