Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Monday, October 8, 2012

Seniman itu Tiang Dunia


Oleh, Oejank Indro

Mendengar kata seniman, sering terlintas bahwa orang tersebut adalah penghasil poduk kesenian. Seni yang bagaimana? Hal itu yang sulit untuk dijawab. Membicarakan seniman dalam perspektif filosofis bukanlah hal mudah. Karena hal ini mendekati secara langsung ruang pribadi seniman, dan seniman itu beranekaragam dan jumlahnya sangat banyak. Disadari atau tidak, dunia memang penuh dengan seniman. Seorang anak berusia sepuluh tahun mampu melukis mawar, lalu lukisan itu memberikan kenikmatan bagi orang yang melihat, dan seketika itu orang menganggap karya itu hasil dari seorang seniman. Apa benar demikian? Jika benar, bukankah seorang perancang pakaian, arsitek, pendongeng, politikus, hingga tukang cat keliling, memiliki keahlian berkesenian. Dalam artian menghasilkan produk seni dengan nilai estetik tertentu – dengan penikmat estetika masing-masing. Sampai disini, apakah seniman itu yang ada dalam benak Anda?

Secara sadar dan tidak sadar, setiap hari kita selalu berinteraksi dengan hasil aktifitas berseni. Mulai dari sikat gigi, bak mandi, piring, lemari, kunci, sampai pada hubungan suami isteri. Nah, bisakah kita mengatakan itu semua adalah hasil seorang seniman? Atau hanya produk komersil dengan beberapa inovasi yang bertujuan meningkatkan keuntungan individu dan kelompok tertentu saja? Jika demikian, apa bedanya seniman dan bisnisman?

Dasar pembeda antara seniman dan bukan seniman dalam pandangan Sujiwotejo, adalah pandangan seniman itu sendiri. Seorang dapat berpikir berbeda dengan masyarakatnya. Artinya, jika masyarakat memandang bahwa lukisan Lucien Freud – berjudul Nu Couche De Dos – itu vulgar dan tidak indah, lantas seniman juga berpandangan sama, mengapa lukisan tersebut memiliki nilai jual yang tinggi? Kenyataannya, seniman tersebut tidak memperkaya apa-apa.

Kekhawatiran dunia seni terhadap nilai-nilai etis sebuah penghadiran karya seni sering diperbincangkan. Disini posisi seorang seniman terhadap karya seninya dilempar ke masyarakat untuk dinilai dari berbagai sudut pandang. Misalnya, ketika kasus kelaparan dan kekeringan masih banyak di sebuah daerah, lalu seorang seniman menampilkan aksi dengan media puluhan telur dan berliter air bersih, keindahan yang dihasilkan tentu bertolak dengan realistas sosial – yang dekat dari seniman itu sendiri. Kasus lain ketika seorang penari melakukan aksi berbahaya dan mati saat beraksi, apakah ini bisa dikatakan etis? Jika hanya untuk menyakiti diri sendiri, prioritas etis atau estetis yang menjadi unsur apresiasi oleh masyarakat?

Jadi, seniman dalam artian khusus memiliki caranya sendiri dalam berkesenian – tentu saja ‘seni’ yang dihadirkannya berdampak pada tatanan sosial masyarakat. Seperti kisah yang dihidupkan Franco Rabelais melalui tokoh Gargantua dan Panteugral yang memberikan motivasi besar masyarakat Prancis waktu itu untuk bangkit. Atau tokoh Punakawan yang membekas dan menyalurkan nilai-nilai sosial hingga saat ini di Indonesia. Seniman itu, dalam artian luas, bisa dikatakan penyeimbang dan pengatur irama kehidupan manusia – yang selalu rindu akan keindahan – dalam bermasyarakat. 

Wednesday, May 4, 2011

Slametan Politik: Strategi dan Tradisi Mengubur Korupsi


Oleh, Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com

Pada sebuah jurnal yang berjudul “Slametan: Solidaritas dan Ritualisme Orang Jawa” yang ditulis oleh Thomas Schweizer[1], slametan digambarkan sebagai sebuah sarana untuk membangun solidaritas sosial dan mengungkapkan rasa syukur di tengah orientasi keagamaan yang berbeda. Selain dua hal tersebut, slametan juga mereflesksikan betapa besarnya pengaruh tradisi-tradisi bangsawan (priyayi) Jawa dan lingkup masyarakat yang lebih besar. Jadi, secara tidak langsung slametan menyiratkan “kekuatan luar” suatu masyarakat – baik ekonomi, politik, dan simbolik.
Sebagai suatu kawasan dengan identitas sejarah yang indigenous, yaitu kota pelabuhan yang berorietasi pada perdagangan antar kerjaan-kerajaan pedalaman dengan corak agraris, masyarakat Jawa memiliki gaya hidup dan pemelukan agama yang berbeda – Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha. Gaya hidup dan orientasi yang beragam ini kemudian secara gradual menyebar ke pedalaman oleh pedagang, tuan tanah, dan tokoh-tokoh agama.

Tuesday, April 12, 2011

Menyoal “Wakil Tuhan” di Indonesia :Kajian Fatwa MUI Tentang Ahmadiyah


Oleh,Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com

--Tulisan ini adalah sitiran dari Jurnal Ilmiah berjudul Respon Tokoh Islam Atas Fatwa MUI Tentang Gerakan Ahmadiyah Indonesia karya Ahmad Subakir, Ilham Mashuri dan M Asror Yusuf, STAIN Kediri, 2008--
 
Tulisan ini bukanlah lembaran luas tentang sepak terjang jamaah Ahamdiyah di Indonesia. Sebagai Negara sekuler yang meng-“halal”-kan enam keyakinan beragama, Indonesia memiliki Majelis Ulama Indonesia (MUI) – yang seolah-olah mewakili “Tuhan” sebagai eksekutor terhadap masalah keyakinan keagamaan, dalam hal ini agama Islam. Fungsi MUI tidak jauh berbeda dengan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bagi umat katolik atau PGI (Persatuan Gereja-gereja Indonesia). Sejarah mencatat bahwa Jamaah Ahmadiyah sudah mendapatkan reaksi keras dari berbagai kalangan sejak masuk ke Indonesia. Sejak berkiprah di Sumatera, Ahmadiyah sudah mendapat kecaman dari Abdullah Ahmad dan Abdul Karim Amrullah. Sehingga terbitlah buku Al Qaul ash Shohih guna meredam paham Ahmadiyah. Sampai saat ini kejadian yang berujung pada kekerasan terhadap Ahmadiyah memang sangat riskan. Apalagi di Negara yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, serta bersemboyan Bhineka Tunggal Ika.

