Sejak pagi
buta bu Karso sudah sibuk dengan berbagai aktvitas memasak. Kali ini berbeda.
Benar-benar berbeda. “Segala sesuatunya harus pas!” Katanya dalam hati.
Ditemani kucing keluarga. Ia mondar-mandir, meracik bumbu, menuangkan air,
mencuci piring, dan menyajikannya di meja makan. Sesekali ia melihat jam di
dinding, diatas pintu yang menghubungkan ruang keluarga dan dapur.
Hei kucing,
kenapa kau melihatku seperti itu? Belum pernah kan kau lihat aku sesibuk ini kala pagi? Asal kau tahu, kucing, ini
hari spesial.
Dengan mata
yang tajam, bu Karso memindai satu per satu bahan makanan yang mulai terlihat
seperti makanan, dan siap dimakan. “Sebentar! Bumbu soto? Siap! Lodeh? Oke!
Nasi? Sebentar lagi! Kopi? Tinggal seduh.” Dilihatnya kucing tadi masih
memperhatikan gerak-gerik bu Karso yang sedang mondar-mandir. “Hei puss,
bagaimana menurutmu? Apakah suamiku akan terkesan dengan hidangan ini?” …
“Tidak? Kenapa tidak?” … “Oh, iya.. aku tahu apa yang kurang. Sambal? Emm..
kerupuk?”
Nah, ini baru
pas! Bagaimana menurutmu, kucing?
Hidangan sudah
tertata rapi di meja makan. Bu Karso bersiap untuk mandi, beribadah, dan
kembali memberikan sentuhan akhir pada masakannya.
Sudah pukul
setengah 7 pagi. Bu Karso meletakkan sendok-garpu di meja makan. “Sudah siap!”
Katanya puas. “Semoga suami dan anakku tidak kecewa.”
“Cuma itu yang
kau harapkan? Sedangkal itukah pikiranmu?” Tiba-tiba si kucing tadi bicara. Bu
Karso clingak-clinguk. Dalam hatinya
ia bergumam, siapa yang berbicara? Tidak ada orang lain di dapur? Ia mengintip
ke ruang tamu melalui jendela dapur. Menyapu pandangan melewati sela-sela pintu
belakang rumah. Mengendap-endap dan melongok ke dalam kamar mandi.
“Ini aku,
kucingmu.” Bu Karso tersentak, bulu kudunya mulai tegak berdiri. Benar itu kau?
Kucing? Kau.. kata bu Karso terbata.
“Jangan kaget
bu Karso. Semua mahkluk Tuhan itu bisa bicara, pohon, hewan, air, gunung,
udara, semuanya bicara. Bukan hanya manusia saja yang bisa bicara!” Bu karso
tertegun. Ia kembali duduk di kursi dekat meja makan. Matanya memperhatikan si
kucing. “Kenapa tidak dari dulu kau bicara, cing?” Tanya bu Karso. “Maksudku,
bicara kepadaku.”
Si kucing
meubah posisi duduknya. Ia berjalan mendekati bu Karso. Sontak bu Karso
terlihat kagok. Tapi sudah tidak
takut lagi.
“Aku menjadi kucing,
karena aku anak dari bapak kucing. Kau menjadi manusia, karena kau anak
manusia. Sudah lama aku bersahabat dengan manusia.” Bu Karso dengan antusias
mendengarkan omongan si kucing. Ia mengambil posisi layaknya soerang siswa di
dalam kelas. Si kucing melompat ke meja makan. Spontan bu Karso mengusirnya.
Namun si kucing hanya diam dan duduk manis sambari melempar senyum. Kontan bu
Karso melongo.
“Kau kucing
ajaib?” Tanya bu Karso polos. Si kucing menggaruk-garuk punggung dan lehernya.
“Aku kucing biasa. Sama dengan kucing tetanggamu.” Jawab si kucing. Bu Karso
semakin bingung. Ia mengamati lagi si kucing. “Apa yang hendak kau bicarakan,
kucing?” tanya bu Karso lagi.
Makanan!
Si kucing
dengan semangat menjawab. “Tahu apa kau soal makanan? Dari dulu makananmu itu
itu aja, ikan. Kau mau sate?” Bu Karso menimpali lantas tertawa lebar.
Si kucing
tersenyum kecut.
Manusia memang
semakin lama semakin tidak bisa menghargai sesama. Tidak heran jika binatang
sepertiku juga dihinanya. Seolah manusia dimuka bumi sudah tidak ada yang bisa
dihina lagi.
Bu Karso
terdiam. Ia memandangi si kucing yang seolah menjelma seperti kiyai. Nuraninya terenyuh.
Lidahnya kaku dan diam. Si kucing
melanjutkan. “Beruntung kau diciptakan Tuhan sebagai manusia. Tapi tidak
seberuntung aku, kucing, dan juga anjing, cicak, ular, kupu-kupu, dan
lain-lain.”
Dalam hati bu
Karso bertanya-tanya. Bukankah manusia itu mahkluk paling sempurna yang
diciptakan Tuhan? Paling pintar? Paling hebat dan tinggi derajatnya diantara
makhluk Tuhan lainnya? Kok bisa si kucing lebih beruntung?
“Karena kau
hidup di jaman akhir.” Si kucing tiba-tiba menjawab. Bu Karso makin bingung. Ternyata
si kucing juga mampu membaca kata hati manusia. “Aku beruntung menjadi kucing,
karena aku tidak makan makanan saudara se-binatang. Kambing cukup makan rumput.
Ayam cukup cacing, padi, dan jagung. Cicak sudah bersyukur memakan nyamuk,
serangga, dan kecoa. Padahal cicak tidak punya sayap, benar?”
Bu Karso
mengangguk. Menelan ludah dan mengambil nafas dalam-dalam. Si kucing
melanjutkan permbicaraannya. “Kau tentu tidak pernah mendengar krisis pangan di
dunia kami. Kau tahu alasannya?” Tanya si kucing. Bu Karso hanya menggelengkan
kepalanya.”
“Karena kami
tidak rakus sepertimu. Kami cukup dengan apa yang diberikanNya. Karena kami
percaya Tuhan itu maha adil. Semua ada tempatnya. Segalanya sudah ada
bagiannya.” Si kucing mendekati bu Karso. Bersipu di sebelahnya. Di atas meja
makan sebelah kanan.
“Tidak
sepertimu, apa-apa mau, segala-galanya kurang. Aku tidak perlu berpikir makanan
apa yang aku makan untuk besok. Karena Tuhan sudah menyiapkannya.”
Tentunya kau
tidak pernah memikirkan perasaan tumbuhan dan hewan yang sudah kalian makan. Asal
kau tahu, mereka yang bakal kau santap, sudah mengiklhaskan diri mereka untuk
kau makan. Kau ingin tahu apa yang mereka katakana sebelum kau memakannya? Memasaknya?
Bu Karso
kembali mengangguk. Ia pasang telinga baik-baik.
“Tuhan, aku
rela menjadi makanan bagi mahklukmu yang lain supaya mereka mampu merasakan
nikmatMu, bertahan hidup untuk mendekati jalanMu, menjalankan perintahMu,
menjauhi laranganMu, dan menghargai ciptaanMu selain aku.” Kata si kucing.
Matahari mulai
meninggi. Bu Karso melihar ke arah jendela, langit yang gelap perlahan memerah
dan cerah. “Semakin banyak manusia yang tidak peduli lagi pada sesama mahkluk
Tuhan. Aku menyadari itu, tapi kalian tidak kunjung sadar, hanya sedikit orang
saja yang sadar.” Ujar si kucing seraya melompat ke lantai. Ia kembali merebah
seperti sedia kala. Bu Karso merenungkan perkataan-perkataan si kucing hingga
terdengar suara piring beradu dengan sendok-garpu.
Karin
melenggang turun dari kamarnya di lantai dua. Sudah berpakaian lengkap untuk ke
kampus. “Karin! Ayo makan dulu. Ibumu sudah masak makanan spesial.” Teriak Karso
yang sudah duduk manis menghadapi hidangan di meja makan.
“Iya pak!”
Jawab Karin singkat. Ia segera mengambil piring, makanan, dan menyantap
hidangan dengan lahap bersama Karso.
“Lho, ibu nggak makan? Kok malah bengong?” Tanya
Karin. Bu Karso semakin bingung. Ia melihat si kucing tadi. Tapi si kucing
sudah tidak di tempat. Matanya menguasai sekitar. Melihar Karin dan Karso yang
lahap makan.
“Karin, bapak,
maafkan ibu, ibu selama ini hanya memikirkan bagaimana menyajikan makanan yang
enak.” Karin dan Karso clingak-clinguk
bingung. Apa yang sedang dibicarakan bu Karso?
“Seharusnya
ibu memiliki niatan menyediakan sarapan untuk kalian, supaya…” Belum selesai bu
Karso berbicara, Karin memotong, “Supaya kami bisa lebih mensyukuri hidup yang
diberikan Tuhan, melaksanakan perintah Tuhan, menghargai makhluk Tuhan yang
sudah kami makan?”
