Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts
Monday, September 9, 2013
Monday, October 8, 2012
Seniman itu Tiang Dunia
Oleh, Oejank Indro
Mendengar
kata seniman, sering terlintas bahwa orang tersebut adalah penghasil poduk
kesenian. Seni yang bagaimana? Hal itu yang sulit untuk dijawab. Membicarakan
seniman dalam perspektif filosofis bukanlah hal mudah. Karena hal ini mendekati
secara langsung ruang pribadi seniman, dan seniman itu beranekaragam dan
jumlahnya sangat banyak. Disadari atau tidak, dunia memang penuh dengan
seniman. Seorang anak berusia sepuluh tahun mampu melukis mawar, lalu lukisan
itu memberikan kenikmatan bagi orang yang melihat, dan seketika itu orang
menganggap karya itu hasil dari seorang seniman. Apa benar demikian? Jika
benar, bukankah seorang perancang pakaian, arsitek, pendongeng, politikus, hingga
tukang cat keliling, memiliki keahlian berkesenian. Dalam artian menghasilkan
produk seni dengan nilai estetik tertentu – dengan penikmat estetika
masing-masing. Sampai disini, apakah seniman itu yang ada dalam benak Anda?
Secara
sadar dan tidak sadar, setiap hari kita selalu berinteraksi dengan hasil
aktifitas berseni. Mulai dari sikat gigi, bak mandi, piring, lemari, kunci,
sampai pada hubungan suami isteri. Nah,
bisakah kita mengatakan itu semua adalah hasil seorang seniman? Atau hanya
produk komersil dengan beberapa inovasi yang bertujuan meningkatkan keuntungan
individu dan kelompok tertentu saja? Jika demikian, apa bedanya seniman dan bisnisman?
Dasar
pembeda antara seniman dan bukan seniman dalam pandangan Sujiwotejo, adalah
pandangan seniman itu sendiri. Seorang dapat berpikir berbeda dengan
masyarakatnya. Artinya, jika masyarakat memandang bahwa lukisan Lucien Freud –
berjudul Nu Couche De Dos – itu
vulgar dan tidak indah, lantas seniman juga berpandangan sama, mengapa lukisan
tersebut memiliki nilai jual yang tinggi? Kenyataannya, seniman tersebut tidak
memperkaya apa-apa.
Kekhawatiran
dunia seni terhadap nilai-nilai etis sebuah penghadiran karya seni sering
diperbincangkan. Disini posisi seorang seniman terhadap karya seninya dilempar
ke masyarakat untuk dinilai dari berbagai sudut pandang. Misalnya, ketika kasus
kelaparan dan kekeringan masih banyak di sebuah daerah, lalu seorang seniman
menampilkan aksi dengan media puluhan telur dan berliter air bersih, keindahan
yang dihasilkan tentu bertolak dengan realistas sosial – yang dekat dari
seniman itu sendiri. Kasus lain ketika seorang penari melakukan aksi berbahaya
dan mati saat beraksi, apakah ini bisa dikatakan etis? Jika hanya untuk
menyakiti diri sendiri, prioritas etis atau estetis yang menjadi unsur
apresiasi oleh masyarakat?
Jadi,
seniman dalam artian khusus memiliki caranya sendiri dalam berkesenian – tentu
saja ‘seni’ yang dihadirkannya berdampak pada tatanan sosial masyarakat.
Seperti kisah yang dihidupkan Franco Rabelais melalui tokoh Gargantua dan
Panteugral yang memberikan motivasi besar masyarakat Prancis waktu itu untuk
bangkit. Atau tokoh Punakawan yang membekas dan menyalurkan nilai-nilai sosial
hingga saat ini di Indonesia. Seniman itu, dalam artian luas, bisa dikatakan
penyeimbang dan pengatur irama kehidupan manusia – yang selalu rindu akan
keindahan – dalam bermasyarakat.
Tuesday, March 13, 2012
Budaya-nya Mudji Sutrisno SJ
Analisa Singkat Kuliah Umum
Kebudayaan Indonesia[1]
Oleh, Oejank Indro
Sejarah
manusia ditulis oleh manusia itu sendiri. Begitu juga dengan budaya manusia. Hanya
manusia yang mampu memetakan hasil kebudayaan dan memahami sumber
kebudayaannya. Namun budaya manusia tidak terlepas dari aktivitas manusia
dengan manusia lain dalam sebuah komunitas. Aktivitas tersebut, menurut Mudji
Sutrisno (selanjutnya disebut MS), dapat dikatakan sebagai seperangkat sistem
makna yang dimiliki komunitas untuk melukiskan hidup dengan cara menuangkannya
melalui sistem simbolik – yang memuat pandangan hidup, pandangan dunia, yang
dilakukan sehari-hari sebagai dasar aktivitas kehidupannya.
