Monday, September 9, 2013

Revolusi-Revolusi di Rusia


Dari Pemberontakan Desembris 1825 hingga Revolusi Oktober 1917

Awal abad XIX merupakan titik balik bangsa Rusia dalam proses mencari “Ide Rusia”. Pada masa ini, gerakan revolusioner mulai bermunculan. Kalangan yang menjadi motor pergerakan revolusi ini berasal dari berbagai macam profesi, terutama mahasiswa dan buruh. Kelompok pergerakan ini kemudian dikenal dengan sebutan Raznochintsy. Situasi ini kemudian menjadi masa revolusioner dalam sejarah Rusia. Pada masa ini, isu yang berkembang adalah anti-Tsar, anti-Feodalisme dan perbudakan. Pada umumnya pergerakan revolusi dilakukan dengan menyebar literatur-literatur subversif dan aktivitas ilegal lainnya.

Pemberontakan Desembris 1825
Gerakan ini merupakan perlawanan pertama yang berusaha menentang kekuasaan Tsar. Pihak yang terlibat pada gerakan ini adalah perwira muda yang melakukan perlawanan di alun-alun ibu kota Rusia, St. Peterburg. Meskipun berhasil menguasai kota tersebut, gerakan ini tidak bertahan lama. Namun demikian, gerakan ini merupakan pemicu gerakan-gerakan revolusioner lainnya di Rusia. Para ahli sejarah menyatakan bahwa kegagalan gerakan Desembris 1825 disebabkan oleh tidak adanya konsep dan pemimpin yang jelas. Hal lain yang menyebabkan gerakan ini gagal adalah pandangan yang dibawa bersifat kebarat-baratan.
Pada masa ini, banyak golongan/kaum Marxis untuk memulai gerakan dan penyebaran ideologi demokratis yang menyasar mahasiswa dan kaum buruh. Penyebaran faham Marxisme diantaranya adalah P.L. Lavrov (1823-1900), P.N Tkachev (1844-1885), G. Plekhanov (1857-1918), Pavel Akselrod (1850-1928), dan Lenin (1870-1924). Lavrov dan Tkachev mencanangkan pembutukan kelompok minoritas yang profesional guna melakukan pergerakan atas nama rakyat. Plekhanov mendirikan kelompok Marxis dengan nama “Pembebasan Pekerja” di Jenewa pada 1883. Ia meramalkan bahwa kapitalisme akan melahirkan golongan proletariat – dan akan memimpin revolusi. Oleh karena itu, ia menganggap perlu sebuah revolusi borjuis demokrat guna menegaskan tujuan kelompok revolusioner.

Revolusi 1905-1907
Setelah kalah dalam peperangan melawan Jepang (1904-1905), Rusia kembali diguncang peristiwa revolusi Borjuasi-Demokrat. Peristiwa ini diawali dengan serangkaian kejadian tragis yang memakan banyak korban jiwa. Diawali dengan peristiwa di St. Peterburg yang melibatkan kelompok Tsarisme dan kelompok Revolusioner. Peristiwa yang dikenal sebagai “Minggu Berdarah” tersebut memicu berbagai aksi mogok massal di beberapa kota besar. Tujuan utama revolusi ini selain merombak sistem otokrasi dan penuntutan pembentukan republik demokrasi, juga melanjutkan cita-cita pergerakan sebelumnya, yaitu penghapusan kelas bangsawan, tuan tanah, dan feodalisme – yang berlaku pada masa Tsar.
Tahapan revolusi ini terbagi menjadi tiga bagian penting. Seperti dijelaskan Fahrurodji (2005) dalam buku Rusia baru Menuju Demokrasi: PengantarSejarah dan Latar Belakang Budayanya, tiga tahapan tersebut adalah:
Pertama, maraknya pemogokan dan demonstrasi di berbagai kota di Rusia, serta tertbentuknya – pertama kali – Dewan Perwakilan Pekerja di kota Ivanovo-Voznesenks.
Kedua, tahap ini ditandai dengan peristiwa mogok nasional pada bulan Oktober yang kemudian diikuti keluarnya Manifesto Tsar (17 Oktober).
Ketiga, tahap ini ditandai dengan terjadinya dua kali pembentukan Dumai Negara pada 27 April – 8 Juli 1906 dan 20 Februari – 2 Juni 1907).

