Friday, May 27, 2011

Air dan Kehidupan



Air merupakan komoditas yang penting dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup dimuka bumi. Tanpa air, peradaban manusia akan dengan cepat musnah. Karena air, sebuah peradaban akan tumbuh. Meskipun 70 persen dari muka bumi adalah air, namun 97 persen darinya adalah air laut (asin) yang tidak dapat dikonsumsi secara langsung oleh manusia.
Pada hakikatnya, kuantitas air dibumi tidak berubah. Hal ini disebabkan adanya siklus hidrologi. Siklus hidrologi adalah siklus perputaran air di alam. Namun, persediaan air tawar yang ada dibumi semakin menghawatirkan. Faktanya, hanya 0,29 % air tawar yang dimanfaatkan. Sisanya tersimpan di kutub sebagai gunning es.

Sunday, May 22, 2011

Berlabu di Perpustakaan Baru Apresiasi, Prestasi, dan Kontroversi (2-Habis)

 Setelah penantian panjang yang penuh dengan kontroversi dan kritik, perpustakaan baru UI mulai dibuka pada tanggal 13 Mei 2011 yang lalu. Suasana perpustakaan cukup nyaman. Kemegahan bangunan dan beberapa sentuhan artistik menambah keindahan dan kenyamanan perpustakaan itu. Belum lagi pemandagan yang tersaji di halaman perpustakaan. Disana pengunjung bisa menikmati sejuk danau dan rindangnya pohon-pohon nan hijau. Dari lantai 5, pemandangannya juga tidak kalah menggiurkan.

Thursday, May 19, 2011

Putri Kiyai di Bulan Suci

Oleh Mang Oejank Indro

Ia memiliki kharisma yang tinggi. Bukan hanya karena ia anak seorang kiyai, ia juga seorang yang memiliki intelektualitas yang sangat tinggi. Kemampuannya dalam hal agama tidak diragukan lagi. Banyak sudah yang berbondong ingin menjadikannya sebagai menantunya. Tapi banyak juga yang pulang dengan tangan hampa.ia tak tampak sedikitpun mirip dengan putri raja. Selir kaisar dan apalah namanya. Sangat sederhana jika aku boleh mengatakannya. Semenjak mengenalnya, aku sadar, ternyata ia tidak bbegitu cantik, tapi sangat menarik. Sangat susah untuk menjelaskan runyamnya perasaanku kepadanya. Skalipun aku berkali-kali memperoleh medali emas di setiap kompetisi menulis puisi, tetap saja sulit bagiku menuangkan kalimat untuk melukiskan pribadinya. Nah, pribadinya itu lho, itu yang jarang dimiliki orang lain.
Pertemuanku dengannya berlangsung sebulan yang lalu. Bulan Sya’ban. Tanggalnya aku sudah lupa. Pokoknya antara tanggal 6 sampai 9. Saat itu, aku masih remaja. Usiaku belum genap 18 tahun. Kata psikiater ‘masih puber’. Karena dirumah aku sering berulah, menyusahkan orang tua, dan kadang manja, aku dikirim ke pondok. Pikirku, daripada bapak dan ibu terus sakit karena melihat tingkahku, mending aku jauh dari rumah. Nakal dan berandal diluar lebih aman.
Tidak berat jika harus meniggalkan rumah. Apalagi untuk belajar. Hemm.. dunia memang sulit dicerna. Sayangnya, kalau masuk surga, kita harus hidup di dunia, tidak seperti malaikat-malaikat tak bersyahwat itu.
Beberapa orang sibuk dengan buku kecil bertuliskan huruf arab gundul. Ada yang berpakain mewah, ada yang memakai baju takwa, da nada juga yang hanya mengenakan kaos oblong. Untuk bawahannya, mereka kompak memakai sarung. Tidak ada yang mengenakan celana kain, apalagi jeans. Aku hanya meamndangi mereka. Berlagak sebagai santri baru yang butuh perhatian dan pengarahan. Diam saja. Tak lama kemudian, seorang pria agak tua menghampiriku. Ia duduk disebelahku. “Santri baru ya nak?” Ia bertanya. “Iya, bapak pengurus pondok sini ya pak?” Aku balik bertanya.
“Semua santri dan keluarga pak kiai adalah pengurus pondok ini.” Jawabnya. “Asli mana? Tanyanya lagi.