Sebagai
pendahuluan, MS menjelaskan empat tingkatan pandangan hidup manusia secara
hierarki mulai dari common sense,
ilmu pengerahuan, estetika, dan agama.
Saturday, August 13, 2011
Islam, Budaya dan Teknologi-nya Gus Dur
Oleh, Mang Oejank Indro
PADA suatu pagi, Gus Dur duduk di kursi depan kendaraan yang
dinaikinya. Suara dari kaset terdengar memenuhi kabin kendaraan, mengalunkan
bermacam shalawat yang didendangkan anak-anak dengan dipimpin seorang dewasa.
Berbagai shalawat didendangkan, termasuk shalawat/pujian semasa menunggu
datangyan imam di masjid/musala. Dibawakan versi lengkap dari pujian “Illahi
Lastu” yang biasanya hanya diperdengarkan dua baris/bait bahasa Arab saja.
Kira-kira dua jam berkendara dari tempat tinggal Gus Dur di jalan Paso ke Hotel
Marriott guna melakukan doa bersama dengan sejumlah kiai dan para agamawan
lain. Dalam mendengarkan kaset shalawat dan pujian, Gus Dur lagi-lagi dihadapkan
kepada sebuah gambaran tentang masyarakat kita dewasa ini, yaitu antara dendang
tradisional tapi menggunakan alat-alat sound system yang sangat canggih. Yang dimaksudkan
Gus Dur adalah penggunaan teknologi canggih berarti tekonologi modern oleh
pergelaran tradisional. Ini adalah kenyataan di depan mata yang tidak dapat
diingkari walaupun jarang dipikirkan. Ternyata tidak seperti yang para peneliti
dan pemerhati sering kemukakan mengenai adanya pertentangan teknologi modern
dengan budaya tradisional.
Wednesday, May 4, 2011
Slametan Politik: Strategi dan Tradisi Mengubur Korupsi
Oleh, Mang
Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com
Pada sebuah jurnal yang berjudul “Slametan: Solidaritas dan Ritualisme Orang
Jawa” yang ditulis oleh Thomas Schweizer[1], slametan digambarkan sebagai sebuah
sarana untuk membangun solidaritas sosial dan mengungkapkan rasa syukur di
tengah orientasi keagamaan yang berbeda. Selain dua hal tersebut, slametan juga mereflesksikan betapa
besarnya pengaruh tradisi-tradisi bangsawan (priyayi) Jawa dan lingkup masyarakat yang lebih besar. Jadi, secara
tidak langsung slametan menyiratkan “kekuatan
luar” suatu masyarakat – baik ekonomi, politik, dan simbolik.
Sebagai suatu kawasan dengan identitas
sejarah yang indigenous, yaitu kota pelabuhan yang berorietasi pada perdagangan
antar kerjaan-kerajaan pedalaman dengan corak agraris, masyarakat Jawa memiliki
gaya hidup dan pemelukan agama yang berbeda – Islam, Kristen Katolik, Kristen
Protestan, Hindu, dan Budha. Gaya hidup dan orientasi yang beragam ini kemudian
secara gradual menyebar ke pedalaman oleh pedagang, tuan tanah, dan tokoh-tokoh
agama.
Tuesday, April 12, 2011
Menyoal “Wakil Tuhan” di Indonesia :Kajian Fatwa MUI Tentang Ahmadiyah
Oleh,Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com
--Tulisan ini adalah sitiran dari Jurnal Ilmiah berjudul Respon Tokoh Islam Atas Fatwa MUI
Tentang Gerakan Ahmadiyah Indonesia karya Ahmad Subakir,
Ilham Mashuri dan M Asror Yusuf, STAIN Kediri, 2008--
Tulisan
ini bukanlah lembaran luas tentang sepak terjang jamaah Ahamdiyah di Indonesia.
Sebagai Negara sekuler yang meng-“halal”-kan enam keyakinan beragama, Indonesia
memiliki Majelis Ulama Indonesia (MUI) – yang seolah-olah mewakili “Tuhan”
sebagai eksekutor terhadap masalah keyakinan keagamaan, dalam hal ini agama
Islam. Fungsi MUI tidak jauh berbeda dengan Konferensi Waligereja Indonesia
(KWI) bagi umat katolik atau PGI (Persatuan Gereja-gereja Indonesia). Sejarah mencatat
bahwa Jamaah Ahmadiyah sudah mendapatkan reaksi keras dari berbagai kalangan
sejak masuk ke Indonesia. Sejak berkiprah di Sumatera, Ahmadiyah sudah mendapat
kecaman dari Abdullah Ahmad dan Abdul Karim Amrullah. Sehingga terbitlah buku Al Qaul ash Shohih guna meredam paham
Ahmadiyah. Sampai saat ini kejadian yang berujung pada kekerasan terhadap
Ahmadiyah memang sangat riskan. Apalagi di Negara yang berlandaskan Pancasila
dan UUD 1945, serta bersemboyan Bhineka Tunggal Ika.
