Oleh, Mang Oejank Indro
PADA suatu pagi, Gus Dur duduk di kursi depan kendaraan yang
dinaikinya. Suara dari kaset terdengar memenuhi kabin kendaraan, mengalunkan
bermacam shalawat yang didendangkan anak-anak dengan dipimpin seorang dewasa.
Berbagai shalawat didendangkan, termasuk shalawat/pujian semasa menunggu
datangyan imam di masjid/musala. Dibawakan versi lengkap dari pujian “Illahi
Lastu” yang biasanya hanya diperdengarkan dua baris/bait bahasa Arab saja.
Kira-kira dua jam berkendara dari tempat tinggal Gus Dur di jalan Paso ke Hotel
Marriott guna melakukan doa bersama dengan sejumlah kiai dan para agamawan
lain. Dalam mendengarkan kaset shalawat dan pujian, Gus Dur lagi-lagi dihadapkan
kepada sebuah gambaran tentang masyarakat kita dewasa ini, yaitu antara dendang
tradisional tapi menggunakan alat-alat sound system yang sangat canggih. Yang dimaksudkan
Gus Dur adalah penggunaan teknologi canggih berarti tekonologi modern oleh
pergelaran tradisional. Ini adalah kenyataan di depan mata yang tidak dapat
diingkari walaupun jarang dipikirkan. Ternyata tidak seperti yang para peneliti
dan pemerhati sering kemukakan mengenai adanya pertentangan teknologi modern
dengan budaya tradisional.