Friday, May 13, 2011

BAHASA

Bahasaku tidak mudah
Rapuh dan jauh dari Jelatah
usang jika ditelan mentah-mentah
Satu pagi tak mungkin berujung duka semata

Balik badan dan jangan tertawa
Meskipun ini bukan kisah nyata
Narasi terpenggal halus lurus bersila
Abaikan saja nafas buruk sangka

Asing..
Hilir...

Kutukan batin memecah raga
Ciptakan delik bercecer jiwa
Ciptakan lagi sirna kamar pujangga
Bedakan dua dan tiga suku bangsa

Bangga anak Indonesia
Bangga anak Bangsa
Bangga anak Pancasila
Bangga anak Nusantara

K H A Y A L

Aku menepis keraguan
Tergolong manakah makhluk sepertiku
Kiasan dahaga tak sempat menjelma
Kolong-kolong tanah melayang sendu

Takutku berebut inang bernyawa
Sabar... Cengkeeram lembar dahan pilu
Semilir ilmu tersatir indah membahana
Ratakan gaung belenggu untuk juangmu

Masihkah terlalu Kecil?
Sedangkan Tuhanku tak pernah menggigil
Pijakanku tak buram dan lepas tanpa hasil
Usah berpuisi....Cukup melamun kecil

Wednesday, May 4, 2011

Samidun


Oleh, Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com

Semua dianggapnya sempurna. Meskipun ada yang salah, ia hanya menggeleng-geleng kepala. Lalu menjauhkan rasa dengki. Tanpa ada kata yang terlontar. Membisu saja. Padahal, usianya sudah baligh. Sekarang ia sudah jadi mahasiswa di universitas ternama di Indonesia. Semoga sikap lugu dan neriman tidak sepenuhnya segan ia budayakan. Jika terus-terusan seperti ini, ia akan terbiasa dengan intimidasi dan mudah ditarik oleh lingkungannya. Entah mengapa ia bertingkah seperti keledai dungu. Hanya diam saja. Seperti awal semester ini, disaat sejumlah penerima beasiswa sedang gaduh menuntut pencaiaran dana biaya hidup (living cost), ia hanya mesam-mesem. Apa ia tidak memikirkan nasib ketiga adiknya yang menggantungkan makan dari keringatnya? Apa ia tega melihat ibunya berpanas-panas menikmati sengatan matahari di tengah sawah. Itu jika musim kemarau, kalau musim hujan, ibunya harus menggigil berbalut air hujan. Tidak cukup malukah ia dengan semua ini? Daripada jauh-jauh kuliah dengan menggantungkan beasiswa. Sedangkan keuarga tertati menghidupi diri jauh di pelosok desa.
Samidun nama sahabatku itu. Selama ini, ia menetap satu kamar denganku. Aku yang menanggung biaya kosnya. Termasuk biaya tambahan listrik dan sebagainya. Setahuku, ia hanya membawa dua stel baju tiga kaus dalam, dua celana dalam, dan dua celana. Salah satu celananya pun sudah
bertaburan tambalan. Lebih parah lagi, resleting celana tersebut rusak, dan setiap kali ia mengenakannya, dengkulnya selalu terjuntai murka keluar. Naas dan tragis memang hidupnya.
“Dun, kamu itu lho, hak kamu itu sudah di cederai. Kok malah nyantai, leha-leha, koyok wong sugih aja.” Malam ini aku menegurnya. Sengaja aku memecah konsentrasi belajarnya. Kadang-kadang aku getir sendiri. membayangkan ia dengan tenang menjalani hidup, meskipun tidak tahu besok mau hidup dengan apa.
“Wo, hidup itu sudah ada yang ngatur. Nyantai aja. Hidup kok dibikin susah.” Jawabnya. Ia segera menutup buku kalkulus 1 yang tebal itu.
“Lho, bukan gitu Dun..”
“Terus..?” Aku memotong.
“Kamu percaya tidak kalau Tuhan itu maha adil?”
“Yo mesti percaya…”
“Nah, itu, itu jawabnnya. Buktinya, aku masih bisa hidup meskipun sekamar sama kamu.”
“Maksutmu opo cok? Ndak suka sekamar sama aku?”