Sunday, April 3, 2011
Konstruksi Dasar ke-Islam-an
Terdapat beberapa penafsiran tentang definisi akidah.
Dalam Kamus al-Munawwir Arab-Inonesia,
akidah diartikan sebagai ikatan, sangkutan, atau simpul, membangun lengkung,
mengokohkan, membuat, dan mengadakan perjanjian. Secara lengkap akidah memiliki
pengertian suatu kepercayaan dan keyakinan yang menyatakan bahwa Allah SWT itu
adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak
ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya (Mubarrak, 2010: 161). Dalam
perkembangannya, akidah bernegasi menjadi suatu kajian keilmuan islam dengan
“julukan” Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam – yang membahas segala tentang Kalam
Allah, qadim atau hadis. Selain dua “julukan” diatas, beberapa ahli juga
memberikan sebutan sebagai Ilmu Usluhuddin karena objek kajiannya adalah
masalah pokok keagamaan.
Perkembangan selanjutnya, ilmu kalam dijadikan sebagai
seuatu ilmu hasil ijtihad para ahli dibidang tertentu. Tujuannya tentu saja
memperthankan akidah dan keimanan dalam menggunakan akal fikiran. Hasil kerja
dari para Mujtahid yang memiliki stuktur kognisi yang berbeda-beda, menyebabkan
munculnya kecendrungan yang berbeda-beda pula. Akibatnya, muncul berbagai
aliran dan mazhab yang men-tajir-kan khazanan ke-intelektualan Islam. Sayangnya,
kebanyakan munculnya aliran-aliran tersebut banyak dibumbui oleh faktor politik
daripada faktor fundamental lainnya. Berikut adalah beberapa rincian
perkembangan dan jenis-jenis aliran dalam Islam:
·
Khawarij,
adalah golongan penentang Arbitrase –
diartikan sebagai Takhim – antara Ali dan Muawiyah dalam perang Shifin. Aliran ini
lahir karena perselisihan antara Muawiyah dan Ali. Ketika itu Muawiwah tidak
terima atas pengangkatan Ali Bin Abi Thalib sebagai khalifah. Pemahaman yang
ekstrim dari aliran ini adalah sering mengkafirkan orang-orang yang dianggap
pernah berbuat dosa besar, dan mereka berkeyakinan bahwa orang-orang tersebut
adalah kafir dan boleh diperangi dan dibinasakan.
·
Murji’ah, aliran
ini merupakan reaksi terhadap aliran yang pertama. Golongan ini menamakan diri
mereka sebagai Murji’ah, dari kata arja’a-yarji’ui (mengharap, menyerahkan,
dan menangguhkan). Aliran ini berasumsi bahwa dosa yang dikerjakan manusia
dapat dimaafkan oleh-Nya.
·
Syi’ah,
aliran ini adalah pembela Ali bin Abi Thalib. Pengikut aliran ini percaya bahwa
umat islam harus dipimpin oleh Ahl al-Bait, yaitu keturunan Nabi melalui
Fatimah al-Zahra’ dan Ali Bin Abi Thalib – Hasan dan Husein. Dalam
perkembangan, aliran ini terpecah menjadi beberapa bagian, seperti Syi’ah
Istna-Asyariyah, Ismailiyah atau Sab’iyyah, Zahidiyah, Ja’fariyah, dan
sebagainya.
·
Jabariyah,
aliran ini dipelopori oleh al-Ja’ad bin Dirham dan yang mengembangkan adalah
Jaham Bin Sofyan. Golongan ini berkeyakinan bahwa manusia tidak mempunyai
kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Dalam kamus orang
barat, faham ini dikenal dengan Fatalism atau
Predestination.
·
Qadariah,
adalah wujud perlawanan dari aliran Jabariyah, golongan ini memiliki keyakinan
bahwa manusia memiliki kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan
hidupnya
Tuesday, February 22, 2011
Meratas Kehidupan Sang "Kiai" Teater Sekolah Gresik
-->
Rambutnya kok Gondrong!
