Monday, October 8, 2012

Ngomong Filsafat (1)


Oleh, Oejank Indro
-( 1 )-
Liberalisme: Kebebasan Yang Terlepas


Di dalam Ensiklopedi Britanica 2001 deluxe edition CD-ROM, kata ‘liberal’  diartikan sebagai falsafah politik yang menekankan nilai kebebasan individu dan peran negara dalam melindungi hak-hak warganya. Istilah liberal muncul dalam bahasa inggris pada ke 14, dari bahasa latin Liberale yang berarti class of free man, yaitu salah satu kelas dari orang-orang merdeka atau mereka yang bisa dibedakan dari slave, bisa juga diartikan orang-orang yang independen dari sisi ekonomi.
Liberalisme lahir dari sistem kekuasaan politik dan sosial sebelum masa Revolusi Perancis – merkantilisme, feodalisme, dan greja roman katolik. Dari sudut pandang ideologis, liberalisme dapat dikategorikan sebagai turunan dari falsafah humanisme yang mempersoalkan kekuasaan gereja di zaman Renaissance dan juga golongan Whings pada masa Revolusi Inggris – dengan cara memaksakan hak untuk memilih raja dan membatasi kekuasaan raja – yang menentang sistem merkantilisme dan bentuk-bentuk agama kuno dan berpanderi.
Faham liberal sendiri mengalamai perluasan makna sebagai ‘monster’ yang mencekik golongan proletar sejak abad 18 hingga 19. Sebelumnya, liberal telah di kaitkan dengan kebebasan dalam seni. Tidak salah jika kita mengenal Liberal Art yang memiliki independensi tertentu – blue color atau label class – yang membedakan tingkatan derajar seorang seniman. Mungkin juga kita pernah mendengar istilah Liberal Science yang identik dengan kebebasan mencari ilmu pengetahuan alam seperti matematika, fisika, kimia, biologi, seolah mampu menempatkan individu lebih tinggi daripada penguasa ilmu-ilmu praktis.
Seiring meluasnya revolusi golongan borjuis di Eropa – ditandai dengan munculnya borjuis public sphere abad 18, pemaknaan faham liberal mengerucut pada konteks sosial-politik. Secara garis bersar ide ini lahir dari kepala-kepala golongan borjuasi – tidak jarang mereka berasal dari kalangan Aristokrat. Oleh karena itu, awal perkembangan liberal sanga identik dengan apa yang open minded atau progressive idea, serta diasosiasikan kepada kelompok radikal atau kiri. Karena mendapat banyak dukungan dari masyarakat kelas menengah ke atas, yang tentunya memiliki kedudukan ekonomi tinggi, sehingga liberal mengalami penyempitan pemaknaan dengan sifat individual, confident pada dirinya sendiri, dan dalam perkembagannya lebih dikenal dengan Liberalisme.
Pengaruh sejarah memang sangat kentara dalam perkembangan makna ‘liberal’. Sejak abad ke 19, liberal ‘dipaksa’masuk ke dalam liberalisme yang berorientasi pada sifat possessive individualism. Hal ini kemudian menjadi tolak ukur banyak negara-negara di belahan Eropa, Amerika, dan Asia dalam menjalankan roda pemerintahan, politik dan sosial.
Dalam pemikiran orang-orang Barat, liberalisme berpangkal pada prinsip dasar keabsolutan dan kebebasan yang tidak terbatas dalam pemikiran, agama, suara hati, keyakinan, ucapan, politik, sex, dan kenyataan hidup lainnya. Pertanyaannya adalah, sejauh mana kebebasan individu-individu tersebut terlepas? Apakah ‘kebebasan’ itu sendiri akan membawa kepada kebenaran?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus mundur dan menggali lagi paham dasar pemikiran liberal yang bertumpu pada tiga pendapat yang sederhana – disuarakan oleh tiga pemikir besar, Immanuel Kant, John Stuart Mill, dan Adam Smith. Pertama dari Kant, ia mengatakan bahwa perkembangan manusia pada dasarnya dalah proses pendewasaan diri. Ketika manusia itu sudah sampai pada titik otonom, sapere aude, berfikir bebas sendiri, maka manusia itu sudah melampaui tahapan mendewasakan diri. Kedua, Mill berpendapat bahwa manusia yang rasional (yang berfikir) membutuhkan ruang agar dia bisa menjadi manusia yang kreatif – hal yang tidak berhubungan erat dengan pemikiran Kant. Menurut Mill, untuk menjadikan masyarakat yang konstruktif, manusia harus dibebaskan sebebas-bebasnya – agar genus-genus masyarakat tumbuh dan pemikiran mereka terkonstruksi. Namun, Mill juga memberikan sebuah ‘batasan’ dengan dalih supaya kebebasan manusia tidak terlepas kedalam belenggu – sehingga manusia itu menjadi kehilangan akal sehatnya. Batasan tersebut merupakan sebuah prinsip dasar yang dia sebut sebagai a very simple principle of liberty, kamu bebas sejauh kamu tidak menganggu atau mengancam orang lain. Dalam era modern dikenal dengan istilah live and that live.
Ketiga, Adam Smith. Ia mengemukakan bahwa manusia memiliki kepentingan masing-masing, tidak ada manusia satu pun yang tidak berfikir tentang dirinya sendiri. Meskipun Smith tidak menafikkan manusia sebagai makhluk sosial, ia tetap menerima ketidaksempurnaan manusia. Kesimpulannya adalah, liberalisme saat ini tidak berdasar pada prinsip dasar yang berakar pada kata ‘liberal’. Agaknya penegasian liberalisme terhadap politik-sosial-ekonomi merupakan suatu ke-sangsi-an yang terlepas dari pemaknaan liberal itu sendiri – karena sudah terlepas dari prinsip dasar liberalisme.