Bu Karso
tercengang. Ia masih ling-lung. Seolah ia baru bangun dari mimpi singkatnya. Tapi
hidangan sarapan yang ia sajikan nyata-nyata sedang dinikmati anak dan
suaminya. Dalam hati bu Karso berkata, “Alhamdulillah, semoga Tuhan senantiasa
melimpahkan ramhat untuk keluargaku.” Sambil menarik nafas panjang dan
memejamkan mata. Ketika membuka mata, bu karso melihat si Kucing muncul dari
pintu belakang rumah. Si kucing melihat ke arah bu karso seraya melempar senyum
kecil, lalu melenggang pergi ke luar rumah.
Pada suatu pagi yang kelam, mendung tak berhujan dan angin tak
berhembus kencang. Bersandar di sofa bercorak mawar ditemani lembaran berita
koran mingguan, Karin mengutak-atik editorial yang bertuliskan “Jurnal Ilmiah
Syarat Wajib Kelulusan.” Sesekali ia melihat siaran berita televisi yang
dihiasi korupsi, gengsi, dan cinta-cintaan. “Apa tidak bosan rakyat Indonesia
disuguhi informasi abal-abal seperti ini?” Gumam Karin.
“Nyata-nyata rakyat Indonesia dibutakan demokrasi. Ingat waktu pecah
peristiwa Reformasi. Semua mendewakan demokrasi, seolah-olah menegakkan
demokrasi itu mudah. Jika mereka masih ingat pelajaran sejarah kelas XI SMA,
Pois Athena yang mengagungkan demokrasi ternyata lebih mudah dihancurkan. Lalu,
apa yang kita harapkan dari demokrasi? Kebebasan? Orang nyata-nyata makin
banyak orang bablas. Bablas miskin, bablas bodoh, bablas punya anak padahal
belom nikah.”
Diambilnya remote televisi di atas meja, dengan kesal Karin mematikan
televisi, melipat koran, dan melenggang ke halaman belakang rumah. Disana ia
bertemu bapaknya, Karso, yang sedang
kegirangan memberi makan ikan. Karin dengan muka kesal segera menghampiri Karso.
“Kenapa sih pak, pemerintah itu nggak bisa mengerti. Bisanya cuma
pura-pura ngerti aja.” Tanya Karin.
Karso tersenyum, “Maksud kamu apa? Sudah syukur kamu bisa hidup cukup,
kuliah, dan kebutuhan sehari-harimu terpenuhi.”
Ini lho anak saya yang baru datang dari Mesir. Kata pak Gatot. Ia
mempersilahkan si anak tadi duduk. Jadi pak Karso, anak saya ini lulusan
Universitas Kairo. Ia baru saja lulus dengan predikat cumlaude. Asal bapak
tahu, anak saya termasuk sepuluh besar lulusan terbaik di sana. Hebat kan pak? Karso
mengangguk-angguk. “Bu, ada tamu. Tolong buatkan minum.” Teriak Karso.
Apa kabar bu? Tanya pak Gatot. Ia melempar senyum kepada bu Karso.
“Baik pak. Ini to anak bapak yang
dari Mesir?”
“Lho iya.. Bagaimana menurut ibu? Hebat kan anak saya?” Jawab pak Gatot semangat. “Saya dengar anak ibu, Karin,
sudah masuk tahun terakhir pendidikan tingginya? Apa benar bu?” Ujar pak Gatot. “Seharusnya sekarang dia di
rumah kan, pak? Bu? Bukannya sudah masuk masa liburan?”
Bu Karso hanya tersenyum. Meletakkan tiga cangkir berisi teh di meja.
“Karin masih punya jam ngajar, jadi
ia belum bisa pulang. Insyaallah hari Kamis depan ia pulang. Ayo silahkan diminum,
pak Gatot.” Bu Karso mempersilahkan. “Saya ke dalam dulu.”
Hebat kau Karso. Memang dari dulu kau pandai memilih wanita. Hahaha.. O
iya. Sampai dimana pembicaraan kita tadi?
Pak Gatot seolah berpikir.
“Soal Karin?” Cetus Karso.
“Ya! Anakmu yang cantik itu. Apa sudah kau pikirkan masa depannya?
Maksudku, sudahkah ada calon pendampingnya? Suaminya.” Karso melirik anak pak
Gatot. ia menarik nafas panjang seraya meletakan cangkir di atas meja. Mngambil
posisi duduk yang lebih nyaman.
Tunggu sebentar,
aku hanya ingin mengingatkanmu. Sebenarnya, sudah lama aku ingin melambaikan
tangan dari anjungan kecil ini. Tapi, lagi-lagi karena hal yang sangat kecil
itu, semuanya urung kulakukan.
“Semua ini
salahmu.” Ia mulai menatapku. Nada bicaranya sangat tinggi, rok merah mudanya
terurai lembut ke tanah. Sebuah tas jinjing yang semula ia pegangi, sekarang ia
letakkan pelan di dekat simpuhannya. “Selalu saja itu, seenaknya kau
bermain-main dengan perasaanku. Apa kau kira aku ini kambing? Ha!!!”
Aku memalingkan
pandanganku ke seberang sungai. Sedikitpun berusaha memaki diri sendiri di
ujung anjungan kecil.
“Ini, kau lupa?”
Teriaknya sambil mngangkat sehelai selendang hijau tua. Selendang itu bergelayutan
terkena hembusan angin sore. “Ini, kau masih ingat, bukan? Jawab!!!!” Teriaknya
lagi. Kali ini ia menjatuhkan selendang
dan menyodorkan kotak kecil dari kayu akasia. Tentu saja aku
terperanjat. Tapi aku tidak sedikitpun berpaling.
Ia menjatuhkan
diri. Menangis.
Aku selalu
datang. Aku juga masih ingat semua itu. Tidak mudah kulupakan.
“Lalu?”
Kepalanya mendongak. wajahnya sudah merah dan berlumuran air mata. Aku berbalik
dan menatapnya heran. “Kau sudah mengerti sejak dahulu. Egomu yang membatasi
ketulusanmu. Semua ini bukan semata salahku.” Kataku pelan.
“Tidak. Kau
memang bajingan.” Ia memberontak. “Ini semua salahmu. Kau salah. Kau yang
kalah.” Ia mulai mengumpat. Nadanya semakin lama semakin tinggi. Aku langsung
memeluknya. Benar-benar memeluknya dengan sangat erat. Air matanya mulai
membasahi pundakku. Sulit baginya memang. Tangisnya tulus.
Sejujurnya saat
itu ia seperti Rapunzel ketika rambut ajaibnya ia relakan untuk dipotong. Aku
membelainya. Aku tahu ia sangat tertekan waktu itu. “Maafkan aku. Sebaiknya
segera kau pergi. Aku tidak mengusirmu. Tapi, mempersilahkanmu.” Aku berbisik
kepadanya. Ia masih terisak-isak dalam pelukanku. Pelukannya semakin erat dan
membuatku gusar.
“Sudah. Kau bisa
Julia. Aku tahu ini pasti sulit, tapi jangan kau buat lebih sulit.” Aku
berusaha merayunya. “Selamat jalan Julia.” Kataku singkat. Kulepaskan
pelukannya pelan-pelan dan menjauh perlahan. Julia tertunduk, lalu tersipu di
ujung anjungan. Sejak saat itu, aku tidak mendengar kabar Julia.
**
Bangun dini hari,
menghangatkan diri dengan secangkir kopi, dan menikmati sejuk pemandangan
berlatar sungai. Meskipun kadang-kadang kabut memutihkan hijau dan rindang
pepohonan diseberang sungai. Malam tadi aku tidak pulas tertidur. Gelisah. Asal
kau tahu, saat ini masih tercecer lembar-lembar kertas tulisan tanganku. Setidaknya
ada beberapa lembar yang sudah aku rampungkan. Sisanya menjubal di dalam tong
sampah, berserakan di atas ranjang, dan terinjak-injak di dasar lantai.
Selepas Julia
pergi, aku rajin menulis sajak-sajak kecil pada lembaran kertas, dengan
tanganku sendiri. Biasanya aku menulis ketika sang surya akan terlelap. Tempat favoritku
adalah di mejak kecil yang berdiri tepat di jendela kamar. Jendela itu menghadap
langsung ke arah barat, dari situ Aku dengan jelas melihat sungai yang
berkelok. Indah.
Entah sudah
berapa judul puisi, berapa sajak, dan bait yang sudah kutulis. Aku tidak begitu
peduli berapa jumlahnya. “Aku sudah hafal semua sajak yang aku tulis.” Begitulah
jawabanku ketika beberapa orang penghuni komplek mempertanyakan jumlah
sajak-sajakku. Aku dan mereka, tetangga kamarku dan segelintir orang merasa
dirinya manusia, sudah tidak mengerti lagi apa arti keluarga. Kami sudah
terlalu memahami makna keluarga. Rasa kekeluargaan kami tidak hanya berdasarkan
ikatan darah. Tidak seperti manusia di luar sana. Lantang berteriak, “Kami
adalah saudara, kami adalah keluarga, satu bangsa, satu bahasa….” Tapi mereka
lupa. Lupa makna keluarga.