Bulan Oktober 2006, sore
hari di bawah pohon asam besar yang terpatri di depan kantor Yayasan Pondok
Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik, sejumlah orang sibuk merentangkan
tangan sambari tergesa-gesa membentuk lingkaran. Tiupan angin yang menyelinap
masuk dari balik gedung SMA Assa’adah – yang mirip huruf L – menggoyangkan
lebat rambut seorang pria canggung, agak gemuk di perut – buncit lebih
tepatnya. Hanya ada beberapa gelintir orang yang antusias “meringkuk” menikmati
lantunan instruksi dari pemuda yang ke-tua-an ini. Sambil menyilangkan kaki
seperti orang berdzikir, beberapa orang melirik ke tempat saya melakukan aksi
pengawasan. Daya tarik apa yang membuat saya segera bergabung kala itu?
Entahlah.
Dari pergumulan singkat
itulah, segelintir teman baru, ilmu baru, dan lingkungan baru menjadi menu
utama konsumsi ke-duniawi-an saya selanjutnya. Sejak awal, saya berpikir pria
dengan rambut mencapai 60 cm ini bukan orang biasa. Pria kelahiran Gresik 19
Oktober 1973 ini menyihir kotak pemikiran saya. Pertemuan di bulan pertama saya
setelah pindah sekolah dari SMA Unggulan Darus Sholah Jember pimpinan Gus Yus –
KH Yusuf Muahammad, wafat dalam kecelakaan pesawat di Solo tahun 2004 –
ternyata berlanjut sampai detik ini. Pengaruhnya untuk pribadi insan teater
sekolah Gresik memang terbentuk dari pecahan pemikiran pria lulusan Universitas
Negeri Jember ini. Sosok kalem, bebas, luwes, mengingatkan saya pada Mahatma
Gandhi.
Monday, October 18, 2010
Berdagang Birahi : Pubersitas Agama, Tradisi, dan Budaya
![]() |
Manusia sebagai mahkluk sosial selamanya akan “dipenjarakan” dalam tiga dimensi kelompok seksualitas yang berbeda[3]. Pertama, kelompok yang berlebih-lebihan, yaitu kelompok yang mendewakan seks. Msyarakat dunia mengenal dengan “sindiran” masyarakat free sex. Kelompok ini berpandangan bahwa seks sangat bebas – tanpa batasan etika dan keagamaan – dengan orientasi seks sebatas kepuasan semata. Kedua, kelompok yang teledor, kelompok yang “menajiskan” seks – meskipun mereka tidak terlepas dari kebutuhan seksual – dan menganggap seks lebih kotor dari buang air. Pandangan mereka tentang seks hanya terpaku pada dogma agama secara subtantif-ekslusif, sehingga “ngelantur” dari realitas dan tuntunan keagamaan (syari’at). Ketiga, kelompok garis tengah, adalah kelompok yang memahami seks dengan kesadaran fundamental terhadap agama secara utuh – terutama agama Islam dan Kristen. Kelompok ini membredel kajian keagamaan, tradisi, dan budaya secara jernih dan rasional.
Agama, tradisi, dan budaya memiliki kaitan erat dalam pembentukan struktur kognisi masyrakat. Seks sebagai kebutuhan dasar manusiawi terlalu gamblang jika dijelaskan dengan pendekatan psikologis-biologis. Kajian dari angle agama, tradisi, dan budaya Indonesia merupakan “ritme” baru dalam menengahi problematika “perdagangan birahi” yang meroket setiap saat. Ketiga kelompok masyrakat di atas adalah hasil “pubersitas” agama, tradisi, dan budaya yang benar-benar Indonesia. Adalah tugas manusia itu sendiri dalam hal menentukan the way of life mereka untuk menghindari dampak fisik, perilaku dan kejiwaan, sosial, ekonomi, dan tentunya dampak keagamaan.
Mang Oejank Indro @2010
Daftar rujukan :
Asror, Mustaghfiri. 1983. Emansipasi Wanita: Dalam Syari’at Islam. Semarang : CV. Toha Putra.
Jusuf, Ahmad. 2006. Bahaya Seks Bebas pada Remaja: Tinjauan Aspek Medis dan Islam. Dalam makalah yang disajikan pada penyuluhan bagi siswa-siswi SMA Diponegoro Rawamangun Jakarta, Kamis 28 Desember 2006
Tolani, Tofan, 2004. Cinta, Seks dan Problematikanya, Jakrta: Restu Agung.
Umar, Abu, B. 2006. Sutra Ungu, Solo : Rumah Dzikir.