***

-( 2 )-
Memahami (lagi) Kapitalisme

Kapitalisme seringkali di identikkan dengan neo-liberalisme. Meskipun secara prinsip dasar keduanya jauh berbeda. Bukan tidak mungkin ‘perkawinan’ antara dua pandangan ini menjadi sangat langgeng di pemikiran modern. Secara etimologi, kapital berasal dari bahasa latin ‘caput’ yang berarti ‘kepala’. Memang hal sngat kohern jika kita membandingkan beberapa istilah yang berhubungan dengan kata capital. Sebagai contoh ‘pendapatan per kapita’ dan ‘capital city’.
Terdapat banyak definisi formal tentang kapitalisme. Salah satunya mengatakan bahwa kapitalisme berarti sistem ekonomi dimana barang dan jasa dijual-belikan di pasar dan barang modal adalah milik entitas-entitas non-negara dari unit terkecil hingga global. Milton Friedman - salah seorang proponen utama kapitalisme modern – merumuskan tiga faktor utama sistem kapitalisme: pasar bebas, kebebasan individual, dan demokrasi.
Pada dasarnya, prinsip kerja kapitalisme yang mendorong secara optimal pencapaian maksimal terhadap komoditas pasar. Hal ini tidak mengherankan karena konteks kapitalisme sendiri selalu diarahkan ke ranah ekonomi. Akibatnya, seorang individu maupun kelompok dipaksa sepenuhnya menempatkan diri sebagai homo economicus yang semata-mata digerakkan oleh rasionalitas instrumental pencapaian laba dan penghimpunan materi sebanyak-banyaknya. Dengan demikian terbentuklah individu-individu sebagai mahkluk yang serakah dan berorientasi ‘memeras’ individu lainnya – yang dipelihara dan disuburkan oleh sistem kapitalisme itu sendiri.
Menggunakan sudut pandang lain, kapitalisme memiliki kekuatan besar dalam memberdayakan suatu negara, tapi mengorbankan golongan bawah dan ‘negara tetangga’. Karena berbasis pada sistem ekonomi, kapitalisme – di suatu negara – dengan mudah mencampuri sistem politik,, sosial, dan budaya. Keadaan inilah yang memicu penafsiran kapitalisme menjadi sebuah ‘kejahatan’. Setidaknya ada tiga jenis kejahatan fungsional kapitalisme. Pertama, The Crime of Acomodation, yaitu kejahatan yang timbul sebagai respon pelaku terhadap dorongan maksimum konsumsi (konsumerisme). Kedua, The of Economic Domination, merupakan kejahatan yang dilakukan oleh pelaku bisnis yang dapat berupa penipuan pajak, eksploitasi buruh, penyimpangan kontrak karya, dan sebagainya. Ketiga, The Crime of Government, yaitu penyalahgunaan wewenang birokrasi, kolusi, korupsi, nepotisme, dan sebagainya.

