Oleh, Mang
Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com
Pada sebuah jurnal yang berjudul “Slametan: Solidaritas dan Ritualisme Orang
Jawa” yang ditulis oleh Thomas Schweizer[1], slametan digambarkan sebagai sebuah
sarana untuk membangun solidaritas sosial dan mengungkapkan rasa syukur di
tengah orientasi keagamaan yang berbeda. Selain dua hal tersebut, slametan juga mereflesksikan betapa
besarnya pengaruh tradisi-tradisi bangsawan (priyayi) Jawa dan lingkup masyarakat yang lebih besar. Jadi, secara
tidak langsung slametan menyiratkan “kekuatan
luar” suatu masyarakat – baik ekonomi, politik, dan simbolik.
Sebagai suatu kawasan dengan identitas
sejarah yang indigenous, yaitu kota pelabuhan yang berorietasi pada perdagangan
antar kerjaan-kerajaan pedalaman dengan corak agraris, masyarakat Jawa memiliki
gaya hidup dan pemelukan agama yang berbeda – Islam, Kristen Katolik, Kristen
Protestan, Hindu, dan Budha. Gaya hidup dan orientasi yang beragam ini kemudian
secara gradual menyebar ke pedalaman oleh pedagang, tuan tanah, dan tokoh-tokoh
agama.