R(b)obohnya “Wakil” Kami


Oleh, Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com

Sebelum berkelana dalam isi opini nakal ini, baiknya anda menyimak dengan seksama frasa yang amburadul, yang sengaja saya tempel sebagai judul tulisan ini. Jika AA Navis ter-legenda-kan atas karya Robohnya Surau Kami, saya mencoba memodifikasi dengan Robohnya “Wakil” Kami dengan selipan huruf “B”, tujuannya adalah mengajak pembaca mencerna kejadian-kejadian “bodoh” yang dipentaskan wakil rakyat kita. Tanpa mengurangi rasa hormat, tulisan ini hanya tertulis untuk menghormati rakyat yang sudah dibodohi.
Mengikuti perkembangan pembangunan gedung baru DPR yang rencananya “berkasta” 36 lantai yang menelan biaya 1,138 T – belum termasuk furniture, sistem keamanan, sistem informasi. Saya, sebagai seorang mahasiswa merasa terpental. Kenapa? Lha, bukannya Yang Mulia Marzuki Ali hanya meng-iya-kan argumentasi orang-orang elite dan pinter saja, bukan? Tapi, dalam benak saya muncul sebuah pertanyaan, “Memang seberapa pintar orang-orang di DPR?

Friday, April 8, 2011

Berlabu di Perpustakaan Baru UI (Bagian I)


Oleh Mang Oejank Indro
tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com 
 
--Apresiasi, Prestasi, dan Kontroversi-- (Bagian I)

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Universitas Indonesia, saya tercengang mellihat pemandangan yang menakjubkan di dekat sebuah danau yang diapit 4 bangunan besar. Balairung UI, Rektorat UI, Masjid UI, dan bangunan besar dengan atap agak berumput – yang kata orang futuristik, Perpustakaan. Awalnya, bangunan super megah tersebut, menurut naluri ke-desa-an saya, adalah pusat administrasi dan relaksasi UI. Nah, baru setelah saya nyantri di UI, saya sadar itu bukanlah sebuah tempat pusat administrasi baru UI ataupun Mall of Universitas Indonesia. Pencapaian UI dalam hal bangun-membangun bangunan memang cukup baik. Terbukti pada tahun lalu sudah lebih dari 3 bangunan terpatri di kampus UI, Depok.

Terlepas dari hal bangun-membangun. UI memang sedang berlari mengejar status World Class Research University. Atas target itulah, UI sangat rajin bangun-membangun penampilan fisik kampus UI. Salah satu yang menjadi topik hangat adalah perpustakaan baru UI yang terbilang megah. Bayangkan, bangunan “berkasta” delapan lantai tersebut memiliki toko buku, bank, cafeteria, fitness center, bioskop, ruang pertemuan, slide room, dan banyak lainnya.

Wednesday, February 9, 2011

Panggil Saja, Mang Oejank Indro!

-->
"Saya hanya orang Indonesia biasa,
 yang belajar dan bekerja dengan cara Indonesia,
 untuk Indonesia.”  Mang Oejank Indro

Berkelakar Sejenak
Penggalan kalimat diatas adalah sebuah identitas tentang seorang remaja 19 tahun yang sekarang sedang berselancar menuai ilmu di Universitas Indonesia, Iswanda Fauzan Satibi – yang sebenarnya penulis sendiri. Sebuah kesalahan jika saya menorehkan beberapa kalimat dalam tulisan ini tentang kearifan, dan kebaikan. Masih terlalu dini, atau mungkin terlalu keriput. Hanya ruh diluar tubuh saya yang mampu membeberkan semua tentang saya. Jadi, tema esai yang di usung panitia UISDP kali ini – menurut hemat saya – sangat “kurang ajar.” Namun, sebagai peserta, saya hanya mencoba membalikkan pembiaran kesalahan menjadi benar-benar kesalahan, dengan tujuan mereka – maksudnya panitia UISDP – tahu siapa saya dan apa saya sebenarnya.

Islamku, Islam Anda, Islam Kita
Agaknya sub judul ini terkesan mengecoh kita pada buku karangan KH. Abdurrahman Wahid, yang terkenal dengan panggilan Gus Dur. Memang saya ABG (Anak Buah Gus Dur). Tokoh unik satu inilah yang menyuburkan keinginan saya untuk “menjadi Indonesia” di Indonesia. Selain Gus Dur, kelambu pemikiran saya terseret juga ke dalam kendi pemikiran KH. Mustofa Bisri, yang akrab dipanggil Gus Mus, Emha Ainun Najib, almarhum Cak Nur Kholis Majid, Soekarno, Hatta, dan terakhir – pastinya bukan Pak Beye – M. Natsir.  Mereka adalah manusia-manusia yang benar-benar Indonesia, karena itu saya banyak menaruh cinta pada mereka.

Narasi untuk Sang Pemilik Jalan Ke Surga dan Panglima Keluarga

-->
Sebuah karangan singkat ini tidak akan cukup untuk menuangkan sebuah ikatan saya – seorang anak pertama – kepada kedua orang tua saya. Hampir selama sembilan belas tahun ditambah tujuh bulan – karena saya lahir preamatur, saya mulai menikmati kerumunan kasih sayang dan jeratan cinta sang panglima dan ratu keluarga.
Harus dimulai darimana? Pertanyaan itu yang semilir mengintai di otak kananku ketika berusaha menguntai beberapa kalimat tentang dua orang ini. Pernyataan paling mudah adalah mereka lebih murah dari apapun di muka bumi, bahkan udara pun tidak lebih murah dari mereka. Ke-murahan mereka untuk sabar, tulus, jujur, sakit, lelah, dan banyak hal lainnya menjadi “barang” yang tidak perlu kita pikirkan untuk menggunakannya.