Revolusi Februari 1917
Revolusi ini juga dikenal sebagai revolusi Borjuis-Demokratis 1917. Kondisi krisis dari kalangan bawah dan kalangan atas menyebabkan revlousi ini bergejolak. Banyak ahli percaya rvolusi ini memiliki peran yang penting bagi tatanan demokrasi di Rusia. Pasalnya, revolusi ini mengakhiri kekuasaan monarki Rusia serta memutus dominasi kekuasaan Dinasti Rumanov.
Pecahnya revolusi ini ditanadi oleh peristiwa yang terjadi pada 22 Februari, yaitu pemberhentian sekitar 30.000 pekerja di Petrograd. Kejadian tersebut mengakibatkan pemogokan besar-besaran tanggal 23 – 25 Februari, hal ini memicu aksi pembelaan dari para tentara – yang  seharusnya menghentikan pemogokan – untuk bergabung dan memihak para pendemo.

Akibat lain dari revolusi ini adalah semakin kentalnya konfik kekuasaan di Rusia. Pada masa revolusi kekuatan pemetintahan di Rusia terpecah menjadi dua kubu yang bersebrangan, yaitu antara Pemerintahan Sementara melawan Dewan Pekerja yang didukung Prajurit Petrograd. Kondisi dualisme kekuasaan/kekuasaan ganda (Dvoyevlastie) ini berakhir ketika terjadi peristiwa demonstrasi yang dilakukan oleh para tentara, pelaut, dan pekerja pada 3-4 Juni 1917. Akhir dari demonstrasi ini adalah terbentuknya Pemerintahan Koalisi Kedua yang dipimpin oleh Aleksandr Kerensky.

Revolusi Oktober 1917
Aktor utama yang menjadi motor penggerak revolusi ini adalah Lenin. Revolusi ini dimulai dengan cara penguasaan alat-alat vital negara yang dilakukan oleh golongan Bolshevik lalu dilanjutkan dengan penyerangan Istana Musim Dingin – yang dianggap sebagai lambang kekuasaan Pemerintahan Sementara. Tanggal 10 Oktober 1917, Komite Sentral RSDRP(B) mengeluarkan resolusi mengenai pemberontakan bersenjata yang berujung penentangan dari tokoh-tokoh komunis. Namun, penentangan tersebut dikalahkan oleh Lenin yang menegaskan pengambilan kekuasaan dengan kekuatan senjata. Peristiwa penting yang terjadi selama revolusi ini adalah Kudeta Petrograd dan Sidang Soviet seluruh-Rusia II.

Kudeta Petrograd, poin penting peristiwa ini adalah tuntutan rakyat yang berisi seputar pembentukan perdamaian yang demokratis, penghapusan kepemilikan tanah, pengenalan kontrol pekerja atas produksi, dan pembentukan Pemerintahan Soviet. Sedangkan Sidang Soviet seluruh-Rusia II mengahilkan pembentukan Pemerintahan Soviet / Soviet Komisaris Rakyat (SNK) yang dipimpin Lenin.; pembentukan Komite Sentral Eksekutif Seluruh Rusia (VtsIK) dengan ketua Lev Kamenev. Selain itu, Sidang ini juga melahirkan dua dekrit menyangkut tanah (zemlya) dan dekrit perdamaian (mir).

Daftar Rujukan:
Fahrurodji, Ahmad. 2005. Rusia Baru Menuju Demokrasi: Pengantar Sejarah dan Latar Belakang Budayanya. Jakarta: Yayasan Obor.
Perrie, Maureen. 2006. The Cambridge History of Rusia Vol. I From Early Rus’ to 1689. Cambridge: Cambridge Universitiy Press.
Suny, Ronald Grigor. 2006. The Cambridge History of Rusia Vol. III The Twentieht Century. Cambridge: Cambridge Universitiy Press.
 

No comments:

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...