“Ha ha ha. Yo nggak apa-apa. Terimakasih.” Ia mletakkan buku kalkulusnya di meja kecil. Antara kursiku dan kursinya. “Dun, adikmu, Sumi, sudah lunas biaya ujiannya?” Tanyaku. Samidun mengangkat kakinya. Posisinya seperti orang di warung kopi. Pandangannya memusat ke langit. “Woi, ngalamun. Aku tanya cok!” Sengaja kubuyarkan lamunan Samidun. “Belum Wo, masih tunggu beasiswa cair.” Jawabnya melas. Guratan dahinya mengkerut-kerut. “Hemmm, memang Tuhan maha adil.” Gumamku. “Raimu, asu.” Aku hanya tertawa liar. “Makannya, beasiswa itu hakmu, kalau memang yang member hak itu tidak melaksanakan kewajiban, tanya dong! Jangan mbideg saja.”
“Iya juga ya Wo, kalau kamu kuliah dikirim dari dari rumah. Lha aku, malah ngirim ke rumah.” Samidun mengigau. “Memang Tuhan Maha adil.” Tuturku singkat.
“Jancok, raimu Wo. Seneng lihat teman susah?” Samidun menyanggah.
“Mukamu memang muka susah.” Tukasku lantas tertawa.
“Waaah, kacau.”
“Eh, Dun, Samidun.. Tuhan memang menyuruh kita untuk berusaha, tapi Tuhan tidak menuntut kita untuk berhasil.”
“Tumben kata-kata kamu putih, biasanya keruh dan jorok.”
“Koyok raimu ndak aja Dun..!”
“Kalau aku masih demen sholat. Lha kamu, perintah sholat wajib lima waktu, sing dilakoni cuma telu.” Ujar Samidun seraya menjitak kepalaku. “Oooo, asu!”
Hampir setiap malam, aku dan Samidun tidak pernah meninggalkan rutinitas ngopi. Meskipun kopi racikan sendiri. Rasanya tidak kalah dengan starbuck coffe yang mahal itu. Samidun bukan orang bodoh, setidaknya itu yang aku tahu. Setiap Sabtu dan Minggu ia habiskan hanya untuk menukar ilmunya demi rupiah. Hasilnya, ia bisa mengisi perutnya dengan segumpal nasi dan pernak-pernik makanan lainnya. Urusan air minum cukup isi ulang. “Wo, Minggu depan aku pinjem kemeja sama celana ya. Buat ngajar.” Seperti biasa, Samidun selalu mengandalkan pakaianku dalam setiap jam terbangnya mengajar. Sudah berulang kali aku merelakan beberapa baju dan celanaku untuknya. Tetapi jawabannya selalu sama. “Sebentar lagi aku beli kok.” Hasilnya, selama setahun, ia tak kunjung membeli baju, apalagi celana. Dasar Samidun.
Sebenarnya, menurutku, banyak Samidun-Samidun lain di sini, di kampusku. Kampus berbintang nomor satu di negeriku. Tapi, Samidun yang satu ini berbeda. Ia mengejar beasiswa untuk keluarga. Urusan makan dan minum sudah ia dapatkan dari menjual ilmu di tempat-tempat kursus, dan kolom-kolomnya di koran nasional. Memang berat bagi Samidun, ia harus menjadi ‘ayah’ bagi ketiga adiknya, dan sekolah untuk masa depannya. Dalam benakku sangat yakin, kualitas dasar kemanusiaan yang dimiliki Samidun akan sangat high qualified. Sayang sekali jika hanya karena orang-orang yang memainkan hak orang lain, Samidun harus melihat adik-adik dan ibunya menggeliat dalam persakitan ekonomi. Dan Samidun sendiri terganggu perjalanan akademiknya. Pas awal menerima beasiswa, kata Samidun, ia dijejali berkas pernyataan yang bermaterai. Di berkas itu ada poin-poin hak dan kewajiban antara penerima dan pemberi beasiswa. Sayangnya, sampai saat ini penerima lebih diposisikan sebagai ‘isteri kedua’ daripada pemberi. Agamaku saat ini, mengajarkan bahwa hak tetaplah hak, dan pemberi beasiswa itu tidak berhak merampas hak penerima. Awalnya bilang A, ujung-ujungnya dilempar ke Z. Tentunya dibumbuhi alibi dan alsan yang rasional juga. Tetap saja alasan. Di kampusku, hak seorang mahasiswa kadang-kadang juga di buat mainan. Seperti hak Samidun. Dasar Samidun (siang malam rindu dana turun).