Saturday, January 29, 2011

Senandung Petruk untuk Pak BeYe


Pagi-pagi buta Petruk sudah rapi dengan kemeja berdasi, rutinitas menyiram kebun belakang rumahnya dan nyelendro “dikhianati” sejenak. Hari ini Petruk ingin mlaku-mlaku ngintip bumi nusantara, terutama tanah Jawa yang disinggahi Pak BeYe dan adipati-adipati KIB jilid II. Ia juga berniat singgah di gedung DPR RI, bertemu tuan Gayus, nyambangi Jeng Ayin, dan nginep di kantor KPK. “Monggo Juragan, mobil sampun siap..!!” Sukirno, sopir pribadi Petruk menyilahkan sang majikan nunggang lymosin putih pemberian Batara Guru.
Beberapa menit dari singgasana Petruk di Pulau Kahyangan, Suralaya, Sukirno bertanya, “Juragan, enak’e lewat jalan tol apa jalan biasa?” Dengan suara mbindeng Petruk bersua, “Lho, jalan tol di Jakarta sudah bebas hambatan to? Wong pendega Jakarta terbukti bukan ahlinya koq!!” Sukirno bingung. “Terus, lewat mana Juragan?” Sahutnya. “Wis, lewat jalur biasane wae. Ojo lali pake For Ridder yo..!” Jawab Petruk sambil memainkan iPhone 4 di tangan kanan dan BB Torch di tangan kirinya.
“Walah, Juragan, mosok wis mimpin hampir dua periode nguna-ngunu wae, rakyat cilik dibohongi dengan kebohongan ala balita, ckckckck..!” Geram Sukirno di bangku depan lymosin. “Hemmm… Raimu koyok gak ngerti Pak BeYe. Aku kesini juga gara-gara prihatin.” Kata Petruk. “Oalah, Prihatin tukang jamu yang bahenol itu to Juragan?” Sambung Sukirno. “Untumu keropos…!! Prihatin Kir, prihatin temenan cok..!! Wis, Aku turun sini. Kamu langsung balik ke Suralaya.” Dawuh Petruk. Sukirno pun langsung bergegas kembali ke Suryalaya. Petruk nyamar seperti biasa, baju kabanggaanya yang seperti kaus kutang terbelah disematkannya. Perut buncit meluber kedepan diatas celana pendek berbalut sarung yang terselendangkan melingkar.
****
            Suasana Istana Negara siang ini lumayan ramai. Teriakan demonstran dari Universitas Indonesia memecah ke-galau-an penghuni Istana Negara. Segerombolan manusia berseragam militer kurang lengkap melecit berbaur dengan demonstran, alih-alih mengamankan, pak Pol malah melakukan pengamanan beberapa demonstran. Walah-walah, polisi dari jaman Soeharto sampai sekarang koq kerjaannya sama saja. Nggak kreatif. Kalau ndak “ngerampok” di jalanan, yo “main-main” bongkar rumah, eksekusi tanah, dan ngantemi demonstran. Itu Polisi kasta paling bawah lho Bes, apalagi Pak Pol yang berbintang-bintang itu? Hemmm…

Tuesday, November 23, 2010

Menggambar Syahwat Politik Sang Wakil Rakyat : Refleksi Pemilihan Umum 1999-2004


Tahun 1999 merupakan tahun dimulainya tren baru dalam “gaya hidup” perpolitikan Indonesia yang sampai saat ini bertengger di klasmen teratas wajah politik Indonesia. Tren tersebut tidak terlepas dari peristiwa Reformasi setahun sebelumnya. Sampai detik ini bumbu-bumbu eforia politik reformasi masih menjadi “bacaan” yang paling dicari mahasiswa – termasuk saya, pengamat, dan politikus. Namun, eforia atas tren tersebut diboncengi oleh ke-frustasi-an terhadap partai-partai. Terutama enam partai yang mewarnai peta politik tanah air  dalam penyelenggaraan negara secara umum. Kemenangan partai-partai tersebut hanya dimanfaatkan “bocah-bocah” penggila jabatan untuk keangkuhan dan kerakusan dalam korupsi, kolusi, dan nepotiseme second generation – setelah Orde Baru. Bagaimana tren politik Indonesia dahulu, sekarang, dan nanti dalam kerangka geopolitik dan geostrategi?

Wednesday, November 10, 2010

Berlayar Di Antara Hukum Adat dan Hukum (kep)-Aparat


Kajian Tragedi Tanjung Priok 14 April 2010


Hukum sebagai panglima, jargon tersebut sering kita dengar sebagai “bungkus” kebusukan hukum negara kita. 14 April 2010 adalah salah satu bentuk kecil kebringasan masyarakat yang jengah menyaksikan tindak-tanduk aparatur hukum di negara sahabat bencana, Indonesia. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap aparatur negara tersebut disebabkan para penegak hukum hobi dolanan moralitas dan terbiasa dengan budaya hipermoralitas. Masyarakat sengaja disuapi “permainan hukum” (justice game) dengan tedeng aling-aling  “permainan bahasa” (language game). Dalam kasus Priok, masyarkat – khusunya warga yang tinggal di daerah Koja – lebih ayem dengan hukum adat yang telah mendarah daging dalam sanubari mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat merasa dijadikan lakon dalam skenario “palu hukum” aparatur negara. Bagaimana mereka mampu “berlayar” mencari keadilan (justice) dan kebernaran (truth)?

Thursday, November 4, 2010

Menyegarkan Kembali Pendidikan Indonesia


-->
"Kajian Studi Kultral dan Pedagogik Libertarian"


Dekade awal di abad ke-21 menghadirkan banyak tantangan global pada tatanan pendidikan nasional. Dr. Willy Toisuta mengatakan bahwa kekacauan manajemen pendidikan nasional dewasa ini disebabkan pemerintah yang tidak mempunyai platform pendidikan nasional. Hal ini bisa jadi karena minimnya kesinambungan – juga evaluasi – dari kebijakan-kebijakan yang ada. Pejabat baru berarti kebijakan yang baru. Polemik kehadiran PP No 66 tahun 2010 menambah daftar panjang jejak “mengenaskan” pendidikan Indonesia.