Ada lagi. Ini cerita
dari penghuni kamar sebelah. Namanya Seno, ia keturunan Jawa dan beraga Islam. Pernah
ia sedang merenung di anjungan sungai saat malam bulan purnama. “Kenapa bulan
tak selalu bulat setiap malam?” Aku masih berjalan mendekat ketika ia
menanyakan hal itu. “Dan kenapa matahari selalu bulat setiap hari?” Tanyanya
lagi.
“Sudah menjadi
kehendak Tuhan.” Jawabku. Lalu aku duduk di dekatnya. Ia mengambil batu kecil
dan melemparnya ke tengah sungai. “Kenapa bulan tidak pernah protes kepada
Tuhan?” Seno kembali bertanya. “Aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Aku hanya
percaya, Tuhan memiliki maksud dibalik itu semua.” Kataku pelan.
“Kau terlalu
bodoh.” Sanggah Seno. Ia berdiri dan memandangi purnama. “Hei bulan, kau
senang? Apa kau tidak bosan dengan hanya memantulkan cahaya matahari? Kata orang
cahayamu itu indah, cahayamu itu menyejukkan. Bukankah kau hanya memantulkan
cahanya matahari? Kau tidak malu?”
Seno kembali
duduk dan menatapku. “Kau benar, seno.” Ujarku. Seno tersenyum. Ia kembali
melihat purnama. “Hei bulan, kau tidak perlu malu. Kau adalah temanku,
keluargaku. Kau selalu mengingatkanku. Karena aku masih tinggal di bumi.”
“Maksudmu?”
Tanyaku. Seno segera menatapku. Matanya menjuling dan posisi duduknya berubah. “Waktuku,
waktuku, dan waktu mereka tidak sebanyak orang-orang di luar sana.” Katanya
dengan santai. Aku mengambil nafas dalam-dalam. “Iya, aku mengerti. Kita akan
berjumpa lagi dengan Tuhan kita. Tidak lama lagi.”
Seno menundukkan
kepalanya. Badannya terlihat melemah. “Aku, kau, dan mereka…” ia memandangi
komplek. “Ibarat bulan yang memantulkan cahaya dari Tuhan. Cahaya itu tidak
selalu indah bukan? Biarlah, cahaya kita tidak indah untuk kita, tapi pantulan
cahaya kita akan indah untuk orang-orang di luar sana.” Lanjutnya.
“Bersyukurlah.
Tuhan memberikan kita jalan hidup yang spesial.” Kataku sambari menepuk
pundaknya.
Ia kembali
bercerita lagi. Kali ini tentang saudara seagamanya. “Kata bapakku, semua umat
Islam itu saudara. Ibarat tembok yang kokoh.” Katanya.
“Iya, kamu
benar.” Tukasku singkat.
“Kau tahu? Berapa
banyak jumlah orang yang mengaku Islam di Indonesia? Apakah mereka masih saling
menyapa ketika di dalam kereta? Apakah mereka masih mengucapkan salam ketika
bertegur sapa? Lalu, kenapa mereka mudah mengkafirkan saudara mereka sendiri?
Lalu, kenapa mereka tidak pernah mau memanusiakan saudara mereka sendiri?” Ia
mengangkat tangannya. Menunjuk ke langit malam yang berhias purnama dan
bintang-bintang.
Aku diam saja. Tidak
ada keinginan untuk menjawab pertanyaan Seno. Ya, sedikitpun tidak. Karena aku
sendiri selalu merasa jauh dari saudaraku yang seiman. Mungkin kalian juga
pernah merasakan hal yang sama. Tapi, kalian beruntung masih bebas memilih
saudara kalian sendiri. sedangkan Aku, Seno, dan sekelompok kecil manusia
disini, tidak seberuntung kalian yang diluar sana.
“Aku harus
kembali ke kamar.” Kataku. “Baik, buatkan sajak untukku!” Ujar Seno. Ia membalikkan
badannya ke sungai. Aku melenggang ramah menuju kamarku. “Hei, titip salam
untuk Julia.” Imbuhnya. Aku tersenyum kecil. Seolah-olah Julia masih mau membaca
surat-surat dan sajak-sajak rumpangku.
Aku merebahkan
diri di atas kamar tidur kecil berbalut sprai putih. Dan kubiarkan malam
berlalu seperti biasa. Untuk bangun di kala pagi buta, dan merajut kembali
benang-benang kehidupan yang terurai acak dalam sebuah librium kehdiupan yang
singkat.
Sekarang aku mencari keadilan. Tidak ada laki-laki
yang sekeji itu selain dirimu. Bukan karena aku lahir di pedesaan kumuh yang
berair payau, berbau amis, dan penuh sesak dengan kubangan lumpur menjijikkan.
Kau ingat, ketika tubuhku kau nikmati dengan bengis birahimu? Aku memaki-maki
diriku sendiri disudut kamar kita. Tidak sekalipun kau menatapku, apalagi
membelaiku dengan jari-jari tanganmu yang kasar. Tidak lagi. Tidak seperti
dulu. Sebelum rahimku berhenti menyediakan benih seorang bayi. Iya! Aku mandul.
Aku mandul. Aku tidak bisa memberi keturunan untukmu. Keturunan yang berhulu
dari spermamu. Dan menjadi darah dagingmu.
Aku tidak akan menyalahkan Lindu, juga Teti. Mereka
tidak mandul. Mereka gadis subur yang bisa memberi keturunan untukmu. Kau akan
bahagia dengan mereka. Aku lebih senang dimadu dengan Teti, ia perempuan
baik-baik. Aku yakin itu. Ayahnya memang berandalan, tapi ibunya tidak
berandal. Aku yakin, kita bisa rukun. Asalkan kau bisa berlaku adil. Memang
sangat berat untukku. Tapi aku masih isterimu. Perintahmu adalah jalanku ke
surgaNya.
Kerumunan
orang berbondong-bondong melihat jadwal keberangkatan kereta di stasiun pasar
Senin, seorang petugas berusaha menjawab pertanyaan beberapa orang yang
terlihat sedang menunggu sesuatu. Ruangan disebelah kanan pintu keluar telah
dipenuhi beberapa orang yang sesekali melihat jam dinding yang tergantung di
atas pintu masuk. Mungkin mereka pengguna jasa kereta api, atau sedang menunggu
kerabat, sahabat, kekasih, dan istri atau suami mereka.
Sudah
setengah jam aku berdiam dan hanya memandangi lalu lalang manusia. Sesekali
terdengar suara dari balik speaker mendengungkan kabar kedatangan dan
keberangkatan mereka.
“Ah..,
Lama juga keretanya, lali paling
masinise”. Gumamku dalam hati. Selang beberapa menit, speaker yang tergantung di atas plafon atap stasiun memberikan informasi
kedatangan KA Gumarang kelas bisnis jurusan pasar Senen – pasar Turi.
Setelah kembali ke dunia nyata, Aisyah tidak banyak berubah. Mimpi yang
cukup buruk dan menyesakkan tidur malamnya. Rahmat, Inah, dan Rasmi semua hanya
mimpi. Mereka benar-benar tidak ada dalam perjalanan hidupnya. Juga pondok
pesantren Al-Harun, santri-santri dan Kiyai Soleh dan isterinya. Hanya bunga
tidur. “Masa bodoh, semua itu sekedar mimpi.”
Setelah basah kuyup karena guyuran ‘hujan’ air sisa cucian, ia mandi
lebih keras. Sabun colek yang tergantung pada pintu dapur ia sabet. Handuk bergambar
tokoh kartun Walt Disney, Donal Duck, ia selimutkan diatas kepalanya – meskipun
gambar tokoh kartun tersebut sudah sulit dikenali. Kamar mandi tidak jauh dari
dapur, hanya dipisahkan oleh sumur berdiameter 120 cm, yang digali sendiri oleh
mendiang bapaknya. Jalan ke kamar mandi dihiasi oleh batuan kali. Batuan itu
tertempel pada tanah. Hanya menempel. Sekelilingnya penuh dengan tanaman hias
yang terlihat buas. Anyelir, Adenium, Mawar hingga pohon pisang hidup dengan
damai disana. “Mak, airnya dihabisin siapa? Masak harus nimba lagi. Bisa-bisa Michele
Leigh McCool nyembah-nyembah sama aku.” Teriaknya dari dalam kamar mandi. Handuk
yang menempel di bahu kanannya ia gantungkan di sebuah paku yang menancap di
dinding kamar mandi. Disisingkan lengan kaos birunya. Sebelah kanan dulu. Yang kiri
mengikuti. Ia beranjak ke sumur. Meraih tali katrol sederhana dari tambang
bekas tali kambing. “Srutt..Kriek..Sruutt..Kriek” kira-kira seperti itu
bunyinya ketika Aisyah mulai mengerek tali. Pelan tapi pasti. Sebuah timba
bergantian keluar masuk. Pas masuk kedalam sumur timba itu kosong. Sebaliknya,
ketika keluar, timba sudah berisi air dari sumur. Mulailah gentong dalam kamar
mandi terisi air. Air yang mengalir dari sebuah saluran air dari bambu yang
dibelah dua dan dibersihkan buku-buku bambunya. “Ini tidak kalah sama fitness pakai
single station 15” Gumamnya.