***

-( 3 )-
Gandhi, India, dan Manusia

Seringkali filsafat India digegasikan dengan Gandhi dan ajaran-ajarannya. Padahal, filsafat India sudah berkembang jauh sebelum masa Gandhi. Secara garis besar, filsafat India sangat lekat dengan masalah keagamaan, etika/moral, dan cara-cara/kiat untuk mencapai keselamatan hidup manusia di dunia dan kelak keselamatan di akhirat. Periodesasi perkembangan filsafat India sendiri terbagi kedalam beberapa masa. Antara lain zaman Weda (2000 – 600 SM), zaman Skeptisisme (600 SM – 300 SM), zaman Puranis ( 300 SM – 1200 M), zaman Muslim (1200 – 1757 M), dan zaman Modern (1757 M).
Masa perkembangan filsafat India yang paling berpengaruh – menurut penulis – adalah zaman Skeptisisme dan zaman Muslim. keduanya merupakan titik pencerahan yang terakumulasi menjadi sebuah faham baru yang dipopulerkan oleh Gandhi. Jadi tidak salah jika Gandhi, India, dan filsafat India memang selalu bergaung – dalam ranah filsafat modern. Pada masa Skeptisisme India, manusia ditarik masuk kedalam kehidupan religius yang ketat dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan dan universal. Ajaran yang kemudian terkenal dengan sebutan Buddhisme – yang diajarkan oleh Gautama Buddha. Ajaran ini memberikan pedoman praktis untuk mencapai keselamatan dan mengajarkan secara nyata bagaimana manusia dapat mengurangi penderitaannya dan bagaimana ia mencapai terang budi yang membawa keselamatan.
Kedua adalah masa Muslim yang dimulai sekitar abad 13. Salah satu tokoh yang terkenal pada masa ini adalah Kabir. Ajarannya tidak jauh berbeda dengan Buddhisme – dalam hal nilai-nilai kehidupan. Perbedaan besar terletak pada peletakkan posisi Tuhan dan ajaran-ajaran ke-Tuhan-an (tauhid). Namun hal ini tidak mengurangi kebebsan beragama antar pemeluk agama lainnya. Berawal dari ‘benturan’ inilah, periode filsafat India modern (1757) berkembang dengan pengaruh yang kental dari agama Buddha, Hindu, dan Islam.
Pada masa modern, filsafat India mulai kembali menggali nilai-nilai klasik yang di barengi perubahan sosial. Tentunya hal ini tidak terlapas dari pengaruh penjajah, bangsa Inggris, sehingga melahirkan tokoh dunia sekaliber Gandhi – yang sejalan dengan pemikiran Ram Mohan Roy – sehingga Gandhi sendiri tidak bisa terlepas dari peng-kasta-an status sosial masyarakat India.

Daftar Rujukan:
Prasetyo, Eko. 2006. Kapitalisme dan Neoliberalisme http://al-manar.web.id/bahan/8.%20EKONOMI%20POLITIK/2.%20Kapitalisme%20&%20Neoliberalisme.pdf (diakses 2 Desember 2011)
Noer Fauzi Rahman. 2008. Menyegarkan Pemahaman Mengenai Kapitalisme Indonesia. http://www.elsam.or.id/downloads/1320201571_Kapitalisme_Indonesia_(_Noer_Fauzi_).pdf (diakses 2 Desember 2011)
Marzuki, Suparman. 2008. Kapitalisme, Keserakahan, dan Kejahatan. http://pusham.uii.ac.id/upl/article/id_kapitalisme.pdf (diakses 2 Desember 2011)
Miswanto. Kumpulan Materi Darcana. http://romonadha.files.wordpress.com/2011/10/darsana-baru.pdf (diakses 2 Desember 2011)
Budi Setiawan. 2010. Sejarah Perkembangan Pemikiran  Filsafat : Suatu Pengantar Kearah Filsafat ilmu http://fpk.unair.ac.id/webo/kuliah-pdf/KUL_FIL_01_FPK.pdf (diakses 2 Desember 2011)

No comments:

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...