Slametan Politik: Strategi dan Tradisi Mengubur Korupsi


Oleh, Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com

Pada sebuah jurnal yang berjudul “Slametan: Solidaritas dan Ritualisme Orang Jawa” yang ditulis oleh Thomas Schweizer[1], slametan digambarkan sebagai sebuah sarana untuk membangun solidaritas sosial dan mengungkapkan rasa syukur di tengah orientasi keagamaan yang berbeda. Selain dua hal tersebut, slametan juga mereflesksikan betapa besarnya pengaruh tradisi-tradisi bangsawan (priyayi) Jawa dan lingkup masyarakat yang lebih besar. Jadi, secara tidak langsung slametan menyiratkan “kekuatan luar” suatu masyarakat – baik ekonomi, politik, dan simbolik.
Sebagai suatu kawasan dengan identitas sejarah yang indigenous, yaitu kota pelabuhan yang berorietasi pada perdagangan antar kerjaan-kerajaan pedalaman dengan corak agraris, masyarakat Jawa memiliki gaya hidup dan pemelukan agama yang berbeda – Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha. Gaya hidup dan orientasi yang beragam ini kemudian secara gradual menyebar ke pedalaman oleh pedagang, tuan tanah, dan tokoh-tokoh agama.

Tuesday, May 3, 2011

Aisyah Namaku

-->
oleh Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com
 
Namaku Aisyah, masih gadis atau perawan. Usiaku sekarang 18 tahun. Bapakku seorang Kiyai, pemangku pondok pesantren Al-Harun. Menulis sudah menjadi kegemaranku. Membaca apalagi. Setiap keluar rumah aku mengenakan jilbab. Tidak lebar, tidak memakai kaus kaki juga. Bajuku tidak terlalu ketat, tidak pula ngelombyor. Mengenakan celana pun tidak riskan. Kegemaranku berkelahi. Karate olah raga favoritku. Tak peduli aku anak pemuka agama atau bukan. Bapak dan Ibuku tidak melarang. Mereka memberi kebebasan kepadaku untuk menjadi diriku. “Tuhan tidak pernah melarang manusia masuk neraka.” Itulah kalimat yang sering aku lontarkan kepada orang-orang yang sempit pikiran dan hatinya. Tapi aku bukan manusia penggila surga, meskipun aku selalu merindukan tempat itu.
Disekolah, aku selalu dimudahkan oleh pengajar, guru-guruku. Mungkin aku anak seorang ulama’. Ah, tetap saja aku tidak suka diistimewakan. Anak kiyai juga banyak yang berandal dan bajingan. Mungkin aku termasuk golongan bajingan itu suatu hari nanti. Aku tidak sangsi dengan kitab kuning, Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, Akidah al-Awam, sitiran karya Imam Syafi’i, Yusuf Qardhawi yang diusianya ke-10 sudah hafal Al-Qur’an, sampai karya Emile Dermenghem, juga pemikiran Guibert de Nogent dan Comte Boulainvilliers. Urusan selera musik, aku juga tidak risih menikmati Ode to Joy karya Ludwig van Beethoven, La Mer ciptaan Claude Achile Debussy, hingga The Magic Flute karya Wolfgang Amadeus Mozart. Bagiku semuanya adalah kuasa Allah SWT. Toh, mereka yang muslim maupun non-muslim tetap dirahmati Allah.

