Monday, October 8, 2012

Ngomong Filsafat (3)

Oleh, Oejank Indro

-( 1 )-
Multikulturalisme

Multikulturalisme, di dalamnya mengandung dua kata yang bermakna kompleks, yaitu ‘multi’ yang berarti plural, dan ‘kulturalisme’ yang berisi pengertian tentang budaya. Plural memiliki berbagai jenis pengertian karena mempunyai implikasi politis, sosial, dan ekonomi. Sedangkan budaya merupakan hasil dari interaksi manusia yang berlangsung selama manusia hidup di suatu tempat – baik dalam komunitas, kelompok, ataupun masyarakat. Multikulturalisme juga memiliki kaitan erat degan epistemologi. Namun, disini epistemologi multikulturalisme berbeda dengan epistemologi pada filsafat – sebagai asal usul ilmu pengetahuan – dan filsafat sosiologi – yang bertitik pada kehidupan sosial.
Sebagai seorang manusia yang tinggal dan lahir di negara multikultur, penulis memosisikan diri tidak hanya terbatas pada keanekaraman etnis di dalam negeri. Lebih lanjut, multikulturalisme sejatinya tidak membatasi ‘teritori’ variabel pada sebuah negara semata. Di Indonesia, menurut penulis, seringkali multikulturalisme dikecilkan dalam pemaknaan sebagai keanekaraman budaya secara lokal – yang meliputi suku, etnis, dan budaya itu sendiri. Akibatnya, pemaknaan seputar multikulturalisme cenderung dikaitkan dengan budaya ‘tetangga sebelah’.
Terbentuknya pola pikir yang demikian dominan di tengah masyarakat Indonesia, agaknya mengerdilkan luasan makna multikulturalisme yang ditawarkan Charles Taylor dan John Rawls. Bahkan pemikiran tokoh pluralis yang jenaka seperti Gus Dur pun belum mampu diserap oleh masyarakat luas. Dalam hemat penulis, multikulturalisme mendapatkan tempat ‘kecil’ di Indonesia. Berbeda dengan pemahaman filsafat multikultur yang berkembang di belahan Eropa.
Multikulturalisme tidak selamanya memiliki ‘posisi’ baik dalam kehidupan. Salah satu bahaya yang tersimpan dalam paham ini adalah lahir dan berkembangnya paham fanatisme budaya. Apabila paham fanatisme ini dibiarkan tetap berkembang, maka seluruh kebudayaan akan mempertentangkan budaya satu dan lainnya – biasanya berujung pada konflik lintas budaya. Namun, jika digarap dengan baik dan dirawat dengan baik, kultur yang beranekaragam tersebut akan menjadi kekuatan besar bagi suatu bangsa. Gandhi mampu menularkan ajarannya ke seluruh India dan penjuru dunia juga tidak terlepas karena ia memanfaatkan budaya sebagai kekuatan utamanya.