Gentong terisi penuh. Aisyah terduduk di bangku dekat pintu dapur. Matanya
tertuju pada gedung apartemen Julang Mas yang baru diresmikan kemarin malam. Tidak
lama ia memandangi apartemen itu. Diambilnya air di dalam timba terakhir. Disiramnya
tanaman hias yang sedikit memiliki nilai estetika disekitar sumur tadi;pohon
pisang, anyelir, adenium, dan bonsai pohon asem yang berdaun ompong. “Duh, aduh...
Udah jam berapa Ais?” Tiba-tiba suara si Emak menggelegar. “Biasanya jam berapa
Mak?” jawab Ais. Emak segera memungut sandal jepit multi warnanya. “wussss…Plak!”
Lemparan pertama meleset. Pohon adenium berbunga merah blasteran putih tulang
menjadi korban ke ganasan sandal Emak. “Lho, Mak! Kasihan adeniumnya! Kan..”
belum sempat melanjutkan omongannya, Emak sudah memasang kuda-kuda. Seperti tokoh
pendekar dalam cerita-cerita karya Chin Yung. Alis Emak sudah mengkerut.
Matanya menjuling. Segera Aisyah melepaskan timba yang berisi sedikit air. Ia berlari
menerobos ke kamar mandi. Belum sempat Emak melepaskan sandal ke duanya yang
berwarna biru. “Slamet..slamet..!” Bisik Aisyah dalam kamar mandi.
Srrrrriiiiikkk…Gletak!!!...Byuuurr..!
Dan suara teriakan terdentum. “Aisyaaaaaahhhh!” Aisyah tersentak. “Ya.. Mak?”
Sahut Ais dari dalam kamar mandi. Kemudian kepalanya menjulur keluar dari balik
pintu. Celana boxer dan handuk biru tadi yang menempel ditubuhnya. Dilihatnya Emak
sedang basah kuyup dengan posisi kuda-kuda ala jago silat. Tentunya sandal jepit
biru ditangan kananya. “Lho? Emak kok mandi
lagi?” Imbuh Aisyah. Ia lantas masuk kembali ke kamar mandi setelah mendapat
lirikan tajam disertai muka suram Emak. Siulan tak berdosa pun segera bersua dari balik pintu kamar mandi. Disertai bunyi
deburan air dari gayung yang menabrak tubuh dan jatuh ke tanah.
**
Sebuah buku tulis dan catatan kecil dalam lembaran acak ia masukkan ke
dalam tas sekolah. Sebenarnya tidak seperti tas sekolah. bentuknya lbeih mirip
kantung beras putih yang bertali di sisinya, sehingga bisa digendong di balik
punggung. Kata orang-orang sih tas
gaul. Tapi Aisyah sudah memakai tas itu setika masuk SD 14 tahun yang lalu,
sekitar tahun 1994. Pas waktu anget-angetnya pelajaran P4, dan puncak kejayaan
Pramuka. “Nasi, tempe, kangkung, sambel. Emm.. enak nih?” Celotehnya sambil mengamati menu makanan di meja makan. Air minum
ia tuangkan dari kendi yang terbuat dari tanah liat ke gelas berbahan
alumunium. Piring platik, bukan berbahan melamin, nasi dua entong, tahu dua
potong, tempe dua potong, dan sambal tiga sendok makan. “Lha, kepuruknya mana
Mak?” teriaknya kepada Emak yang sedang menyapu halaman rumah.
“Di atas lemari bupet!” Sahut Emak.
“Tinggal 3 biji ya Mak? Kira-kira Emak bisa habisin berapa?”
“Satu aja cukup.” Aisyah mengambil 2 biji kerupuk putih berbandrol Rp.
200 per biji tersebut. Hidangan sarapan dilahapnya. Tidak lupa ia cuci dulu
piring dan gelas. Tanpa sabun cuci dan usap-usap, yang penting kelihatan
bersih, masa bodoh dengan higienis, steril, dan kawan-kawan.
“Mak, Ais berangkat cari ilmu lagi! Emak masih kerasan kan dirumah
sendirian?” Aisyah berpamitan. Cium tangan kanan dulu. Aisyah melesat melewati
pagar rumah tetangga. Menyelinap di balik gang kancil. Melewati jembatan yang
melayang diatas sungai berair sampah dan sejenisnya. Atau bukan sungai, comberan.
Lalu menghilang dari pandangan Emak.
Sejak kelas 4 SD, Aisyah hidup dua batang kara bersama Emak. Dunia ditinggal
bapaknya ketika bergejolak peristiwa Reformasi berkecamuk di tahun 1998. Bapaknya
bernama Cok Tjian adalah salah satu korban kerusuhan yang terjadi di Jakarta,
13-14 Mei 1998. Kerusuhan yang dipicu penembakan aparatur pemerintah terhadap
Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Aisyah
dan ibunya tidak pernah menyemayamkan bapak satu-satunya itu. Tapi Emak yakin
suami tercintanya itu sudah tiada. Emak beberapa kali ditemui bapak lewat
mimpi. Dan Emak percaya itu benar-benar petunjuk dari yang Maha Kuasa.
Hidup berdua di rumah sederhana dengan bunga-bunga alakadarnya bukan
hal mudah. Setidaknya ketika tahun-tahun pertama dan kedua. Emak harus berjuang
menjadi orangtua single. Sedangkan Aisyah
harus berusaha menjadi single child. Artinya,
pupus sudah keinginannya mempunyai adik. Berbeda dengan sahabatnya, Yona, yang orangtuanya
langsung meberikan dua orang adik sekaligus dalam sekali produksi. Mungkin saja
orangtua Yona gemar Puasa Patigeni dan menguasai aji Semar Mesem. Jalan Tuhan
memang selalu indah untuk hambanya. Hal inilah yang mendasari kekuatan Emak dan
Aisyah bertahan. Bisa saja Aisyah memiliki adik, tapi ia tidak ingin adik
berbeda bapak. Tapi masa iya, Emak bisa punya anak dengan orang yang sudah
mati? Jangan-jangan disangka Bunda Maria second
edition? Tapi itu mungkin bin mustahil. Lho? Jadinya ya tidak mungkin.
Aisyah mengakrabkan diri dengan satpam sekolah. Seperti lagak Ki
Juragan pada awal kisah perang Campuh – Karta Sura dan Sura-Baya – waktu kembali
ke Paronggahan bersama Panji Sugeng Rana. Pak Beno, itulah nama satpam sekolah
yang bagian jaga pintu masuk. Orangnya pendek dan berkumis tebal. Kepalanya sedikit
kotak dengan variasi hidung lebar. “Pak, dulu pernah punya pacar nggak waktu SMA? Berapa pak?” Tanya
Aisyah sok akrab.
“Ya mesti punya.” Jawab pak Beno dengan nada sedikit congkak.
“Mirip siapa pak?” Aisyah memancing pembicaraan.
“Yang pasti jauh beda sama kamu.”
“Ooo..” Aisyah membalikkan badan. Ia mulai memandangi jalanan dan
sekitar. “Cowok pak?”
“Opo? Yo pasti cewek, wadon, harim.” Pak Beno menyambar Aisyah. “Saya
sudah hafal jurus kamu, ndak bakal mempan dan ndak bakal mujarab lagi rayuan
basi-basa kamu.” Pak Bona keluar dari pos jaganya. Memegangi kunci gerbang dan
berjalan sombong ke depan. Putar badan, dan berjalan ke depan lagi.
“Nanti malam jagoin siapa pak?” Aisyah mencoba meleburkan suasana. Ia tahu
ada pertandingan final liga champions eropa nanti malam.
“Ya pasti MU to!” Sahut pak Beno.
“Berani pasang berapa pak?”
“Nantang nih
ceritanya?” Pak Beno semakin menjauh dari pos jaganya.
Ia memiliki kharisma yang tinggi.
Bukan hanya karena ia anak seorang kiyai, ia juga seorang yang memiliki
intelektualitas yang sangat tinggi. Kemampuannya dalam hal agama tidak
diragukan lagi. Banyak sudah yang berbondong ingin menjadikannya sebagai
menantunya. Tapi banyak juga yang pulang dengan tangan hampa.ia tak tampak
sedikitpun mirip dengan putri raja. Selir kaisar dan apalah namanya. Sangat
sederhana jika aku boleh mengatakannya. Semenjak mengenalnya, aku sadar,
ternyata ia tidak bbegitu cantik, tapi sangat menarik. Sangat susah untuk
menjelaskan runyamnya perasaanku kepadanya. Skalipun aku berkali-kali
memperoleh medali emas di setiap kompetisi menulis puisi, tetap saja sulit
bagiku menuangkan kalimat untuk melukiskan pribadinya. Nah, pribadinya itu lho, itu yang jarang dimiliki orang
lain.
