Friday, August 12, 2011

NILAI WANITA DALAM ISLAM


Oleh, Mang Oejank Indro

Sebagai tanda bukti kekuasaan Allah SWT, Allah menciptakan manusia dalam dua jenis yang berlawanan sebagai jodohnya, ialah jenis pria dan jenis wanita. Meskipun ada lagi jenis ketiga yaitu banci (khuntsa), namun itu merupakan sebagian kecil ataupun merupakan pengecualian.
Berdasarkan hasil penyelidikan para sarjana yang ahli golongan wanita di dunia ini sejak dari dulu sampai sekarang telah melalui tiga periode dengan tingkatan falsafah dan pola fikir yang berbeda. Pertama, golongan yang menghinakan wanita. Golongan ini mengartikan bahwa wanita bukan jenis manusia, tetapi jenis binatang. Karena bukan jenis manusia, wanita pada periode ini diperjual belikan, digadaikan ataupun ditukar-tambahkan layaknya barang dagangan. Tidak lain wanita tersebut dijadikan sebagai alat pemuas nafsu dan tidak mempunyai hak sama sekali, yang ada padanya adalah kewajiban semata. Bila sudah tidak laku dijual, ia-pun dibuang seperti sampah. Kedua, Golongan yang mendewakan wanita.
Golongan kedua ini beranggapan bahwa wanita harus dipuja dan dipuji, dimuliakan dan dihormati, disanjung dan dijunjung. Sebab apabila tidak disanjung kebutuhan untuk melepas nafsu seksual kaum laki-laki tidak dapat tersalurkan dengan baik. Mengingat kebutuhan koitus dan seks adalah kebutuhan pokok, maka wanita harus dijunjung setinggi mungkin. Ketiga, golongan yang menyama-ratakan. Adalah golongan yang mempunyai prinsip bahwa antara laki-laki dan perempuan tidak boleh dibeda-bedakan. Artinya, wanita dan laki-laki mempunyai peranan yang sama, hak dan kewajiban yang sama dan tidak ada selisih sedikitpun.
Dari ketiga golongan tersebut sepertinya sangat melebih-lebihkan dalam menentukan nilai dan kedudukan seorang wanita. Sebagian berlebihan dalam menghina, sebagian berlebihan dalam menyanjung dan sebagian lagi mencoba menentang arus realita yang ada dengan menyamaratakan laki-laki dan wanita dalam segala hal. Bertolak dari ketiga golongan tersebut, masyarakat modern saat ini mungkin sudah menemukan jawabannya. Namun, soal wanita adalah sekarang ini terkait dengan masyarakat. Oleh karena itu membicarakan hal-hal yang terkait dengan wanita senantiasa hangat dan sangat menarik untuk dibicarakan. Dari remaja sampai kakek-kakek terlihat antusias membicarakan wanita. Di dalam Al-Qur’an sendiri Allah SWT telah memberikan perhatian yang sangat khusus kepada kaum wanita. Terbukti bahwa dalam Al-Qur’an terdapat surat AN NISA’ (perempuan/wanita). Sedangkan surat AR RIJAL (laki-laki) tidak ada.

Beberapa hal yang mendorong kenapa wanita selalu menjadi menu hangat sebuah pembicaraan adalah yang pertama, jumlah kaum wanita jauh lebih banyak dari pada kaum pria. Perbandingannya adalah 1:4 (surat An Nisa’ ayat 37). Selanjutnya yang kedua, wanita adalah tiang Negara. Artinya, tegak atau runtuhnya Negara itu sangat tergantung kaum wanitanya. Bila kaum wanitanya sholihah (baik), negaranyapun baik. Sebaliknya bila kaum wanitanya thalihah (jelek), negaranyapun hancur. Dari beberapa keterangan diatas, akan terlintas dalam pikiran kita sebuah pertanyaan : “Mengapa islam mendiskriminasikan antara pria dan wanita?.”

Islam merupakan agama yang tengah-tengah dan tidak setengah-setengah, umat islam adalah “UMMATAN WASATHAN”, yaitu umat yang tengah-tengah. Oleh karena itulah islam tidak menghinakan, tidak mendewakan dan tidak menyamaratakan hak dan kewajiban sepenuhnya antara laki-laki dan wanita. Islam memberikan konsep bahwa wanita juga manusia, bukan jenis binatang ataupun yang lain. Wanita diciptakan Allah dari seorang laki-laki (Adam) dan sebagai teman hidup/jodoh seorang laki-laki, seperti ditegaskan Allah dalam surat An Nisa’ ayat : 1 yang artinya sebagai berikut :
“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kamu sekalian kepada tuhanmu yang telah menciptakan kaum dari jiwa yang satu, dari padanya Allah menciptakan jodohnya dan dari keduanya (pula) Allah mengembang biakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu salin minta satusama lain, dan (perliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah Maha menjaga dan mengawasimu” (An Nisa’ : 1).