***

-( 2 )-
Filsafat China : Konfusius

Pada buku yang berjudul Konhucu: Penata Kebudayaan Langit, Raymond Dawson menuliskan inti pemikiran konfusius terpadu dalam sebuah sistem sosial, etika, dan intelektual. Ketika unsur tersebut memang menjadi bahan wajib bagi Konfusius dalam menyebarkan ajarannya. Konfusius sendiri menitik beratkan ajarannya pada ranah pendidikan. Hal ini dapat diketahui dari sebuah Kitab Analect/Bunga Rampai 7.2, “secara diam-diam kukumpulkan ilmu pengetahuan. Aku belajar dan tidak pernah bosan. Aku mengajar orang lain dan tidak pernah jemu – karena hal-hal seperti ini muncul secara alami pada diriku.” (Dowson. 1999:14).
Nilai sosial, etika/moral, dan intelektual yang diusung Konfusius hampir mirip dengan apa yang diajarkan Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantara, yaitu ing ngarso sing tulodho, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Dalam hemat penulis, kedua tokoh ini berhasil membangun citra manusia sejati melalui pendidikan.
Konfusius lahir ditengah-tengah anarki sosial dan intelektual. Menurut konfusius, kekacauan dan anarki bukanlah hakikat masyarakat dan peradaban. Ajarannya adalah untuk memlihara pranata sosial dan kultural, serta kembali kepada li (tata karma/etiket/budi pekerti). Terdapat beberapa versi tentang ajaran Konfusius. Ada yang menyebutkan terdapat lima pokok ajaran dan ada pula yang mengatakan enam pokok ajaran. Ke enam ajaran tersebut adalah li (tata karma/etiket/budi pekerti), Tao (jalan/cara), Jen (perikemanusiaan), Chun Tzu (manusia bijak), Cheng Ming (penyesuaian nama), Hsiao (bakti anak). Dari keenam ajaran tersebut, inti ajaran Konfisius adalah Tao, jalan sebagai prinsip utama dari kenyataan. Dengan kehidupan yang baik, manusia menjadikan Tao itu luhur dan mulia.
Karena lahir pada kondisi yang kacau dan menekankan pada ranah pendidikan, ajaran Konfusius, menurut penulis, terlalu ‘elegan’ dan seolah ‘terbelenggu’ dalam satu fenomena, pendidikan. Hal inilah yang menjadi awal terpecahnya ajaran ini ketika diteruskan oleh Mensius dan Xun Zi. Menxius seorang yang idealis sedangkan Xun Zi seorang realis – karena ia eksponen ajaran Konfusius dan pengkritik Mensius. Xun sendiri berpandangan bahwa kodrat manusia itu pada dasarnya jelek. Dia menempatkan fungsi dan hak istimewa negara di tempat amat tinggi, seperti yang dilakukan kaum Legalis, sehingga Xun tidak begitu dihormati di kalangan penganut Konfusianis.
Secara garis besar, filsafat China sejak zaman klasik (600-200 SM) – meliputi Konfusianisme, Taoisme, Mohisme, Legalisme, Ying Yang – melalui zaman Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 SM – 1000 M), Neo-Konfusianisme (1000 – 1900), dan zaman modern (1900-sekarang), filsafat China memiliki tiga tema besar, yang menurut penulis, sebagai pokok pandangan filsafat China. Pertama, harmoni, antara manusia dan sesame, antara manusia dan alam, antara manusia dan surga, menjauhkan extrimisme dan mengagungkan perdamaian bersama.
Kedua, toleransi, terbukanya sikap menghargai budaya dan pikiran. Hal ini terwujud dari sikap pluriformitas budaya China – contohnya adalah dalam hal berdagang dan berguru. Ketiga, kemanusiaan, filsafat China memusatkan perhatian pada manusia. Karenanya, manusia mengejar kebahagiaan di dunia dengan mengembangkan diri dalam interaksi dengan alam dan sesama.

 ***

-( 3 )-
Filsafat Jepang

Hal yang menjadi salah satu ciri orang Jepang dalam berfikir adalah membenarkan apa adanya dunia ini. Maksudnya, bagi orang Jepang dunia fenomena (dunia gejala) yang eksis dalam berbagai ragam gejala, dipandang sebagai sesuatu yang mutlak apa adanya. Bahkan mereka cenderung menolak cara berpikir yang memandang, bahwa sesuatu yang mutlak tersebut berada di tempat yang jauh atau terpisah dari dunia gejala. Dengan demikian, salah satu ciri dalam cara berpikir orang Jepang menampakkan tidak adanya sesuatu yangdisembunyikan dari manusia. Dunia fenomena bagi orang Jepang, adalah mutlak dunia apa adanya, sehingga segala apa yang ada di dunia nyata, seperti: pohon, rumput, sungai, gunung, bunga, dan lain-lainnya dipandang sebagai perwujudan dari Bussho (sifat Budha).
Selain Bussho, Jepang juga menjunjung tinggai berberapa falsafah hidup sebagai filosofi, yaitu: semnagat Bushido, disiplin samurai, budaya keisan, prinsip kai-zen, dan prinsip keiretsu-zaibatsu. Semua nilai tersebut, menurut hemat penulis, merupakan pondasi dasar Jepang selepas kekalahan di Perang Dunia II. Hanya dalam kurun empat puluh tahun Jepang mampu bangkit dan menjadi negara Asia yang memiliki perekonomian kuat dan berpengaruh di dunia.
Secara jelas, filsafat Jepang tidak bertolak belakang dengan filsafat China. Terdapat beberapa ajaran – agama Buddha – yang memang kental dengan kehidupa orang Jepang. Hal ini dapat kita lihat dari Genseshugi (paham keduniawian), Ajio (cinta kasih), dan pengakuan mereka terhdap tabiat manusia yang alami. Kesadaran inilah, menurut penulis, yang menguatkan orang Jepang meskipun hidup dalam ‘goncangan’ bumi berintensitas tinggi.
Melalui film The Last Samurai, masyarakat dunia juga disuguhi – dan di ajarkan – semangat Bushido-Samurai yang identik dengan kedisiplinan, kehormatan, pantang menyerah, dan menghargai sesama manusia. Namun, semangat ini tidak hanya memiliki dampak positif semata. Kehormatan yang menjadi salah satu sifat utama seorang Samuari juga tersalurkan ke dalam kehidupan masyarakat Jepang secara eksklusif. Akibatnya, angka bunuh diri di Jepang sangat tinggi di bandingkan negara-negara lain di Asia. Hal ini dikarenakan keyakinan dan keteguhan menjaga kehormatan keluarganya.



