Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Thursday, November 24, 2011

ISLAM

Indahnya Menjadi Hidup
Seyogya Pendar Atas Luas Putih
Lintasi Arah Bersembah Ke Atas
Alam Terbawa Beriring Arwah
Menyudutkan Iman, Mendengar Tuhan

Tuesday, November 22, 2011

Kangen Tuhan (3)

menahan diri sering bergelayut
membui hasrat menjingga suri
antarkan baikku dalam perangaimu
asingkan kemelut berawan pekat perih
       
         sudahkah kau ingat
         belum?
         terpaksakah kau sujud
         benar?

    jangan berdiri dan mendominasi
    terjengah selagi rindu meninggi
    menghela nafas sesak lagi
    kangen blaian indah dalam sunyi

menjerit. memaki-maki diri tanpa peduli air mata membanjiri.
sedangkan lebar dada dikuasai bejat petingaii tari-tarian setan duniawi
 
    penggal deru keji dan benci
    hei... siapakah tentara tak bermoral
    hunus pedang! tumpahkan darah merah
    aku memasalahkan iman. bukan perang.

semoga selamanya perang itu mengerikan
semoga selamanya iman tertinggikan

Kangen Tuhan (1)

aku terkadang bersemayam
memandangi hujan yang reda kemudian
menangisi pelangi yang pergi membuyar

aku terkadang menahan
meneliti jerih dan payah bertuan
selagi aku ingin. itu yang termuatkan

aku memang meninggi senyam

terbalik dungu dalam kawanan

hampir saja tak kurasakan beban

terimakasih Tuhan!
Tuhan, sampai jumpa, lagi!

_____
Oejank Indro
Jakarta, 25 Oktober 2011

Saturday, August 20, 2011

Dongeng Surgaku


Dongeng Surgaku



pagiku redup
berulang redup
tangisku silau
menggulung ufuk


                pagiku cerah
                membara jingga
                tertawa gembira
                menjala aura

kau, bukan
               
                iya, aku

aku matikan lampu
aku hirup asap bakau
sandarkan bahuku
aahh..

                kini waktu membantuku
                menari dan menjelajah. tak ada haru
Manja!
                kau pikir tidak jenuh?
                aku melempar malu. tak ada haru

parasmu itu
luapkan titik benalu
tusukku tanpa porsi dulu
                manja..!
kenali murkamu
kau..!
Iya, aku
Tuturku menjubal kala fajar
Redupkan harum. Kau tidur
Tidak, bukan!
Bayangmu sesalkan sinar
Matikan tanah yang subur
Emm.. Iya, aku!
Tapi,..
Kau berang dengan mereka
Mencari kambing tak berbulu
Mengadu bak kancil merah
Dan, menangis dipojok pintu
Kau, kau tahu?
Flamboyan mengharu sejuk
Mengusir garis-garis pantai sejuk
Pikirmu aku segan terbujuk?

Tak luput.
Tubuhmu indah, memang indah
Senyummu merekah, mengaliri buih-buih mesra
Kadang berguru pun tak cukup
Gombal
Kucrut
Hey..!
Tanpamu, Aku..
Curut

Merebahlah, tunduk
Kau sudah banyak kuguyur
Tubuhmu itu suci ketika..
Lahir?
Kau mujur dan kau..kau..kau..!
Rumahku bertingkat
Jubahku berhias emas
Lihat..! kini aku waras
Kau.. cobalah lirikkan matamu
Lepas..!!
Merebahlah, tunduk.
Patahkan kakimu
Letakkan keningmu, tunduk!
Seandainya..
Diam..!!
Wajahmu tak berpaling
Biarkan..! Tunjukkan!
Aku… Aku..!
Guraumu bukan untukku
Wajahku tak sadar diduniamu
Suaraku mengringi nadimu
Mataku melebur, terbang, berkejaran di nafasmu
Kau! Hidup di duniaku
Tak pernah kau hadir!
Candamu itu, sampah!
Hanya senangmu, itu mauku.
Diam..!!
Sepihak kau suruh aku diam
Guratan dahimu saja, huh..
Aku terkesan.  Jancuk!
Merebahlah, tunduk
Ceritamu tak lebih busuk dari Fir’aun
Kejimu, huh! Pelajaranku.