Pertemuanku dengannya berlangsung
sebulan yang lalu. Bulan Sya’ban. Tanggalnya aku sudah lupa. Pokoknya antara
tanggal 6 sampai 9. Saat itu, aku masih remaja. Usiaku belum genap 18 tahun.
Kata psikiater ‘masih puber’. Karena dirumah aku sering berulah, menyusahkan
orang tua, dan kadang manja, aku dikirim ke pondok. Pikirku, daripada bapak dan
ibu terus sakit karena melihat tingkahku, mending aku jauh dari rumah. Nakal
dan berandal diluar lebih aman.
Tidak berat jika harus meniggalkan
rumah. Apalagi untuk belajar. Hemm.. dunia memang sulit dicerna. Sayangnya,
kalau masuk surga, kita harus hidup di dunia, tidak seperti malaikat-malaikat
tak bersyahwat itu.
Beberapa orang sibuk dengan buku kecil
bertuliskan huruf arab gundul. Ada yang berpakain mewah, ada yang memakai baju
takwa, da nada juga yang hanya mengenakan kaos oblong. Untuk bawahannya, mereka
kompak memakai sarung. Tidak ada yang mengenakan celana kain, apalagi jeans.
Aku hanya meamndangi mereka. Berlagak sebagai santri baru yang butuh perhatian
dan pengarahan. Diam saja. Tak lama kemudian, seorang pria agak tua
menghampiriku. Ia duduk disebelahku. “Santri baru ya nak?” Ia bertanya. “Iya,
bapak pengurus pondok sini ya pak?” Aku balik bertanya.
“Semua santri dan keluarga pak kiai
adalah pengurus pondok ini.” Jawabnya. “Asli mana? Tanyanya lagi.
Oleh, Mang Oejank Indro, tinggal di
http://mangoejankindro.blogspot.com
Semua dianggapnya sempurna. Meskipun ada yang salah, ia hanya menggeleng-geleng
kepala. Lalu menjauhkan rasa dengki. Tanpa ada kata yang terlontar. Membisu
saja. Padahal, usianya sudah baligh. Sekarang ia sudah jadi mahasiswa di
universitas ternama di Indonesia. Semoga sikap lugu dan neriman tidak sepenuhnya segan ia budayakan. Jika terus-terusan
seperti ini, ia akan terbiasa dengan intimidasi dan mudah ditarik oleh lingkungannya.
Entah mengapa ia bertingkah seperti keledai dungu. Hanya diam saja. Seperti awal
semester ini, disaat sejumlah penerima beasiswa sedang gaduh menuntut
pencaiaran dana biaya hidup (living cost),
ia hanya mesam-mesem. Apa ia tidak memikirkan nasib ketiga adiknya yang
menggantungkan makan dari keringatnya? Apa ia tega melihat ibunya
berpanas-panas menikmati sengatan matahari di tengah sawah. Itu jika musim
kemarau, kalau musim hujan, ibunya harus menggigil berbalut air hujan. Tidak
cukup malukah ia dengan semua ini? Daripada jauh-jauh kuliah dengan
menggantungkan beasiswa. Sedangkan keuarga tertati menghidupi diri jauh di
pelosok desa.
Samidun nama sahabatku itu. Selama ini, ia menetap satu kamar denganku.
Aku yang menanggung biaya kosnya. Termasuk biaya tambahan listrik dan
sebagainya. Setahuku, ia hanya membawa dua stel baju tiga kaus dalam, dua
celana dalam, dan dua celana. Salah satu celananya pun sudah
bertaburan tambalan. Lebih parah lagi, resleting celana
tersebut rusak, dan setiap kali ia mengenakannya, dengkulnya selalu terjuntai
murka keluar. Naas dan tragis memang hidupnya.
“Dun, kamu itu lho, hak kamu itu sudah di cederai. Kok malah nyantai,
leha-leha, koyokwong sugih aja.” Malam ini aku menegurnya. Sengaja aku memecah
konsentrasi belajarnya. Kadang-kadang aku getir sendiri. membayangkan ia dengan
tenang menjalani hidup, meskipun tidak tahu besok mau hidup dengan apa.
“Wo, hidup itu sudah ada yang ngatur. Nyantai aja. Hidup kok dibikin susah.” Jawabnya. Ia segera
menutup buku kalkulus 1 yang tebal itu.
“Lho, bukan gitu Dun..”
“Terus..?” Aku memotong.
“Kamu percaya tidak kalau Tuhan itu maha adil?”
“Yo mesti percaya…”
“Nah, itu, itu jawabnnya. Buktinya, aku
masih bisa hidup meskipun sekamar sama kamu.”
“Maksutmu opo cok? Ndak suka sekamar sama
aku?”
“Ha ha ha. Yo nggak apa-apa. Terimakasih.” Ia mletakkan buku
kalkulusnya di meja kecil. Antara kursiku dan kursinya. “Dun, adikmu, Sumi,
sudah lunas biaya ujiannya?” Tanyaku. Samidun mengangkat kakinya. Posisinya
seperti orang di warung kopi. Pandangannya memusat ke langit. “Woi, ngalamun.
Aku tanya cok!” Sengaja kubuyarkan lamunan Samidun. “Belum Wo, masih tunggu
beasiswa cair.” Jawabnya melas. Guratan dahinya mengkerut-kerut. “Hemmm, memang
Tuhan maha adil.” Gumamku. “Raimu, asu.” Aku hanya tertawa liar. “Makannya,
beasiswa itu hakmu, kalau memang yang member hak itu tidak melaksanakan
kewajiban, tanya dong! Jangan mbideg
saja.”
“Iya juga ya Wo, kalau kamu kuliah dikirim dari dari rumah. Lha aku,
malah ngirim ke rumah.” Samidun mengigau. “Memang Tuhan Maha adil.” Tuturku
singkat.
“Mukamu memang muka susah.” Tukasku lantas tertawa.
“Waaah, kacau.”
“Eh, Dun, Samidun.. Tuhan memang
menyuruh kita untuk berusaha, tapi Tuhan tidak menuntut kita untuk berhasil.”
“Tumben kata-kata kamu putih, biasanya
keruh dan jorok.”
“Koyok raimu ndak aja Dun..!”
“Kalau aku masih demen sholat. Lha kamu,
perintah sholat wajib lima waktu, sing
dilakoni cuma telu.” Ujar Samidun
seraya menjitak kepalaku. “Oooo, asu!”
Hampir setiap malam, aku dan Samidun tidak pernah meninggalkan
rutinitas ngopi. Meskipun kopi
racikan sendiri. Rasanya tidak kalah dengan starbuck coffe yang mahal itu. Samidun
bukan orang bodoh, setidaknya itu yang aku tahu. Setiap Sabtu dan Minggu ia
habiskan hanya untuk menukar ilmunya demi rupiah. Hasilnya, ia bisa mengisi
perutnya dengan segumpal nasi dan pernak-pernik makanan lainnya. Urusan air
minum cukup isi ulang. “Wo, Minggu depan aku pinjem kemeja sama celana ya. Buat
ngajar.” Seperti biasa, Samidun selalu mengandalkan pakaianku dalam setiap jam
terbangnya mengajar. Sudah berulang kali aku merelakan beberapa baju dan
celanaku untuknya. Tetapi jawabannya selalu sama. “Sebentar lagi aku beli kok.” Hasilnya, selama setahun, ia tak
kunjung membeli baju, apalagi celana. Dasar Samidun.
Sebenarnya, menurutku, banyak Samidun-Samidun lain di sini, di
kampusku. Kampus berbintang nomor satu di negeriku. Tapi, Samidun yang satu ini
berbeda. Ia mengejar beasiswa untuk keluarga. Urusan makan dan minum sudah ia
dapatkan dari menjual ilmu di tempat-tempat kursus, dan kolom-kolomnya di koran
nasional. Memang berat bagi Samidun, ia harus menjadi ‘ayah’ bagi ketiga
adiknya, dan sekolah untuk masa depannya. Dalam benakku sangat yakin, kualitas
dasar kemanusiaan yang dimiliki Samidun akan sangat high qualified. Sayang sekali jika hanya karena orang-orang yang
memainkan hak orang lain, Samidun harus melihat adik-adik dan ibunya menggeliat
dalam persakitan ekonomi. Dan Samidun sendiri terganggu perjalanan akademiknya.
Pas awal menerima beasiswa, kata Samidun, ia dijejali berkas pernyataan yang
bermaterai. Di berkas itu ada poin-poin hak dan kewajiban antara penerima dan
pemberi beasiswa. Sayangnya, sampai saat ini penerima lebih diposisikan sebagai
‘isteri kedua’ daripada pemberi. Agamaku saat ini, mengajarkan bahwa hak
tetaplah hak, dan pemberi beasiswa itu tidak berhak merampas hak penerima.