 -( 4 )-
Tan Malaka

Sejarah mencatat banyak seputar perjalanan dan pemikiran sosok Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka. Tulisan pertamanya yang berjudul Parlemen atau Soviet merupakan titik awal kemunculan karya beliau yang lainnya – antara lain Naar De Republic Indonesia (Menuju Republik Indonesia) tahun 1925 dan Madilog pada tahun 1943. Memahami Tan Malaka, menurut penulis, berarti memahami karya tulis beliau. Sebelum Indonesia merdeka, esensi pemikiran Tan Malaka terpusat pada tujuan bagaimana memerdekakan bangsanya sekaligus seluruh tatanan ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Jauh hari sebelum Sukarno menulis Indonesia Menggugat tahun 1932 dan Kearah Indonesia Merdeka Hatta tahun 1930, karya Tan Malaka Naar De Republic Indonesia sebagai sebuah konsepsi menuju Indonesia merdeka diterbitkan pertama kali di Kowloon, Cina, April 1925 – semasa pembuangannya.

Sebagai seorang pemimpin partai komunis, Tan Malaka seringkali berseberangan pemikiran dengan tokoh komunis lainnya. Terbukti ketika Kongres Koomunis Internasional (Komintem) IV pada tahun 1922, Tan Malaka dengan tegas menolak pandangan Komintern untuk memusuhi Pan Islamisme. Selain itu, Tan Malaka juga menolak pemberontakan PKI terhadap Belanda pada tahun 1926 yang mengakibatkan 13.000 pejuang politik ditangkap dan dihukum. Kejadian ini juga berakibat pada larangan Belanda terhadap aktivitas PKI.
Jika melihat sejarah dan masa lalu Tan Malaka yang berdarah minang, didukung dengan lingkungan yang agamis, tidak menutup kemungkinan hal ini menjadi dasar pemikirannya. Meskipun titik balik perkembangan pemikirannya berawal dari masa studinya di Rijkweekschool di kota Haarlem. Pengaruh sebuah media radikal Belanda Hel Volk memicunya untuk mengetahui lebih dalam tentang Revolusi Bolsyhevik Oktober 1917. Kejadian ini membuatnya menempatkan dirinya sebagai seorang Bolsyhevik.

Nah, berbekal pengetahuan yang ia dapat dari pengalaman hidup di Belanda itulah, Tan Malaka menasbihkan dirinya sebagai seorang yang harus melakukan perubahan untuk negaranya. Bahkan ketika kembali ke Indonesia, ia meninggalkan kemewahan yang ditawarkan Belanda dan memilih hidup sebagai Bolsyhevik, mendirikan sekolah, dibuang dan dikejar-kejar polisi Belanda hingga ke berbagai negara, mengikuti konferensi Komunis Internasional IV, bertemu Dr. Sun Yat Sen, menhadiri Konferensi Buruh Angkutan Pasifik tahun 1924, dan akhirnya menetap di Rawajati, di dekat pabrik sepatu Kalibata Clilitan Jakarta. Delapan bulan dari 15 Juli 1942 sampai dengan 30 Maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, beliau menulis Madilog.
Daftar rujukan:

_______
Daftar Rujukan:
Alie, Marzuki. 2010. Pemahaman Multikulturalisme untuk Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dalam Bahan Pembicara Untuk Dialog Kebangsaan pada acara Dies Natalis Universitas Negeri Surabaya. http://www.marzukialie.com/upload/arsip/123_UNSurabaya.pdf (diakses tanggal 15 Desember 2011).
Anwar, Siti D. 2004. Cara Berpikir Orang Jepang: Sebuah Perspektif Buddhisme. dalam Jurnal Makara, Sosial Humaniora. Vol. 8/3. Hal. 1120-125. Depok: Universitas Indonesia.
Darini, Ririn. 2006. Pendidikan Dalam Pemikiran Konfusius. http://eprints.uny.ac.id/2998/5/PENDIDIKAN_DALAM_PEMIKIRAN_KONFUSIUS.pdf (diakses tanggal 15 Desember 2011).
Dawson, Raymond. 1990. Konghucu: Penata Budaya Kerajaan Langit. Jakarta: Temprint.
Hanum, Farida. 2005. Multikulturalisme Dan Pendidikan. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/farida-hanum-msi-dr/multikulturalisme-dan-pendidikan.pdf  (diakses tanggal 15 Desember 2011).
Nurhayati. 2009. Jadikan Nilai-Nilai Bangsa Sebagai Pembangkit Semangat Kerja. http://lib.ugm.ac.id/data/pubdata/pusta/nurhayati.pdf  (diakses tanggal 15 Desember 2011).
Syaifuddin, A. Fedyani.2006. Membbumikan Multikulturalisme Di Indoensia dalam Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI. Vol. II. No. 1. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara.

No comments:

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...