Dari surat An Nisa’ ayat 1 tersebut sudah jelas bahwa manusia itu hanya terdiri dari NAFSIN WAHIDATIN (jiwa yang satu) yaitu Nabi Adam As. Dari Adam itu Allah menciptakan Hawa sebagai jodohnya, selanjutnya manusia berkembang biak sampai jumlah yang tidak terhitung sampai saat ini. Firman Allah diatas diperjelas oleh sabda Rosulullah SAW :
“Dari Abu Hurairah R. A berkata, Rasulullah telah bersabda : “ Berwasiat baiklah kamu terhadap wanita, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Maka kalau kamu meluruskannya dengan kekerasan/paksa, pasi dia patah, dan jika kamu biarkan, dia tetap bengkok. Oleh karena itu berwasiat baiklah kamu terhadap wanita”(H.R. Muttafaq Alaih-RIYADIUS SHALIHIN, 148).

Dalam tafsirnya TAFSIR QUR’ANIL ADHIM, Abil Fida’ Ismail bin Katsir Al Kuraisyi Ad Dimasyqi menjelaskan ayat 1 surat An Nisa’ pada Juz 11 halaman 448 : “Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam yang sebelah kiri arah belakang. Saat itu ia sedang tidur. Ketika ia sudah bangun dan menyaksikan disampingnya ada seorang wanita yatu Hawa, dia tercengang. Adam merasa tertarik kepada Hawa, Hawapun tertarik juga”.

Dalam mnghayati ayat tersebut ada dua golongan yang mempunyai pendapat saling bertolak belakang. Letak perbedaan pemahaman kedua kelompok tersebut adalah pemahaman tentang DLILA’ (tulang rusuk), sebagian pihak menafsirkan dengan makna hakiki, dan sebagian lagi menafsirkan dengan makna majazi. Bagi golongan yang memahami makna hakiki, mereka berkeyakinan bahwa Hawa benar-benar diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam As. Sedangakan golongan dengan pemahaman majazi mengartikan Hawa diciptakan Allah tidak dari tulang rusuk yang sebenarnya, itu merupakan kiasan saja/bukan hakikat. Dari kedua golongan tersebut, keduanya dapat dikompromikan. Bahwa Hawa memang benar-benar diciptakan Allah dari tulang rusuk Nabi Adam. Karena wanita pertama diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, maka dia sendiri dan wanita keturunannyapun mengikuti jejak dari apa ia diciptakan. Wanita dikiaskan sebagai tulang rusuk, dimaksudkan agar laki-laki yang berfungsi sebagai jodoh wanita tersebut berhati-hati di dalam meluruskannya, agar tidak patah.

Melihat kenyataan seperti itu, yang harus berbicara adalah hati kita, bukan ratio kita. Artinya, kita sebagai makhluk Allah yang memang sudah menjadi qudrah dan iradah-Nya. Oleh karena itu bagaimanapun kondisi dan situasinya seorang wanita maupun laki-laki harus menerima dengan keikhlasan dan selalu bertawakkal. Dengan memahami ayat-ayat Al-Qu’an dan hadist-hadist Rosulullah SAW, maka kita akan lebih memahami bahwa nilai dan kedudukan wanita disamping nilai dan kedudukan lainnya, dia adalah jodoh orang laki-laki. Jodoh dalam arti istri dan jodoh sebagai partner hidup. Bagi mereka yang menuntut persamaan hak secara mutlak antara pria dan wanita, jelas merupakan harapan yang hampa. Sebab hal itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Karena dalam sebuah firman surat Al Imran : 36, Allah dengan tegas telah menjelaskan.

Bagi mereka yang mempunyai pandangan ekstrime dengan menyebut wanita bukan manusia itupun bertentangan dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya adalah sebagai berikut : “Sesungguhnya wanita itu menjadi belahan kaum pria.” (H.R. Ahmad, Turmudzi dan Abu Dawud dari Aisyah). Dalam istilah jawa, wanita dikenal sebagai “garwo” yang merupakan singkatan dari “sigaring nyowo”, artinya wanita itu belahan jiwa seorang laki-laki.

Dengan demikian, islam tidak menghinakan, mendewakan dan menyamaratakan nilai dan kedudukan wanita dengan laki-laki. Karena antara wanita dan laki-laki pasti mempunyai kelebihan, kekurangan dan kesamaan. Islam tidak mengkultuskan wanita, tidak pula menuntut persamaan hak dan kewajiban secara mutlak. Tetapi islam memberikan nilai dan kedudukan kaum wanita pada proporsi yang sebenarnya, sesuai dengan kondisi fitrah yang dibawa oleh kaum wanita. (Oi)

No comments:

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...