Tuesday, October 5, 2010
Menyoal Identitas Kultural Wong Gresik

Di usianya yang ke-523 tahun, Gresik sedang berhadapan dengan model ekonomi kapitalistik yang merasuki struktur kognisi masyarakatnya. Akibatnya, muncul fenomena – fenomena seputar motif komersial yang menjadi variabel – yang dominan – dalam berekspresi, tradisi yang dihardik hanya sebatas komoditi, dan hilangnya ekspresi kesenian yang inheren dengan konteks sosial. Keadaan ini memaksa Wong Gesik untuk melepas ‘jilbab’ kesucian – dengan corak islami – yang semula diekspresikan atas dasar motivasi tradisi atau spiritual dengan motivasi baru, yaitu motivasi komersial.
Tradisi dan budaya Gresik yang dalam makna ‘original-nya’ dihelat dan disajikan berdasarkan waktu, tempat, dan suasana tertentu, sekarang mulai ‘tunduk’ pada pesanan pasar. Orientasi kesenian, tradisi, dan budaya yang lekat dengan nilai dan norma yang otentik mulai bergeser. Wong Gresik yang familiar dengan tradisi Cangkruk’an sekarang perlahan menjadi ‘budak’ lokomotif industrialisasi – yang tidak pernah berhenti melintasi rell kapitalisme.
Yang menjadi pertanyaan dari fenomena diatas adalah – meminjam istilah Agus M. S – bagaimanakah prosesnya sehingga kapitalisasi tradisi dan budaya menjadi suatu fenomena yang masif. Dan bahkan telah dilegitimasi oleh kebijakan pemerintah daerah demi kepentingan pragmatis-ekonomi? Mampukah Wong Gresik mempertahankan pondasi otentisitas tradisi mereka dalam gempuran ekspansi kapitalisme industri? Dari gejolak tersebut, bisa dipastikan pengaruh kapitalisme industri akan merubah cara pandang individu terhadap eksistensi tradisi lokal Wong Gresik. Dan proses itu sudah dimulai sejak lama.
Kehadiran industrialisasi melahirkan problematika dan implikasi yang sangat kompleks. Wong Gresik mulai menjadi ‘lakon’ – kapitalisme – yang diorganisir secara efisien mirip sebuah mesin. Mereka cenderung rasional dalam menganalisa lingkungan dan permasalahan yang dihadapinya. Kecenderungan tersebut – disadari atau tidak – telah melonggarkan pertalian Wong Gresik dengan tradisi – termasuk budaya dan kesenian – dan perubahan stratifikasi sosial secara progresif. Perubahan stratifikasi sosial tersebut bisa kita koreksi pada tatanan sosial berdasarkan peranan dan keberhasilan dalam berkarir, bukan dari golongan darah atau ningrat lagi.
Fenomena lain yang timbul akibat kapitalisme industri adalah ambruknya otensitas Wong Gresik. Derasnya arus modernisasi dan kapitalisme industri merupakan ‘aktor’ nomor wahid atas lahirnya fenomena tersebut. Kota Pudak ini sekarang tidak hanha harus ‘bertarung’ dengan masalah lingkungan yang mengenaskan. Gresik mulai kehilangan idenitas sebagai kota santri – mungkin akan lebih cocok dengan sebutan kota kapitalis-industrialis. Pemilukada yang digadang-gadang akan diulang pertengahan Agustus 2010 mendatang adalah buki perubahan sistematis struktur kognisi Wong Gresik yang baru.
Keberadaan ‘duo’ lembaga pemerintahan dengan ‘senandung’ birokrasi kebudayaan dan pariwisata sering melihat tradisi Wong Gresik – meminjam istilah Agus MS lagi – sebagai produk, bukan sebagai produksi. Sehingga ‘kapal’ tradisi yang berlayar tidak mampu berkembang. Apalagi gagasan untuk menciptakan suasana inspiratif. Yang tertanam di benak ‘mereka’ sepenuhnya adalah kepentingan eksploitasi, ekonomis, dan hegemoni – belaka. Identitas Wong Gresik sedang ditelanjangi Wong Gresik sendiri. Mau dibawa kemana identitas kultural Wong Gresik asli?
Mang Oejank Indro
(Iswanda F. S.)
Arek Gresik Asli
Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Indonesia
Subscribe to:
Posts (Atom)
RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL
RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...
-
--> Dua hari sebelum wawancara dengan Oki Setiana Dewi, saya melanyangkan sms singkat kepadanya. “Maaf, kak Oki, saya Oejank dari me...
-
BAGIAN III – Persiapan Pagi-pagi Pak Ridwan sudah bercengkeramah dengan dua orang lainnya. Ia meminta saya segera menyantap sara...
-
--> oleh Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com Namaku Aisy...




