Monday, October 18, 2010

Berdagang Birahi : Pubersitas Agama, Tradisi, dan Budaya

 Agama adalah way of live manusia secara universal. Mustahil setiap agama tidak mengatur tindak-tanduk kebutuhan manusia, terutama seks. Islam menjelaskan dengan Al Qur’an dan Sabda Rosulullah SAW, Kristen dengan Al Kitab, dan kitab Manu bagi agama Buhda/Hindu.[1] Tradisi dan budaya ketimuran manusia Indonesia juga menjadi “corong” perkembangan khazanah seks manusianya. Selain itu, Multikulturalisme yang “megah” di tanah Indonesia juga menyiratkan banyak tafsiran tentang seks yang Indonesiana.  Dinamika manusia Indonesia di atas tentu tidak sekongyong-konyong[2] membentuk suatu social group. Dalam ranah ini, peran “pubersitas” agama, tradisi, budaya turut andil dan menjalankan fungsinya di dalam pembentukan kelompok sosial masyrakat. Bagaimana agama, tradisi, dan budaya merekonstruksi dan memengaruhi (influencing) seksualitas manusia Indonesia?
Manusia sebagai mahkluk sosial selamanya akan “dipenjarakan” dalam tiga dimensi kelompok seksualitas yang berbeda[3]. Pertama, kelompok yang berlebih-lebihan, yaitu kelompok yang mendewakan seks. Msyarakat dunia mengenal dengan “sindiran” masyarakat free sex. Kelompok ini berpandangan bahwa seks sangat bebas – tanpa batasan etika dan keagamaan – dengan orientasi seks sebatas kepuasan semata. Kedua, kelompok yang teledor, kelompok yang “menajiskan” seks – meskipun mereka tidak terlepas dari kebutuhan seksual – dan menganggap seks lebih kotor dari buang air. Pandangan mereka tentang seks hanya terpaku pada dogma agama secara subtantif-ekslusif, sehingga “ngelantur” dari realitas dan tuntunan keagamaan (syari’at). Ketiga, kelompok garis tengah, adalah kelompok yang memahami seks dengan kesadaran fundamental terhadap agama secara utuh – terutama agama Islam dan Kristen. Kelompok ini membredel kajian keagamaan, tradisi, dan budaya secara jernih dan rasional.
Agama, tradisi, dan budaya memiliki kaitan erat dalam pembentukan struktur kognisi masyrakat. Seks sebagai kebutuhan dasar manusiawi terlalu gamblang jika dijelaskan dengan pendekatan psikologis-biologis. Kajian dari angle agama, tradisi, dan budaya Indonesia merupakan “ritme” baru dalam menengahi problematika “perdagangan birahi” yang meroket setiap saat. Ketiga kelompok masyrakat di atas adalah hasil “pubersitas” agama, tradisi, dan budaya yang benar-benar Indonesia. Adalah tugas manusia itu sendiri dalam hal menentukan the way of life mereka untuk menghindari dampak fisik, perilaku dan kejiwaan, sosial, ekonomi, dan tentunya dampak keagamaan.
Mang Oejank Indro @2010

Daftar rujukan :
Asror, Mustaghfiri. 1983. Emansipasi Wanita: Dalam Syari’at Islam. Semarang : CV. Toha Putra.
Jusuf, Ahmad. 2006. Bahaya Seks Bebas pada Remaja: Tinjauan Aspek Medis dan Islam. Dalam makalah yang disajikan pada penyuluhan bagi siswa-siswi SMA Diponegoro Rawamangun Jakarta, Kamis 28  Desember 2006
Tolani, Tofan, 2004. Cinta, Seks dan Problematikanya, Jakrta: Restu Agung.
Umar, Abu, B. 2006. Sutra Ungu, Solo : Rumah Dzikir.


[1] A. Mustaghfiri : 1983
[2] Mendadak, tiba-tiba.
[3] Abu Umar : 2006

No comments:

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...