Wednesday, October 20, 2010

Meluruskan Paradigma Pendidikan: Fungsi Mencerdaskan Bangsa

-->
Tinjauan Kritis: Pendidikan Indonesia, Riwayatmu Kini. (Suara Mahasiswa edisi 26 th. 2010, p 15-21)

 Setelah membaca dan memahami tulisan yang berjudul “Pendidikan Indonesia, Riwayatmu Kini” pada majalah Suara Mahasiswa (SUMA) UI edisi 26/XVII/2010. Sebenarnya penulis tidak terpuaskan dengan ending (bagian akhir) berita. Dua bentuk krisis pendidikan, yang dipaparkan seorang sosiolog pendidikan, Paulus Wirutomo, merupakan krisis yang sudah menjadi public secret (rahasia umum) di tengah-tengah masyarakat dua dekade terakhir. Sudut pandang narasumber – menurut kajian penulis pribadi – masih menitikberatkan pada pemerintah dan lembaga pendidikan.

Monday, October 18, 2010

Berdagang Birahi : Pubersitas Agama, Tradisi, dan Budaya

 Agama adalah way of live manusia secara universal. Mustahil setiap agama tidak mengatur tindak-tanduk kebutuhan manusia, terutama seks. Islam menjelaskan dengan Al Qur’an dan Sabda Rosulullah SAW, Kristen dengan Al Kitab, dan kitab Manu bagi agama Buhda/Hindu.[1] Tradisi dan budaya ketimuran manusia Indonesia juga menjadi “corong” perkembangan khazanah seks manusianya. Selain itu, Multikulturalisme yang “megah” di tanah Indonesia juga menyiratkan banyak tafsiran tentang seks yang Indonesiana.  Dinamika manusia Indonesia di atas tentu tidak sekongyong-konyong[2] membentuk suatu social group. Dalam ranah ini, peran “pubersitas” agama, tradisi, budaya turut andil dan menjalankan fungsinya di dalam pembentukan kelompok sosial masyrakat. Bagaimana agama, tradisi, dan budaya merekonstruksi dan memengaruhi (influencing) seksualitas manusia Indonesia?
Manusia sebagai mahkluk sosial selamanya akan “dipenjarakan” dalam tiga dimensi kelompok seksualitas yang berbeda[3]. Pertama, kelompok yang berlebih-lebihan, yaitu kelompok yang mendewakan seks. Msyarakat dunia mengenal dengan “sindiran” masyarakat free sex. Kelompok ini berpandangan bahwa seks sangat bebas – tanpa batasan etika dan keagamaan – dengan orientasi seks sebatas kepuasan semata. Kedua, kelompok yang teledor, kelompok yang “menajiskan” seks – meskipun mereka tidak terlepas dari kebutuhan seksual – dan menganggap seks lebih kotor dari buang air. Pandangan mereka tentang seks hanya terpaku pada dogma agama secara subtantif-ekslusif, sehingga “ngelantur” dari realitas dan tuntunan keagamaan (syari’at). Ketiga, kelompok garis tengah, adalah kelompok yang memahami seks dengan kesadaran fundamental terhadap agama secara utuh – terutama agama Islam dan Kristen. Kelompok ini membredel kajian keagamaan, tradisi, dan budaya secara jernih dan rasional.
Agama, tradisi, dan budaya memiliki kaitan erat dalam pembentukan struktur kognisi masyrakat. Seks sebagai kebutuhan dasar manusiawi terlalu gamblang jika dijelaskan dengan pendekatan psikologis-biologis. Kajian dari angle agama, tradisi, dan budaya Indonesia merupakan “ritme” baru dalam menengahi problematika “perdagangan birahi” yang meroket setiap saat. Ketiga kelompok masyrakat di atas adalah hasil “pubersitas” agama, tradisi, dan budaya yang benar-benar Indonesia. Adalah tugas manusia itu sendiri dalam hal menentukan the way of life mereka untuk menghindari dampak fisik, perilaku dan kejiwaan, sosial, ekonomi, dan tentunya dampak keagamaan.
Mang Oejank Indro @2010

Daftar rujukan :
Asror, Mustaghfiri. 1983. Emansipasi Wanita: Dalam Syari’at Islam. Semarang : CV. Toha Putra.
Jusuf, Ahmad. 2006. Bahaya Seks Bebas pada Remaja: Tinjauan Aspek Medis dan Islam. Dalam makalah yang disajikan pada penyuluhan bagi siswa-siswi SMA Diponegoro Rawamangun Jakarta, Kamis 28  Desember 2006
Tolani, Tofan, 2004. Cinta, Seks dan Problematikanya, Jakrta: Restu Agung.
Umar, Abu, B. 2006. Sutra Ungu, Solo : Rumah Dzikir.


[1] A. Mustaghfiri : 1983
[2] Mendadak, tiba-tiba.
[3] Abu Umar : 2006

Tuesday, October 5, 2010

Menyoal Identitas Kultural Wong Gresik

 
-->
Di usianya yang ke-523 tahun, Gresik sedang berhadapan dengan model ekonomi kapitalistik yang merasuki struktur kognisi masyarakatnya. Akibatnya, muncul fenomena – fenomena seputar motif komersial yang menjadi variabel – yang dominan – dalam berekspresi, tradisi yang dihardik hanya sebatas komoditi, dan hilangnya ekspresi kesenian yang inheren dengan konteks sosial. Keadaan ini memaksa Wong Gesik untuk melepas ‘jilbab’ kesucian – dengan corak islami – yang semula diekspresikan atas dasar motivasi tradisi atau spiritual dengan motivasi baru, yaitu motivasi komersial. 

Tradisi dan budaya Gresik yang dalam makna ‘original-nya’ dihelat dan disajikan berdasarkan waktu, tempat, dan suasana tertentu, sekarang mulai ‘tunduk’ pada pesanan pasar. Orientasi kesenian, tradisi, dan budaya yang lekat dengan nilai dan norma yang otentik mulai bergeser. Wong Gresik yang familiar dengan tradisi Cangkruk’an sekarang perlahan menjadi ‘budak’ lokomotif industrialisasi – yang tidak pernah berhenti melintasi rell kapitalisme.