Awalnya bilang A, ujung-ujungnya dilempar ke Z. Tentunya dibumbuhi alibi dan
alsan yang rasional juga. Tetap saja alasan. Di kampusku, hak seorang mahasiswa
kadang-kadang juga di buat mainan. Seperti hak Samidun. Dasar Samidun (siang
malam rindu dana turun).
oleh Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com
Namaku Aisyah, masih
gadis atau perawan. Usiaku sekarang 18 tahun. Bapakku seorang Kiyai, pemangku
pondok pesantren Al-Harun. Menulis sudah menjadi kegemaranku. Membaca apalagi.
Setiap keluar rumah aku mengenakan jilbab. Tidak lebar, tidak memakai kaus kaki
juga. Bajuku tidak terlalu ketat, tidak pula ngelombyor. Mengenakan celana pun
tidak riskan. Kegemaranku berkelahi. Karate olah raga favoritku. Tak peduli aku
anak pemuka agama atau bukan. Bapak dan Ibuku tidak melarang. Mereka memberi
kebebasan kepadaku untuk menjadi diriku. “Tuhan tidak pernah melarang manusia
masuk neraka.” Itulah kalimat yang sering aku lontarkan kepada orang-orang yang
sempit pikiran dan hatinya. Tapi aku bukan manusia penggila surga, meskipun aku
selalu merindukan tempat itu.
Disekolah, aku selalu
dimudahkan oleh pengajar, guru-guruku. Mungkin aku anak seorang ulama’. Ah,
tetap saja aku tidak suka diistimewakan. Anak kiyai juga banyak yang berandal
dan bajingan. Mungkin aku termasuk golongan bajingan itu suatu hari nanti. Aku
tidak sangsi dengan kitab kuning, Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, Akidah
al-Awam, sitiran karya Imam Syafi’i, Yusuf Qardhawi yang diusianya ke-10 sudah
hafal Al-Qur’an, sampai karya Emile Dermenghem, juga pemikiran Guibert de
Nogent dan Comte Boulainvilliers. Urusan selera musik, aku juga tidak risih
menikmati Ode to Joy karya Ludwig van
Beethoven, La Mer ciptaan Claude
Achile Debussy, hingga The Magic Flute karya
Wolfgang Amadeus Mozart. Bagiku semuanya adalah kuasa Allah SWT. Toh, mereka yang muslim maupun non-muslim
tetap dirahmati Allah.
Oleh, Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com
Seharusnya tidak aku
jadikan ini sebagai masalah yang besar. Sebenarnya tidak lebih dari tar-tarian,
nyanyian dan tabu-tabuhan belaka. Resti juga, kenapa dia sok najis dengan
hal-hal mistis. Lagian, mereka juga berTuhan. Tuhan mereka masih satu. Harusnya
Resti yang minta maaf, bukannya aku. Dan lagi, Resti pendatang baru
dikampungku. Apa yang dia tahu tentang slametan? Ngaku orang Islam, tapi antipati
sama kegiatan orang Islam. Apa ibunya tidak pernah sekolah? Atau bapaknya bukan
santri? Paling tidak, mereka mengajarkan Resti apa itu toleransi dan
menghargai. Pikiranku tentang orang yang lahir dan lama hidup di kota, tidak
perlu yang megapolitan, yang metropolis saja, spertinya sudah lupa.
oleh, Mang Oejank Indro, tinggal di htpp://mangoejankindro.blogspot.com
Namaku Aisyah, masih gadis atau
perawan. Usiaku sekarang 18 tahun. Bapakku seorang Kiyai, pemangku pondok
pesantren Al-Harun. Menulis sudah menjadi kegemaranku. Membaca apalagi. Setiap
kaluar rumah aku mengenakan jilbab. Tidak lebar, tidak memakai kaus kaki juga.
Bajuku tidak terlalu ketat, tidak pula ngelombyor.
Mengenakan celana pun tidak riskan.
Kegemaranku berkelahi. Karate olah raga favoritku. Tak peduli aku anak pemuka
agama atau bukan. Bapak dan Ibuku tidak melarang. Mereka memberi kebebasan
kepadaku untuk menjadi diriku. “Tuhan tidak pernah melarang manusia masuk
neraka.” Itulah kalimat yang sering aku lontarkan kepada orang-orang yang
sempit pikiran dan hatinya. Tapi aku bukan manusia penggila surga, meskipun aku
selalu merindukan tempat itu.
Langit di kota Depok membiru dan
cerah siang ini. Sekelompok orang sedang bercengkeramah di sebuah warung kopi
yang berjarak lima
belas meter dari rumah yang aku diami. Akrab. Kepulan asap rokok terbang dengan
tenang di atmosfer canda dan tawa mereka.
Gulungan kertas
berserakan di meja depan rumah, aku berusaha membereskannya. Laptop yang telah
menyala di teras rumah sengaja aku tinggal sejenak. Layar laptop berwarna perak
tersebut menampilkan potret perempuan dengan lesung pipi yang sudah familiar di
benakku.
Dengan rendah
hati sang penulis buku ini memulai kisah hidupnya dengan menyatakan secara
lansung ke pembacanya, “Ini adalah sebuah kesalahan yang saya lakukan dalam
hidup saya”. Sebuah pengakuan pribadi di awal kisah tentu menempatkan dirinya
dalam posisi “genting”, dipersalahkan pembaca.
Tapi pembaca
sebetulnya sudah tidak perlu berepot-repot menyalahkan Mbak Ning—sapaan akrab
dari si penulis buku, Mundhi Sabda Hardiningtyas—selama membaca fragmen
kehidupan ini. Sudah banyak perwakilan untuk posisi “pencemooh” Mbak Ning,
daftar itu bisa dimulai dari teman-teman pelayanan dan rohaniwan yang terlibat
dalam kehidupannya, berikutnya barangkali adalah masyarakat sekitar, lalu bisa
keluarga dekat, dan seterusnya.
-->Terik matahari menyengat lapisan sial bumi hingga menerobos masuk ke lapisan sima. Disudut kota Gresik dengan selimut asap dan polusi yang semakin menebal, dua gadis remaja berjalan pelan, lemas. Fatamorgana berair-air terbiaskan di sepanjag jalanan menuju gubuk kecil di sebelah sungai yang berhias sampah dan limbah industri. Hari ini memang panas, memang Gresik selalu panas.
Gubuk tua itu semakin jelas terlihat, kedua remaja putri ini semakin dekat dengan rumahnya. Rumah peninggalan mendiang ayah mereka yang meninggal dua tahun silam. Di dalam gubuk tua itu seorang perempuan rentah terlihat serius membuat gorengan. Disampingnya terdapat kompor, wajan, dan alat penggorengan lainnya.
“Assalamu’alaikum…!” Yenia mengucap salam.
“Wa’alaikumsalam..” sahut perempuan rentah dari dalam gubuk tua tersebut.
Yenia segera berlari mencari sang ibu, Halimah, dan mencium tangannya seperti biasa. Sedang kakaknya, Zunia, masih terlihat sibuk membereskan sepatu miliknya. Zunia kemudian merangsek masuk, meletakkan tas sekolah dan mencium tangan ibunya.
Halimah menjadi single parent sejak suaminya meninggal akibat kecelakaan di tempat kerja. Dia harus berjuang sendirian melawan kerasnya belantara kehidupan dan menyekolahkan kedua putrinya.
Saat ini Zunia sedang mempersiapkan diri mengikuti ujian nasional, yang akan dilaksanakan seminggu lagi. Sedangkan Yenia masih duduk di kelas satu SMA. Mereka menempuh pendidikan di SMA yang sama.
*
Malam ini suasana sangat hening, nyanyian belalang tak terdengar. Kemericik air sungai yang keruh dan penuh dengan sampah menambah hening dan dinginnya malam ini. Sepoi angin lembut menghantam tubuh Yenia yang sedang bergulat dengan pekerjaan rumah dari gurunya. Besok adalah giliran Yenia mempresentasikan hasil karya tulisnya. “Aduh….besok aku bisa nggak yo?” Ujar Yenia.
“Kalau kamu yakin dan berusaha dengan keras yo pasti bisa..” Halimah menggerutu dengan nada sedikit halus. “Masa kalah sama mbakmu?” tambahnya.
“Tapi angel e Bu!” Sahut Yenia.
Disaat Yenia sedang sibuk dengan pekerjaan rumahnya, Zunia sedang asyik melihat-lihat brosur dan katalog berbagai perguruan tinggi negeri (PTN) dan swasta. Zunia sangat ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Matanya tak ingin melwatkan sekecil informasi yang tertera di brosur dan katalog di depannya. Tangannya membalik-balikkan brosur dan katalog itu seraya berkata “ Bu, aku ingin kulyah di Malang.” Halimah yang bersandar di dekat pintu depan rumah hanya mendesah, dahinya mengrenyit. “Ibu kepingin kamu kulyah, nak..tapi…!!”
“Tapi apa bu..?” Zunia memotong.
“Ibu nggak bisa janji, tapi ibu akan berusaha..”
“Aku juga akan berusaha bu!”