Friday, April 29, 2011

Do’a Slamet


Oleh, Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com

Seharusnya tidak aku jadikan ini sebagai masalah yang besar. Sebenarnya tidak lebih dari tar-tarian, nyanyian dan tabu-tabuhan belaka. Resti juga, kenapa dia sok najis dengan hal-hal mistis. Lagian, mereka juga berTuhan. Tuhan mereka masih satu. Harusnya Resti yang minta maaf, bukannya aku. Dan lagi, Resti pendatang baru dikampungku. Apa yang dia tahu tentang slametan? Ngaku orang Islam, tapi antipati sama kegiatan orang Islam. Apa ibunya tidak pernah sekolah? Atau bapaknya bukan santri? Paling tidak, mereka mengajarkan Resti apa itu toleransi dan menghargai. Pikiranku tentang orang yang lahir dan lama hidup di kota, tidak perlu yang megapolitan, yang metropolis saja, spertinya sudah lupa.

Thursday, April 28, 2011

DIK (Sebuah Novel) : Bagian III Pelamar


Bagian III
Pelamar

Kotak hitam dengan balutan ukiran klasik tergeletak di meja ruang tamu, dirumah ibu Halimah. Duduk di kursi reot dua orang pria berpenampilan agak rapi. Meraka adalah Parman dan H. Sodikin. Sepertinya ada perbincangan serius diantara ketiga orang ini. Tapi apa? Hal itu yang sedang ditebak oleh Yenia di balik kelambu. Ia sedang mengerjakan proyek kecil, yaitu menghiasi kupluk (jilbab) dengan merci bervariasi. Masyarakat sekitar menyebutnya krepos. Profesi in sudah ia jalani selama dua tahun. Biasanya Yenia mendapat upah Rp. 2.000 / pcs. Kali ini Yenia benar-benar merasa gugup. Sudah berulangkali orang-orang desa sekitar mengunjungi rumahnya dua bulan terakhir. Kebanyakan adalah pemuda dan orang tuanya. Jadi, Yunia mengerti betul apa yang diinginkan orang-orang tersebut. Melamarnya? Iya. Begitulah.

DIK (Sebuah Novel) : Bagian II Euforia Mahasiswa Baru


Bagian II
Euforia Mahasiswa Baru

Selembar kertas tersemat usang menyelinap di jari-jarinya. Lembaran kertas tertata rapi dalam map kuning tua. Pagi ini zunia sedang berdiri tanpa jenuh menunggu giliran daftar ulang di Universitas Indonesia, Depok. Sekitar 4.000 manusia muda berjubel di Balairung UI. Sebuah gedung besar yang terletak diantara danau dan rektorat UI. Jika dilihat dari lantai 8 gedung rektorat, bentuknya seperti segitiga besar dengan pondasi kokoh menahannya. Dibeberapa titik berkeliaran pemuda-pemudi berseragam sok militer. Mereka menamakan diri sebagai MENWA (resimen mahasiswa) UI. Markas mereka terletak di dekat Gerbatama UI. Keringat mulai menghujan dari balik pori-pori kulit Zunia. Sang mentari menyelinap sesekali dari rindang pohon asam. Sudah 2 jam ia hanya berputar-putar menunggu antrean.
Zunia bergegas menuju sisi utara balairung UI. Rok hitam yang merumpai indah sedikit menahan