Yang menjadi pertanyaan dari fenomena diatas adalah – meminjam istilah Agus M. S – bagaimanakah prosesnya sehingga kapitalisasi tradisi dan budaya menjadi suatu fenomena yang masif. Dan bahkan telah dilegitimasi oleh kebijakan pemerintah daerah demi kepentingan pragmatis-ekonomi? Mampukah Wong Gresik mempertahankan pondasi otentisitas tradisi mereka dalam gempuran ekspansi kapitalisme industri? Dari gejolak tersebut, bisa dipastikan pengaruh kapitalisme industri akan merubah cara pandang individu terhadap eksistensi tradisi lokal Wong Gresik. Dan proses itu sudah dimulai sejak lama. 

Kehadiran industrialisasi melahirkan problematika dan implikasi yang sangat kompleks. Wong Gresik mulai menjadi ‘lakon’ – kapitalisme – yang diorganisir secara efisien mirip sebuah mesin. Mereka cenderung rasional dalam menganalisa lingkungan dan permasalahan yang dihadapinya. Kecenderungan tersebut – disadari atau tidak – telah melonggarkan pertalian Wong Gresik dengan tradisi – termasuk budaya dan kesenian – dan perubahan stratifikasi sosial secara progresif. Perubahan stratifikasi sosial tersebut bisa kita koreksi pada tatanan sosial berdasarkan peranan dan keberhasilan dalam berkarir, bukan dari golongan darah atau ningrat lagi. 

Fenomena lain yang timbul akibat kapitalisme industri adalah ambruknya otensitas Wong Gresik. Derasnya arus modernisasi dan kapitalisme industri merupakan ‘aktor’ nomor wahid atas lahirnya fenomena tersebut. Kota Pudak ini sekarang tidak hanha harus ‘bertarung’ dengan masalah lingkungan yang mengenaskan. Gresik mulai kehilangan idenitas sebagai kota santri – mungkin akan lebih cocok dengan sebutan kota kapitalis-industrialis. Pemilukada yang digadang-gadang akan diulang pertengahan Agustus 2010 mendatang adalah buki perubahan sistematis struktur kognisi Wong Gresik yang baru.  

Keberadaan ‘duo’ lembaga pemerintahan dengan ‘senandung’ birokrasi kebudayaan dan pariwisata sering melihat tradisi Wong Gresik – meminjam istilah Agus MS lagi – sebagai produk, bukan sebagai produksi. Sehingga ‘kapal’ tradisi yang berlayar tidak mampu berkembang. Apalagi gagasan untuk menciptakan suasana inspiratif. Yang tertanam di benak ‘mereka’ sepenuhnya adalah kepentingan eksploitasi, ekonomis, dan hegemoni – belaka. Identitas Wong Gresik sedang ditelanjangi Wong Gresik sendiri. Mau dibawa kemana identitas kultural Wong Gresik asli?


Mang Oejank Indro
(Iswanda F. S.)
Arek Gresik Asli
Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Indonesia

Tridharma Perguruan Tinggi Vs Tut Wuri Handayani

-->
Mang Oejank Indro

            Dalam esei kali ini, penulis sengaja ingin membedah, mengkaji, dan mengkodifikasikan essensi tridharma perguruan tinggi (PT) dan pembelajaran. Namun, esei ini didasarkan pada sudut pandang penulis selama “hidup” dalam lingkungan akademik perguruan tinggi. Sekitar bulan November – saya lupa tangalnya – tahun lalu, penulis mendapatkan kesempatan memberikan wacana tentang PT di Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik (STTQ Gresik). Kebetulan tema yang penulis sampaikan tidak jauh berbeda dengan tugas yang disodorkan panitia PSA-MABIM FIB UI 2010 kali ini.
            Perguruan tinggi, menurut KH. A. Sounhadji, M.A, Ph. D, adalah sebagai pusat intelektual dan pusat kebudayaan. Kerr. C, 1982 dalam “The use of University” memaparkan bahwa terjadi transformasi – perguruan tinggi – yang semula sebagai masyarakat master dan mahasiswa sehingga dinamakan universitas modern. Yaitu PT yang secara sadar berorientasi kepada penciptaan pengetahuan baru, yang mendorong tumbuhnya penelitian-penelitian kreatif dan bermanfaat. Pada tahun yang sama. Thellin, 1982, mengartikan PT adalah pusat pengembangan disiplin ilmu melalui program pasca sarjana, pelaksanaan seminar-seminar ilmiah, penelitian dan pengembangan, konsorium dan penerbitan jurnal-jurnal professional. Perguruan tinggi sebagai saga organisasi, suatu pemahaman kolektif terhadap aktifitas-aktifitas yang unik, didasarkan atas sejarah, norma-norma, tradisi dan nilai-nilai yang berkembang di dalam dan diluar negeri. Pendapat terakhir dikemukakan oleh Clark, 1986. Dari beberapa definisi tentang perguruan tinggi diatas, essensi tridharma perguruan tinggi – dengan tiga butir poin – di Indonesia sudah mewakili beberapa definisi diatas. Apa sebenarnya tridharma perguruan tinggi?