Merasa sesal dalam-dalam. Terpikat jarah. Kau tak jera.
Kau menyamun ruang putih. Aku melamun dalam sepetak ladang gelap.
Kau berapi-api membawa perisai besi. Menghunus pedang bertulis “BUI”
Dan, kau menghela nafas. Mengusap dahi dengan air yang kau sebut “SUCI”
Aku tahu
Tanganku bergetar menapak tanah yang bernisan
Dadaku terkoyak setelah sekilas meratapi
Sifatmu
Iya, aku!
Kau mendosakan kebaikanku
Kau menghitamkan padang yang kuputihkan
Kau turunkan kedinginan yang panas
Kala manusia-manusia itu naza’
Ha ha ha ha ha
Iya, aku
Kau hanya ingin sujud kepada Adam
Adam yang aku bius dengan kelembutan
Kelembutan yang terpisah dari rusuk kirinya

Merebahlah, tunduk!
Surgaku bukan surgamu
Nerakaku itu surgamu
Kilatan cahaya dan harum yang tak kukenal itu.
Disanalah tempatku.
Matamu tak mampu lagi menahan jampiku
Kau hanya menyiksa batinmu di duniamu
Hanya untuk dunia mereka yang tabu
Mengatasnamakan surga ditelapak kaki ibu

Akulah ibumu.
Bukan, dia ibuku.
Ibuku tidak bertaring dan berbulu.
Ibuku membelai indah malam-malamku.
Kenapa kau diam?
Ingat saat kau menjambak rambutnya yang memutih?
Ingat saat lenganmu menyambar pipinya yang keriput?
Ingat saat kau terbahak mendengar namanya terlacur?
Ingatlah itu, kau senang bukan? Siapa ibumu sekarang?
Akulah ibumu.
Merebahlah, tunduk!
Ibuku itu,
Ketika aku merengek tidak memperoleh permen.
Aku masih menerima kecupan dikening kecilku, tanpa dia lesuh.
Mengelus bekas lukaku. Dan, tak peduli jika terluka karenaku.

Ibuku itu,
Ketika malam bersujud dengan do’a yang berkejaran.
Hanya untuk menghilangkan dosa terkesil disekujur tubuhku.
Sekalipun aku berkeras untuk tetap membela temanku.

Ibuku itu,
Orang yang tidak punya malu.
Hanya untuk menyuapiku sepiring nasi dan seteguk air putih.
Dan, menabur sekeping koin dalam saku celanaku.

Ibuku itu,
Manusia yang menyiangi sekujur tubuhku tanpa letih.
Ketika urat nadinya mengecil dan hampir mati.
Terlebih ketika kening dan kakinya mulai melepuh.

Ibuku itu,
Ketika aku dewasa.
Sedikitpun tidak memanja untuk mengharap budi.
Ia rela melihatku berdiri dari tempat tidurnya. Meneteskan air mata kasih.
Lalu pergi tidur dengan tiga lembar kain putih yang terikat rapi.


________
Depok, 20 Agustus 2011
Mang Oejank Indro

Saturday, July 9, 2011

Mimpi

Tuhan
Aku Bermimpi
Bermimpi lagi
Ahahahaha... Aaaaa..  Uuuu...  Aaaaa...

---------
Depok, 8 Juli 2011
Oejank Indro

Sasmita Awamarta


                                         By, Mang Oejank Indro

Merangkak naik
Terjatuh tanpa beban

Banjiri kota-kota
Belahan bumi, tak Nusantara
Pamerkan                                                                                                   
Tunjukkan

Jutaan aksi persembahan
Suara kearifan

Bersandarlah. Buka lagi kantung imajinasimu.
Letakkan dalam-dalam. Jinakkan aurora dan fantasi.

Jual saja.

Bungkus dahulu. Rapikan lubang-lubang cacat.
Komersialkan. Sudah terbuang.

Cucuku tak mengenalmu lagi.

Kejenuhanku terbungkus rapi
Keningku memanas
Tak peduli
Menghambar percuma

Menggertak tak berpeluh
Pongah kepalaku. Hening tak menang
Jengah naluriku. Parah suar dan koar

Dan terbayang katalog keindahan
Terbuang jauh.
Tergadaikan

Bukan Bushido yang menggantung tanpa ruang
Tak pula sejajar dengan sempoa kehidupan

Menggiling derap tabuh-tabuhan
Mendongak mozaik asongan
Menggigil dalam retorika karya-cipta
Dalam gulungan karya jua

Helakan nafas sejenak
Banyak sudah pseudonym jalanan
Berpulang rangka penghujanan ketaatan


_________
Oejank Indro
-Puisi ini mendapatkan medali Perunggu dalam ajang OIM (Olimpiade Ilmiah Mahasiswa) FIB UI 2011-
O.i @ 2011

Diamnya Ismail Marzuki


Diam
Kataku terbang menjalar
Ismail Marzuki mengukir kelam
Guratannya menyala dalam-dalam
Sekedar berpose dalam keharibaan

Diam
Kataku melingkar pekat terbuang
Sebesar tingkah ilusi sajak jalanan

                  D
                   i n i   r i n d u K u    M e n a n t a n g
                  a                      e
B u n g K a m Kau...             b
            a                                i
            u                                 a
                                                  s
                                                    a
                                                      a
                                                        n

Diam
Saat ini kau tetap diam
Aku juga terkantuk menepi pinggir jalan
Menyapu cerita penyair terlegendakan
Dia masih diam. Dan dia selalu diam

Mencengang dibalik tiang
Menatap ramah. Lurus ke jalan
Sajakmu. Rinduku. Kenangku


Mang Oejank Indro
1 Juni 2011
Jakarta, TIM

Ada Indon-nesos


Ada banyak oase terbentang. Ada banyak suara terpenggal geram. Ada juga sabetan pena haram. Ada lagi pijakan beranak setan. Ada pula tetesan bersua menggeram. Ada warna menghitam hilang. Ada jerit memekik tajam. Ada jurang menari bertatapan. Ada lengan terombang bergelayutan. Ada kuasa bertabrakan uang.