Dari teras rumah Yenia berteriak dengan nada sedikit bercanda. “Kak, lek kulyah gak usah pacaran yo…!!” Zunia dan ibunya tertawa. “Wis ndang seleaikan PRmu!” Halimah berkata dengan melempar tatapan gemes pada Yenia.
Malam itu pun berlalu dengan segala kesunyian – desiran jangkrik dan belalang yang terdengar – menyelimuti mereka dalam tidur.
*
Sebulan telah berlalu. Zunia mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi (SNMPTN). Universitas Negeri Malang (UM) menjadi pilihan utamanya. Dia berencana mengambil jurusan Pendidikan Matematika. Memang matematika adalah kegemarannya. Selama di SMA, nilai matapelajaran ini bisa di katakan perfect. Namun untuk masuk PTN tidak bisa hanya mengandalkan satu mata pelajaran saja – karena ada enam matapelajaran yang di ujikan. Apalagi di universitas yang memiliki reputasi seperti UM.
Tiga hari lagi pengumuman kelulusan ujian nasional SMA. Perasaan harap-harap cemas menghantui setiap peserta ujian. Mereka lulus atau mengulang?. Zunia berharap masuk ke 10 besar daftar peraih nilai UNAS se-Kabupaten. Karena jika dia mampu bercokol di sepuluh besar, kemungkinan untuk masuk ke PTN favorit akan lebih mudah.
Sore hari sebelum pulang sekolah, Zunia berencana untuk berkumpul bersama teman-temannya di sekolah – Yenia sudah meninggalkan sekolah dua jam yang lalu. Zunia dan teman-temannya berkerumun di bawah rindang pohon jambu yang tepat berdiri di depan kelas Zunia. Sepertinya mereka sedang asik membicarakan program beasiswa dari Departemen Agama.
“Eh, awakmu nggak ikut beasiswa dari Depag ta rek?” Tanya Mami.
“Itu kan buat yang rangkingnya masuk 3 besar selama lima semester!” Sahut Mpok Diah.
“Iyo, tapi kira bisa nggak yo?” Zunia berkata pelan. Dahinya mengerenyit.
“Lagakmu, Mosok Juara Kelas nggak bisa?” Celoteh Arin yang sedang sibuk memainkan telepon Nokia terbarunya.
“Heh, Ojo ngejek…!” Zunia menggerutu.
“Yo wis lah, ayo dilakoni wae..!!” Sahut Mami.
Dari arah selatan sekolah terdengar kumandang adzan ashar. Zunia dan teman-temannya bergegas meninggalkan sekolah. Hari ini sangat melehkan. Besok Zunia harus menyelesaikan persyaratan administrasi untuk beasiswa Depag. Beberapa berkas persyaratan harus di rampungkan hari itu juga. Sebelum melenggang pulang ke rumah, Zunia dan Mami harus mondar-mandir menyelesaikan berkas-berkas yang belum rampung.
Matahari mulai mnejauh dan tenggelam di ujung barat bumi. Langkah kaki Zunia terlihat letih, tenaganya sepertinya sudah habis. Raut wajah yang ceria sudah mulai runtuh. Seperti daun pohon jati yang berjatuhan di musim kemarau.
“Apes tenan dino iki rek!Kapan yo uripku wenak, dadi wong sugeh, iso berangkatno Ibu nang Mekkah!” Zunia menyumpah. Ransel berisi buku dan perlengkapan sholat seolah menambah beban dan fikirannya yang sedang kacau minggu-minggu ini.
Tikungan terakhir telah dia lewati. Rumah mungil yang kurang proporsional semakin terlihat. “Baru pulang Zun?” Tegur seorang tetangga, Bu Ruqayah.
“Ya, Bu!Banyak urusan. Itu sepeda motor siapa bu?” Tanya Zunia sambil menunjuk sepeda motor Mio yang terparkir di depan rumanya.
“Sebaiknya kamu cepet pulang nduk…!”
Zunia berjalan tergopoh-gopoh. Membelah sunyi malam itu. Fikirannya memutar memori tentang ketakutan dan kegelapan. Tak sempat melepas sepatu. Dia menuju ke sebuah kamar berpintu sehelai kain hijau tua. Matanya terbelalak, jantungnya bedeguk kencang, sekkujur tubuhnya gemetar. Dilihatnya seorang ibu yang belasan tahun mecurahkan milyaran tetes kasih dan sayang terkapar tidak berdaya, tubuhnya dingin, matanya terpejam, nafasnya terengah-engah, terserang stroke. Yenia tersedu, tangannya dengan erat memegang tangan kiri ibunya. Zunia terpaku, hanya berdiri dengan baluran air mata dengan seragam sekolah yang lusuh. Seketika itu perasaan yang menakutkan mengitari dimensi bawah sadarnya. Zunia masuk dalam sebuah kegalauan, pingsan.
****
Dini hari sebelum subuh, embun mulai menjalar dan membentuk bintik-bintik air di dedaunan. Ayam-ayam belum terdengar saling berkokok. Bulan pun masih terlihat gagah di langit Gresik saat itu. Fajar pertama mulai terlihat. Yenia masih pulas di kursi sebelah kanan tubuh tua rentah di atas tempat tidur. Kepalanya bersandar di tempat tidur. Kedua tangannya masih menggenggam tangan ibunya. Wajahnya sangat lusuh. Di ruang depan Zunia masih tergolek lemas. Seragam sekolahnya masih melekat di tubuhnya. Jilab putihnya tergeletak di meja bambu beserta segelas air putih dan obat sakit kepala.
Suasana sangat hening dan sepi pagi itu. Sebentar lagi adzan subuh akan meretas kedalam kesunyian. Pak Ampong, salah seorang tetangga semalaman tidur di teras rumah ibu Halimah terjaga dari tidur pendeknya. Kumandang adzan sudah berlalu. Dia membangunkan Yenia.
“Yen..Yen..Sudah subuh, ndang sholat disek..!” Tutur Pak Ampong.
Mata Yenia perlahan terbuka. Meliuk-liukkan tubuh, menguap sesekali.
“Yo, Pak. Matursuwon.”
“Mbakmu ora ditangeni ta?”
“Biar kulo sing nangeni, Pak. Bapak ke masjid dulu, jama’ah.”
“Yo wis, sabar yo nduk.” Pak Ampong bergegas menuju ke masjid untuk shalat subuh berjamaah.
Yenia mengamati sang ibu sejenak. Air matanya menetes – membasahi pipinya. Tangan kanannya yang halus membelai wajah ibunya. Jari-jarinya mulai menari di keriput wajah sang ibu. Tak ingin berlama-lama dengan suasana itu, Yenia beranjak dari kursi yang telah semalaman menjadi tempat tidurnya. Dia beranjak ke ruang depan. Tempat sang kakak, Zunia, tergeletak belum sadarkan diri. mungkin Zunia tertidur pulas setelah jatuh pingsan? Bisa jadi. Zunia kemarin memang disibukkan dengan lusinan urusan – beasiswa untuk kulyah – yang harus diselesaikan hari itu juga.
“Mbak… mbak, Bangun. Sudah subuh.” Yenia berusaha membangunkan. “Badan Mbak panas. Panas banget.” Mimik Yenia mulai khawatir. Dia bergegas mengambil handuk dan mendidihkan air.
Beberapa menit kemudian Yenia berjalan ke ruang tengah. Kedua tangannya menenteng bak berisi air hangat dan handuk. Dia berniat meletakkannya di kening sang kakak. Zunia sudah meninggalkan ruang tengah. Dia tersipu di kamar tidur ibunya. Air atanya mulai turun. Diciumnya kedua tangan ibunya. Yenia bersandar – dengan bak berisi air hangat dan handuk di tangannya – di pintu kamar. Terharu. Dia berjalan mendekati kakanya. “Ibu kemaren terjatuh di belakang rumah, saat mengangkat jemuran ikan asin.” Ucap Yenia
“Kenapa harus ibu yang angkat jemuran? Biasanya kamu kan?” Zunia menggerutu dengan nada tinggi.
“Aku sudah berusaha nahan ibu, mbak.!Tapi..”
“Tapi opo?bilang aja awakmu males. Emang gak iso di jagakno!Sekarang lihat..Ibu sakit. Gara-gara kotrek iki..!!” Zunia menyela dengan berapi-api. Yenia hanya diam. Memang dia tidak salah. Waktu itu dia sedang menyapu halaman depan rumah.
“Wis nduk..wis.. Ojo tukaran wae. Ora apik. Ibu gak apa-apa.” Halimah tersadar dan berusaha melerai mereka. Yenia segera mendekati Halimah. “Adikmu nggak salah, Ibu sing maksa. Eh, malah jatuh. Untung ono Pak Ampong, ibu langsung digendong ke kamar. Waktu adikmu mijet – mijet tangan ibu, ibu wis ora eling mane. Pas melek kok anake ibu sing ayu-ayu iki malah tukaran.”
“Sepurane bu, Yenia mbalelo. Ora iso jogo ibu.” Yenia meminta maaf kepada ibunya.
“Zunia juga bu. Maaf yo bu.”