Tridharma Perguruan Tinggi
            Dekade awal di abad-21, essensi tridharma PT, menurut penulis, masih mendapat tempat yang teduh di dalam “gerbong-gerbong” PT di Indonesia. Pemerintah sebagai lokomotif – dengan M. Nuh sebagai masinisnya – terbukti stabil melintasi rel pendidikan nasional. Selanjutnya rangkaian “gerbong” PT akan memasukli stasiun intelektualitas global. Lalu bagaimana essensi tridharma PT mampu menjadi “amunisi” menghadapi gempuran percaturan intelektualitas global? Siapkah SDM hasil “cetakan” PT nasional melakukan action? PT dan komponennya – termasuk mahasiswa, dosen, ilmuan, dan pemerintah – adalah jawabannya. Generasi muda bangsa adalah essensi objektif dari tridharma PT.
            Dimulia dari tujuan pendidikan berdasarkan PP No. 60 tahun 1999 tentang PT pasal 1. Tujuan pendidikan yang pertama adalah menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian. Kedua, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian serta mengupayahkan penggunaannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
            Tridharma perguruan tinggi (PT) memiliki tiga mata rantai. Pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Menurut Perkins, 1986, menjelaskan bahwa tridharma PT mengacu pada tiga aspek pendidikan – yang cenderung memasuki wilayah pendidikan dan pengajaran. Tiga aspek tersebut adalah aquicition (penggalian), transmission (pemindahan), dan application (penerapan). Ketiganya akan memiliki ketergantungan dan keterkaitan yang melengkapi.
Membicarakan tridharma PT, penulis lebih senang memosikan diri sebagai pelaku kebudayaan pendidikan – bukan berarti harus menjadi budayawan. PT sebagai multiversitas memang menjadi warehouse pendidikan yang didalamnya hidup masyarakat akademisi dan non akademisi. Di dalamnya bisa kita temukan mahasiswa, ilmuan, professional, non-akademis dan administrator. Selain itu, di dalam warehouse pendidikan juga berisikan corak dan “belang” kegiatan akademis. Dimulai dari pengajaran, memajukan pengetahuan, mengembangkan metode penelitian, memperluas kesadaran berbangsa, pengabdian kepada masyarakat. Mungkin masyarakat akademik dan non-akademik dewasa ini, dengan kegiatan di atas, belum semuanya bersinergi dengan baik. Prof. H. A. R. Tilaar menyodorkan “manifesto pendidikan nasional” untuk kembali melahirkan asas Tut Wuri Handayani. Dr. Willy Toisuta mengatakan bahwa kekacauan manajemen pendidikan nasional dewasa ini disebabkan pemerintah yang tidak mempunyai platform pendidikan nasional. Hal ini bisa jadi karena minimnya kesinambungan – juga evaluasi – dari kebijakan-kebijakan yang ada. Pejabat baru berarti kebijakan yang baru.



Tut Wuri Handayani
Pedagogik libertarian yang “diracik" Prof. H.A.R Tilaar merupakan prinsip yang “fitrah” dari asas pendidikan kita, Tut Wuri Handayani. Sehingga posisi pendidik sebagai pembimbing – yang selalu didepan – akan bergeser menjadi pendorong dari belakang, yaitu Tut Wuri Handayani itu sendiri.
Pendidikan tinggi yang digerakkan mahasiswa, menurut pandangan oppositional pedagogy tulisan Gregory Jay dan Gerald Graft, A Critique of Critical Pedagogy – yang saya kutip dari buku Prof. H.A.R Tilaar – menyatakan bahwa pendidikan tinggi mengusung harapan yang besar untuk menghasilkan manusia-manusia – maksudnya mahasiswa – Indonesia yang dapat berdiri sendiri, yang tidak dapat dihanyutkan tanpa arah oleh arus globalisasi atau kepentingan-kepentingan korporasi internasional.
Sudah saatnya mahasiswa Indonesia “ngaji” Tut Wuri Handayani serta memosisikan pendidikan didalam tradisi, tanpa harus berpandangan tradisional. Salah satu dari prinsip inside out yang ditawarkan Prof. H.A.R Tilaar mungkin wajib ditanamkan dalam jiwa mahasiswa Indonesia sekarang juga, yaitu proses belajar yang dialogis dengan menggunakan prinsip Tut Wuri Handayani yang mencakup tiga wilayah garapan; life sciences, natural sciences & technoloy, dan information sciences. Ketiga “lahan” garapan tersebut akan subur jika generasi mudanya mampu mengelola dengan baik. Namun “lahan” garapan tersebut akan puso apabila generasi penerusnya tidak mampu mengolah dengan baik. Dengan demikian, hardcore mahasiswa Indonesia yang Indonesia akan lahir.

Bahan Rujukan :
Tilaar, “Manifesto Pendidikan Nasional.” Dalam Artikel Untuk Negeri. Tabloid Prospek 2010. Surabaya: Global-Indo Media.
Riki, 2006. “Mahasiswa, Idealisme Dan Salah Kaprah”, Portal Berita Perpustakaan UPI.
Dewantara, Bambang Sokawati, “Ki Hadjar Dewantara, Ayahku,” Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 1989.
Fauzan S, Iswanda, 2009. “Modul Pengenalan Perguruan Tinggi.” Gresik:STTQ Gresik Perss.