Ada-ada saja

Ada panglima sempoyongan menahan beban. Ada agama teruntuk akuan Tuhan. Ada sayembara bersimbah pertapa. Ada dungu bertahta kuasa. Ada tanya bertanda seruan. Ada silsiilah berpangkal fitnah. Ada tanah mendengkur goyah. Ada ombak menendang pecah. Ada gunung terbangkan bara. Ada biji bertunas rendah. Ada bayi terkikis sengaja. Ada rumput berbau pestisida.

Ada-ada saja.

Adalah aku. Adalah kamu. Adalah itu. Adalah anu. Adalah dia. Adalah kita. Adalah bangsa. Adalah Nusantara. Adalah Indonesia. Adalah negara. Adalah Bahasa. Adalah semua.

_____
Depok, 4 Juni 2011
Oejank Indro

Huh!


Selama ini dia bersipu
Menelanjangi diri seolah bajunya sudah tak wangi
Selama ini dia menepi
Mengasingkan diri seperti kabilah garis kiri
Selama ini ia bermimpi
Mengapa ia mati bukan sebagai permaisuri

Saai ini dia mengilhami
Mengaliri asi putih kaya nutrisi
Saat ini dia menggurui
Menjejali busung dan rongga tak berisi
Saat ini ia bermimpi
Mengapa permaisuri berebut suami

Asu

Aku

Anu

Bertatap sering. Hah! Tua kering. Ludah basin. Hoplah! Hoplah lagi.
Eureka! Eureka! Kau juga! Aku juga!
Mati pasti


_____________________
Oejank Indro
4 Juni 2011
-saat menatap meja bergambar wajah wanita muda-
Depok, Jawa Barat

Sunday, July 3, 2011

Kupunya Punyamu Jiwa Jelatah

Tanganku memucung melebar dengan sayap lima
Menyapa sumpah-sumpah yang tak kunjung reda
Buaian bui terkatung-katung lemah menyerah
Menengadah dibalik lembaran pundi haram

Kanan dan kiri
Atas dan Bawah, lagi
Terkebiri riangnya tirani
Terkubur subur bak pandemi

Disini tak berdiri
Disana sekedar sampah
Jelatah merayap mengais rejeki
Baginda berlomba menyapa tahta

Sakit tukar sulit
Miskin tukar aking
Bodoh tukar sinting
Pintar tertukar asing

Aku muda kini
Kau mati nanti
Kami warisi sulitmu
Kalian matilah dulu

Maaf aku lantang
Egoku makin matang
Siaplah untuk ku tantang
Ajalmu akan datang

Aku muda kini
Sebentar lagi kau mati
Wariskan Negeri ini pada kami
Kalian pasti ku ampuni

Maaf aku kasar
Sadarku lebih pintar
Yakin kau gusar
Segera kau akan terkapar


-----
Serpong, 3 Juli 2011
Mang Oejank Indro

Takut Tuhan


Aku takut Kau menukar imanku
Aku takut
Benar-benar takut

Aku mau Kau!
Kau yang satu
Kau yang kasih
Kau yang Pengasih
Kau yang abadi

Tidurkan aku sebagai hamba-Mu
Aku tak mau jauh dari-Mu
Sungguhpun Kau tak pernah jauh
Tak lebih jauh dari hidungku

Aku mau Kau Tuhanku
Aku mau Kau! Allah....
Sujudku
Tobatku
Hidupku
Surga-Mu..

-----
Puisi ini saya dedikasikan untuk seorang sahabat saya, Nur Fidini (1992-2011). Selamat jalan sahabatku Nur Fidini, bahagialah disana. Doaku menyertaimu. Aku hanya tahu kebaikanmu. Semoga Allah SWT menerimamu sebagai hamba yang baik dan patuh. Seperti aku mengenalmu..
 -----
Serpong, 3 Juli 2011
Mang Oejank Indro

Saturday, July 2, 2011

SATU





a
n
1



h


n


u



o

T




k

i
a
d
A

t




l

u




l

r




a

n

k
i
a
h

o
d
u





e
h
u
t
i
n
t
a



Karya : Mang Oejank Indro
-----Pekalongan, 13 juni 2011

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...