Sunday, April 17, 2011

Namaku Aisyah


oleh, Mang Oejank Indro, tinggal di htpp://mangoejankindro.blogspot.com

Namaku Aisyah, masih gadis atau perawan. Usiaku sekarang 18 tahun. Bapakku seorang Kiyai, pemangku pondok pesantren Al-Harun. Menulis sudah menjadi kegemaranku. Membaca apalagi. Setiap kaluar rumah aku mengenakan jilbab. Tidak lebar, tidak memakai kaus kaki juga. Bajuku tidak terlalu ketat, tidak pula ngelombyor. Mengenakan celana pun tidak riskan. Kegemaranku berkelahi. Karate olah raga favoritku. Tak peduli aku anak pemuka agama atau bukan. Bapak dan Ibuku tidak melarang. Mereka memberi kebebasan kepadaku untuk menjadi diriku. “Tuhan tidak pernah melarang manusia masuk neraka.” Itulah kalimat yang sering aku lontarkan kepada orang-orang yang sempit pikiran dan hatinya. Tapi aku bukan manusia penggila surga, meskipun aku selalu merindukan tempat itu.

Tuesday, April 12, 2011

Menyoal “Wakil Tuhan” di Indonesia :Kajian Fatwa MUI Tentang Ahmadiyah


Oleh,Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com

--Tulisan ini adalah sitiran dari Jurnal Ilmiah berjudul Respon Tokoh Islam Atas Fatwa MUI Tentang Gerakan Ahmadiyah Indonesia karya Ahmad Subakir, Ilham Mashuri dan M Asror Yusuf, STAIN Kediri, 2008--
 
Tulisan ini bukanlah lembaran luas tentang sepak terjang jamaah Ahamdiyah di Indonesia. Sebagai Negara sekuler yang meng-“halal”-kan enam keyakinan beragama, Indonesia memiliki Majelis Ulama Indonesia (MUI) – yang seolah-olah mewakili “Tuhan” sebagai eksekutor terhadap masalah keyakinan keagamaan, dalam hal ini agama Islam. Fungsi MUI tidak jauh berbeda dengan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bagi umat katolik atau PGI (Persatuan Gereja-gereja Indonesia). Sejarah mencatat bahwa Jamaah Ahmadiyah sudah mendapatkan reaksi keras dari berbagai kalangan sejak masuk ke Indonesia. Sejak berkiprah di Sumatera, Ahmadiyah sudah mendapat kecaman dari Abdullah Ahmad dan Abdul Karim Amrullah. Sehingga terbitlah buku Al Qaul ash Shohih guna meredam paham Ahmadiyah. Sampai saat ini kejadian yang berujung pada kekerasan terhadap Ahmadiyah memang sangat riskan. Apalagi di Negara yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, serta bersemboyan Bhineka Tunggal Ika.

R(b)obohnya “Wakil” Kami


Oleh, Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com

Sebelum berkelana dalam isi opini nakal ini, baiknya anda menyimak dengan seksama frasa yang amburadul, yang sengaja saya tempel sebagai judul tulisan ini. Jika AA Navis ter-legenda-kan atas karya Robohnya Surau Kami, saya mencoba memodifikasi dengan Robohnya “Wakil” Kami dengan selipan huruf “B”, tujuannya adalah mengajak pembaca mencerna kejadian-kejadian “bodoh” yang dipentaskan wakil rakyat kita. Tanpa mengurangi rasa hormat, tulisan ini hanya tertulis untuk menghormati rakyat yang sudah dibodohi.
Mengikuti perkembangan pembangunan gedung baru DPR yang rencananya “berkasta” 36 lantai yang menelan biaya 1,138 T – belum termasuk furniture, sistem keamanan, sistem informasi. Saya, sebagai seorang mahasiswa merasa terpental. Kenapa? Lha, bukannya Yang Mulia Marzuki Ali hanya meng-iya-kan argumentasi orang-orang elite dan pinter saja, bukan? Tapi, dalam benak saya muncul sebuah pertanyaan, “Memang seberapa pintar orang-orang di DPR?