Sunday, October 3, 2010

Reformasi: Implikasi dan Konfusionisme Pancasila

-->
Judul : “Pancasila Kembali”
Pengarang : A. Mustofa Bisri
Data Publikasi : Koridor Renungan A. Mustofa Bisri, Jakrta: PT. Kompas Media Nusantara, II:77, 2010, xii+248
Ambruknya kerajaan otoriter Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 merupakan titik balik “nafas” Pancasila. Bukan sekadar ideologi dan dasar negara semata. Lebih jauh, Pancasila adalah citra bangsa dan negara. Seandainya sejak kelahiran Pancasila sudah dikeloni[1] dengan penalaran dan studi mendalam terhadap kelima sila – seperti nilai religius, nilai moral, nilai kebangsaan, nilai keadilan, dan nilai kebersamaan dan toleransi – secara apa adanya dalam masyarkat; penulis meyakini isu tentang kredibilitas ke-Pancasila-an tidak akan “diperkosa” di rezim reformasi saat ini. Realita yang bisa kita simak dengan panca indera adalah kondisi ketuhanan negeri kita yang seperti tanpa Tuhan atau “kebanyakan tuhan.” Negeri yang mengaku berkemanusiaan yang adil dan beradab sekarang antipati tentang prikemanusiaan. Persatuan Indonesia lebih tenar sebagai “banyolan” semata. Rakyat bingung mencari perwakilan mereka. Keadilan sosial yang bagi beberapa orang saja.[2] Selentingan pertanyaan dari beberapa orang, “Masih hidupkah kau, Pancasila?”
Pancasila merupaka padanan konsep Konfusionisme yang dikembangkan Prof. Tu Wei Ming untuk pengembangan pendidikan moral di Singapura. Konsep Konfusionisme juga dikenal di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Hong Kong. Pancasila, menurut Prof. H.A.R Tilaar, merupakan suatu doktrin yang terbuka karena Pancasila merupakan suatu way of life. Di sinilah terdapat kesamaan prespektif keterbukaan Pancasila dan Konfusionisme. Prof. H.A.R Tilaar menegaskan bahwa pancasila dapat menerima nilai-nilai Konfusionis yang – mungkin – mempunyai nilai universal yang dapat di adopsi oleh masyarakat kita, masyarakat Pancasila.
Reformasi sebagai gerbang menuju demokrasi Indonesia secara tidak langsung “membunuh” Pancasila. Beberapa pengamat mengatakan bahwa demokrasi-lah yang melunturkan “harga” pancasila ditengah peradaban bangsa Indonesia. Zaman orde baru, berdialog dan berdiskusi tentang pancasila adalah hal yang “najis.” Gus Mus – panggilan akrab A. Mustofa Bisri – menjelas-kembangkan pengertian pancasila harus berdasarkan sila-sila di dalamnya. Bahkan Pancasila harus menjadi pembahasan rutin mengenai ideologi-ideologi lain yang, meminjam istilah Gus Mus, “mengepung” Pancasila. Dengan demikian, “pemerkosaan” terhadap Pancasila tidak digilir oleh pemegang kekuasaan. Selain itu, pemahanan konsep Konfusionisme sebagai pendamping Pancasila harus segera “dikawinkan” sebagai salah satu alternatif “penyembuhan” bangsa dari pandemi dasar-dasar kenegaraan dan ideologi.
Mang Oejank Indro @ 2010
Daftar rujukan :
Bisri. A. Mustofa, 2010. Koridor Renungan A. Mustofa Bisri, Jakrta: PT. Kompas Media Nusantara.
Tilaar, H.A.R. 2005. Manifesto Pendidikan Nasional. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Program Dasar Pendidikan Tinggi UI. 2010. Modul MPK Terintegrasi. Jakarta: Badan Penerbit FK Universitas Indonesia.