“Sudah ibu maafin. Kalian yo harus saling minta maaf.” Halimah melirik kedua anaknya. Tak lama kemudian mereka memeluk sang ibu yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Kesedihan mulai memudar. Dan mereka melaksanakan sholat subuh berjama’ah di kamar Halimah, didamping tempat tidurnya.
****
Terik matahari pagi ini terhalang mendung. Tanaman di halaman rumah masih dihiasi butiran-butiran embun. Berbeda dengan kemarin. Cuaca hari ini cukup bersahabat. Di dapur Yenia sibuk mengolah bahan yang ada untuk sarapan. Dia memang pandai memasak. Di ruang tengah Zunia terlihat serius mempersiapkan berkas untuk mengikuti seleksi beasiswa Departemen Agama (Depag). Hari ini adalah tes tahap kedua. Tes kali ini adalah tes potensi akademik. Peserta harus mengerjakan soal-soal dan dilanjutkan dengan wawancara. Zunia sadar bahwa ini tidak mudah. Apalagi semalaman dia hanya tertidur – pingsan.
Mendung semakin pekat. Zunia bersiap berangkat ke sekolah. Sepatu dan seragam sekolah sudah melekat rapi di tubuh moleknya. Diraihnya ransel kusut berwarna abu-abu tua yang penuh dengan buku-buku pelajaran. Dia harus berjalan 1,5 km untuk sampai di sekolah. Disaku baju sekolahnya terselip uang Rp.5.000,00. Keinginan dan kemauan kuat yang tertanam dalam dirinya membuatnya tidak mudah putus asa – meskipun ia sering meneteskan air mata.
Gerbang sekolah yang berwarnan hijau tua menyambut Zunia yang kalut. Dua orang satpam sekolah menyapanya genit, seperti biasa. Ruang kelas XII IPA 2 menjadi tujuan pertamanya. Kelas yang berada tepat di bawah tangga sekolah kelas perempuan. Beberapa peserta seleksi sudah datang lebih awal. Zunia segera bergabung dengan mereka. Buku dan soal-soal mulai dipelajarinya satu persatu. Beberapa detik kemudian terdengar suara dari pengeras sekolah. “Peserta seleksi harap memasuki ruangan. Ujian akan segera dimulai.” Belum sempat Zunia mempelajari satu halaman pelajaran biolgi, dia harus memasuki kelas. 210 menit kedepan adalah waktu yang berat baginya. Kesempatan mendapatkan beasiswa Depag tidak datang dua kali.
Butiran hujan mulai turun. Peserta seleksi mulai bersiap-siap mengerjakan soal. Zunia yang duduk di bangku kedua dari kanan depan mulai memanjatkan doa dan sholawat. Petugas seleksi mulai membagikan soal. Seleksi kali ini dibagi menjadi dua sesi, kemampuan umum dan kemampuan IPA. Seperti seleksi pada umumnya memang. Zunia memulai dengan basmalah. Dijarinya terselip pensil 2B, penghapus dan pengaris tertata rapi di atas bangku sebelah kanan. Dahinya mengerenyit. Sesekali dia memainkan pensilnya. Serius. Dia terlihat santai. Sepertinya semua soal bisa di selesaikan dengan mudah. Matanya mulai melirik ke jam dinding di atas papan tulis. “Alhamdulillah, wisselesai.” Ujarnya pelan. “Waktu kurang 15 menit.” Seoarnag petugas ujian mengingatkan. Zunia memeriksa kembali lembar jawabannya. Mengoreksi kembali torehan pensilnya di lembar jawaban.
Hanya 30 menit waktu istirahat sebelum beranjak ke sesi kedua, pengetahuan IPA. Kemampuan Zunia di bidang IPA memang tidak diragukan lagi. Dalam hati kecilnya dia yakin akan dengan mudah melahap soal-soal nanti. Keyakinan ini begitu menggebu-gebu. Waktu untuk istirahat pun dia habiskan di kantin sekolah. Menyantap jajanan kesukaanya. Dia tidak suka sarapan. Padahal ginjal kanannya bermasalah. Semenjak kepergian ayahnya, pola makan Zunia mulai ngawur. Sifat keras kepalanya selalu mengungguli perasaan dan logikanya.
Langit Gresik tak kunjung cerah. 7 menit lagi sesi kedua dimulai. Peserta seleksi mulai memasuki ruangan, begitu juga dengan Zunia. Sekarang perut mungilnya sudah terisi. Semangatnya berapi-api. Bell tanda dimulainya seleksi sesi kedua berdentang. Dua orang petugas ujian memasuki ruangan. Lembar jawaban dan soal dibagikan. Suasana tiba-tiba hening. Tidak seperti sesi pertama. Gemericik hujan mendramatisir suasana. Zunia mulai mengerjakan soal. Pelajaran biologi ia kerjakan terlebih dahulu. Gemuruh petir mulai bersahutan. Memecah konsentrasi peserta seleksi. Tempat duduk Zunia tepat si sebelah jendela – berhadapan dengan parkir kendaraan – dengan pandangan bebas. Sambaran kilat membuatnya miris. Konsentrasinya mulai pudar. Pikirannya kembali memutar kejadian-kejadian mengerikan. Kematian sang ayah dan peristiwa kemarin malam. Matanya mulai berkunang-kunang, pandangannya kabur, tangan dan kakinya gemetar, wajahnya pucat berkeringat.
Sudah 70 menit sejak petugas ujian membagikan soal. Hanya 15 soal – hanya pelajaran biologi – yang mampu dia jawab. Matanya mulai berair, pipi lembutnya mulai basah. Isak tangis mulai terdengar lirih. Pandangan mata peserta lain perlahan tertuju kepadanya. Waktu tidak bisa berhenti dan tak akan berhenti. 10 menit sebelum ujian selesai. Zunia masih terperangkap dalam halusinasi kegelapannya sendiri. Tubuhnya mulai dingin. Perlahan matanya mulai gelap. “Zunia…, sudah selesai?” Tanya seorang petugas ujian. Zunia belum bisa mengendalikan pikirannya, kaget. “Sudah, Bu.” Jawabnya setngah sadar. “Silahkan keluar, semoga berhasil dan sukses.” Seorang petugas mengakhiri ujian sesi kedua. Semua peserta bergegas keluar kelas. Zunia tercengang heran. Dia bingung sendiri.bukankah dia sedang asik mengerjakan soal-soal biologi? Bukankah seharusnya dia dibangku kedua kanan depan kelas?. Zunia belum bisa mengingat apa yang sudah terjadi. Tubuhnya lemas, suhu tubuhnya tidak stabil.
“Zun, kamu nggak apa-apa kan?” Tanya mami sambari mendekati Zunia.
“Ora ngerti Mi, Aku bingung.” Jawab Zunia. Mereka berjalan menuju bangku dekat pohon jambu. Mami membersihkan rembesan air hujan dengan sapu tangannya. Mpok Diah berlari menghampiri mereka. “Yo opo rek, awakmu sukses ta?” Sapanya dengan senyumannya khas. Mereka bertiga sudah lama bersahabat. Sejak kelas X, mereka selalu saling berebut mendapatkan gelar bintang pelajar. Mami yang paling sering menyabet gelar itu.
“Aku gak ngerti Mi, Mpok. Rasane aku kudu semaput. Aku kayaknya nggak lulus rek.” Zunia menjawab lemas.
“Ojo ngomong ngono. Ditunggu aja besok pengumumannya. Nanti gak lulus tenan lho.” Ujar Mami yang sibuk memainkan HP CDMA miliknya.
“Iyo Zhun, Positive thinking wae!Aku tak tuku jajan sek yo.” TambahMpok Diah, dia kemudian berjalan menjauhi mereka, menuju kantin yang berdiri di sebelah selatan gedung Yayasan.
“Aku tadi cuma ngerjain 15 soal kemampuan IPA Mi, aku nggak sadar. Bingung banget.” Mata Zunia mulai berkaca.
“Lho, kok bisa? Kamu kan jago di pelajaran IPA. Ada masalah dirumah?”
“Ibuku terserang stroke.”
“Opo?Stroke! Awakmu nggak guyonan kan?”
“Gawe opo aku guyon!”
“Sabar Zun, sabar. Sing kuat.” Mami merangkul sahabatnya. Kepala Zunia bersandar dipundaknya. Tangan kanannya menepuk lembut punggung Zunia. Air matanya pun tak kuasa ditahan. Jatuh ke pipi tembem-nya.
Mendung di langit Gresik menjauh. Hilang. Sayup-sayup angin menerpa tubuh tiga orang remaja perempuan. Mereka adalah Zunia, Mami, dan Mpok Diah. Siang ini Mpok Diah dan Mami berencana nyambangi ibu Zunia. Mereka berjalan kaki. Sepeda motor Mami dititipkan di sekolah. Jalanan ke rumah Zunia cukup becek, basah – setiap kali musim hujan – dan sunyi. Tidak banyak rumah penduduk di kanan dan kiri jalan. Pohon kapuk, mangga, dan jati adalah pembatas jalan yang diberikan oleh alam.