[1] Di damping atau di kawal.
[2] A. Mustofa Bisri, 2010: 80

Monday, September 20, 2010

Mengarang Sebuah Urgensi di UI

Awalnya Konfusi
Penulis sempat bingung dengan tema yang diajukan panitia, yaitu “Urgensi PSA-MABIM.” Pengunaan kata “Urgensi” menurut penulis sangat ambigu. Artinya, apa yang urgent? Mengapa harus urgent? Atau panitia sengaja menyajikan sebuah konfusi belaka? “Urgensi” dalam kamus ilmiah populer diartikan sebagai keperluan yang sangat mendesak. Apalagi, dalam ketentuan dalam Buku Budaya dijelaskan jumlah karakter tulisan antara 5000 – 7000 karakter. Penulis merasa dimanjakan dengan salah satu tugas yang satu ini.
Dalam buku KAMABA tahun akademik 2010, beberapa catatan dari Prof. Dr. der Soz. Gumilar R. Soemantri sudah mewakili apa yang disebut “Urgensi PSA-MABIM” secara keseluruhan, bukan? Tapi, penulis akan mencoba menorehkan susunan paragraf reklamasi tentang “Urgensi PSA-MABIM.” Semoga tidak hanya menjadi syarat PSA-MABIM belaka. Lebih jauh, penulis berharap tulisan ini mampu memberi kontribusi untuk semua pembaca.
Dalam tulisan ini, penulis akan menyuguhkan beberapa hal terkait tema “Urgensi PSA-MABIM” dari sudut pandang subaltern. Pandangan subaltern tetntunya tidak akan ditemukan di media cetak, televisi, atau di seminar-seminar ilmiah yang megah dan modern. Padangan seperti ini hanya bisa di jelajahi dan ditemukan dalam perbincangan warung kopi, dalam percakapan kaum buruh, dan juga dalam banyak suara orang-orang pinggiran diberbagai aksi dan demo mereka.
Mengawinkan Pandangan Sublatern
Tujuan serangkaian kegiatan awal mahasiswa baru UI (Universitas Indonesa) terbagi dua, umum dan khusus. Penulis hanya akan “mengawinkan” antara tujuan umum PSA-MABIM dengan sudut pandang subaltern. Pertama, meningkatkan peran dan tanggung jawab mahasiswa dalam proses pembelajaran. Seorang mahasiswa tidak hanya harus bertanggung jawab dalam hal sinau (belajar) semata – dengan kata lain, proses pembalajaran harus memiliki karakteristik tersendiri. Dalam beberapa kasus, peran mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agent of change, iron stock dan julukan lain yang tersemat di dada mereka, hanya mampu bertahan di level terakhir percaturan intelektual nasional. Tentu mahasiswa perguruan tinggi yang menyandang nama negara tidak ingin disebut sebagai trahison des clercs (penghianatan intelektual)[1].
Universitas Indonesia (UI) menduduki peringkat 201 dunia berdasarkan rilis dari imes Higher Education - QS World University Ranking (THE-QS World). Prestasi mahasiswa UI di level internasional juga sangat cemerlang. Banyak tokoh-tokoh nasional hasil gemblengan UI yang menduduki posisi penting di Indonesia. Sebut saja Ibu Sri Mulyani (mantan Menkeu, sekrang bertugas di Bank Dunia, New York), Chandra Hamzah (Pimpinan KPK), Suharna Surapranata (Menteri Negara dan Riset), dan masih banyak orang-orang besar lulusan UI lainnya. Hal ini membuktikan bahwa gerbang PSA-MABIM merupakan sebuah agenda yang urgent bagi mahasiswa baru UI.
Kedua, mempererat hubungan antaranggota civitas akademika. Kabar burung yang diterima penulis mengatakan bahwa intensitas antara alumni UI berbeda antarfakultas. Tapi bukan hal itu yang akan penulis paparkan. Dibawah tameng Dr. Komaruddin selaku direktur kemahasiswaan UI, atmosfir kehidupan di UI terasa nyaman dan aman. Sebagai mahasiswa – apalagi mahasiswa UI, bukan hanya tuntuan mempererat hubungan antaranggota saja. Namun harus memosisikan diri sebagai komunitas akademik. Dalam PPRI No. 60 Tahun 1999, menjelaskan tentang disiapkannya mahasiswa untuk “(1) Menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau professional, yang menerapkan, mengembangkan, dan/atau memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian; (2) menegembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian serta mengupayahkan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.”
Ketiga, memperkenalkan infrastruktur untuk membangkitkan kepedulian mahasiswa akan lingkungan universitas. Poin ketiga membahas hal-hal teknis dilapangan tentang bagaimana dan mengapa mahasiswa baru, yang mengikuti PSA-MABIM, mampu mengendalikan kepedulian mahasiswa kepada universitasnya. Universitas Indonesia memilki sejarah panjang dalam perjalanannya menjadi benteng Negara. Dengan visi “menjadi universitas riset kelas dunia” dan misi menyelenggarakan pendidikan tinggi berbasis riset untuk pengembangan ilmu, teknologi, seni dan budaya, dan menyelenggarakan pendidikan tinggi yang mengupayahkan penggunaannya unyuk meningkatkan taraf dan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia serta kemanusiaan.UI dibawah tangan dingin Prof. Dr. der.Soz. Gumilar Rusliwa Somantri menunjukkan kelasnya sebagai universitas terbaik di Indonesia. Lima besar Asia tenggara dan peringkat 201 dunia. Seperti yang penulis utarakan di awal, gerbang PSA-MABIM merupakan khazanah yang mencetak ideologi mahasiswa UI. Untuk memperjelas tentang urgensi PSA-MABIM. Penulis akan memaparkan salah satu unsur, mengapa PSA-MABIM itu harus urgent? Yaitu hedonisme.
Virus Hedonisme
Hedonisme memiliki pengertian sebagai suatu kesenangan terhadap hal-hal yang bersifat temporarry (sementara), sehingga orang terjebak untuk tidak mampu bersikap sabar dan gagal membangun asketisme. Dewasa ini mahasiswa – termasuk saya pribadi – lebih “mencintai” tayangan dan hal-hal yang bersifat entertainment, gosip, jingkrak-jingkrak menyaksikan konser musik rock, dan hal-hal yang melemahkan mereka dalam membangun kepribadian mereka sendiri.
Gaya hidup hedonis yang melekat pada mahasiswa terbukti berhasil melonggarkan pertalian pendidikan sebagi bagian dari kebudayaan. Mungkin rasa we felling atau rasa “kekitaan” yang dikumandangkan Benedict Anderson sebagai rasa nasionalisme di dalam suatu imagined community (masyarakat yang diimajinasikan) sedang sekarat dibenak mahasiswa. Pancasila pun sudah jarang menjadi jargon mahasiswa untuk ditelaah, dikaji, apalagi menjalankan nilai-nilai luhur Pancasila. Seharusnya mahasiswa Indonesia mampu berpendidikan ditengah-tengah tradisi tanpa harus bersikap tradisional. Dengan hardcore lokal, mahasiswa akan lebih mampu menembus barikade keilmuan menuju intelektualitas yang global.
Selain mendiskreditkan kebudayaan, virus hedonisme juga telah memangkas makna tri dharma perguruan tinggi yang mengacu pada tiga aspek pengetahuan menurut Perkins, yaitu aquicition, transmission, dan application. Mahasiswa seharusnya familiar dan bergaul dengan penjelajahan pemikiran dan intelektual yang interdisipliner. Namun, realita yang ada sangat bertolak belakang dari seharusnya. Mahasiswa ogah “mengunyah” tulisan-tulisan Lenin, Jean-Jacques Rousseau, Karl Marx, Plato, Aristoteles, Hanafi, Fajrul Rahman, Cak Nur, Tilaar, dan Gus Dur. Mahasiswa sekarang lebih menyukai musik pop daripada musik gamelan, lebih cinta Jeans daripada batik, dan masih banyak lagi hardcore mahasiswa Indonesia yang tidak “Indonesia.”
Gejala hedonisme sudah “melahap” hampir seluruh mahasiswa diperkotaan dan daerah-daerah. Hedonisme juga telah mengerutkan kapasitas moral mahasiswa. Mungkin mahasiswa yang benar-benar “Indonesia” sudah punah di dekade 90-an? Atau mereka belum menyadari bahwa pusat lahirnya peradaban dunia adalah Indonesia? Prof. Arysio dalam bukunya, Atlantis; The Lost Continent Finally Found – saya baru baca separuh – menyuguhkan informasi tentang kebenaran bahwa Atlantis adalah Indonesia, Negara kita. Adalah tugas mahasiswa – termasuk saya – untuk mengulang peradaban Eden, nenek moyang kita. Sekaligus sebagai pewaris tunggal nusantara. Kenapa kita harus memakai “baju” orang barat kalau kita memiliki “baju” sendiri?
Bahan Rujukan:
Somantri, Gumilar R, “Sambutan Rektor Universitas Indonesa.” Dalam Panduan KAMABA Universitas Indonesia Tahun Akademik 2010/2011. 3 – 4. Jakarta: Universitas Indonesia.
Santos, Arysio, 2009 “Atlantis; The Lost Continent Finally Found” Jakarta: Ufuk Press.
Buku Saku Universitas Indonesia, 2009 “Profil Universiatas Indonesia” Jakarta: Direktorat Kemahasiswaan Universitas Indonesia1.
Said, Edward W. 1998 “Peran Intelektual; Kuliah-kuliah Reith Tahun 1993” Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Fauzan S, Iswanda. 2010 “Hardcore Mahasiswa yang Indonesia” Dalam Kumpulan Artikel untuk Negeri. Tabloid Prospek. Surabaya: Global-Indo Media.
http://komunitas.ui.ac.id/pg/blog/widia.kurnia/read/2939/peringkat-ui-201-dunia-tahun-2009. Jumat. 20.48 WIB.

Iswanda Fauzan S
1006696951
Ilmu Perpustakaan




[1] Riri Hindaryati P dan P. Hasudungan Sirait, dalam Peran Intelektual, xvi-xix. Edward E. Said,1998

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...