Friday, April 8, 2011

Berlabu di Perpustakaan Baru UI (Bagian I)


Oleh Mang Oejank Indro
tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com 
 
--Apresiasi, Prestasi, dan Kontroversi-- (Bagian I)

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Universitas Indonesia, saya tercengang mellihat pemandangan yang menakjubkan di dekat sebuah danau yang diapit 4 bangunan besar. Balairung UI, Rektorat UI, Masjid UI, dan bangunan besar dengan atap agak berumput – yang kata orang futuristik, Perpustakaan. Awalnya, bangunan super megah tersebut, menurut naluri ke-desa-an saya, adalah pusat administrasi dan relaksasi UI. Nah, baru setelah saya nyantri di UI, saya sadar itu bukanlah sebuah tempat pusat administrasi baru UI ataupun Mall of Universitas Indonesia. Pencapaian UI dalam hal bangun-membangun bangunan memang cukup baik. Terbukti pada tahun lalu sudah lebih dari 3 bangunan terpatri di kampus UI, Depok.

Terlepas dari hal bangun-membangun. UI memang sedang berlari mengejar status World Class Research University. Atas target itulah, UI sangat rajin bangun-membangun penampilan fisik kampus UI. Salah satu yang menjadi topik hangat adalah perpustakaan baru UI yang terbilang megah. Bayangkan, bangunan “berkasta” delapan lantai tersebut memiliki toko buku, bank, cafeteria, fitness center, bioskop, ruang pertemuan, slide room, dan banyak lainnya.

Wednesday, April 6, 2011

Perpustakaa Bersama

DuniaPerpustakaan.Com– Ada yang mengatakan bahwa untuk merubah sesuatu tidak cukup hanya dengan kritik dan bicara semata. Dibutuhkan sebuah usaha yang nyata untuk mewujudkan apa yang kita kritik dan apa yang kita bicarakan. Walaupun sebenarnya tidak ada yang melarang jika ada orang yang lebih memilih untuk menyukai banyak bicara semata daripada melakukan aksi nyata. Semua memang punya hak untuk menentukan pilihan dan silahkan kita memilih mana yang terbaik untuk kita dan masyarakat di sekitar kita pada umumnya.

Seperti yang dilakukan kawan-kawan di Jl. Sunan Giri IV/63 Gresik – Jawa Timur ini. mereka membuat sebuah aksi yang mungkin oleh sebagian itu dianggap biasa saja. Tapi bagi duniaperpustakaan, itu sesuatu yang luar biasa.

Sunday, April 3, 2011

Konstruksi Dasar ke-Islam-an


Terdapat beberapa penafsiran tentang definisi akidah. Dalam Kamus al-Munawwir Arab-Inonesia, akidah diartikan sebagai ikatan, sangkutan, atau simpul, membangun lengkung, mengokohkan, membuat, dan mengadakan perjanjian. Secara lengkap akidah memiliki pengertian suatu kepercayaan dan keyakinan yang menyatakan bahwa Allah SWT itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya (Mubarrak, 2010: 161). Dalam perkembangannya, akidah bernegasi menjadi suatu kajian keilmuan islam dengan “julukan” Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam – yang membahas segala tentang Kalam Allah, qadim atau hadis. Selain dua “julukan” diatas, beberapa ahli juga memberikan sebutan sebagai Ilmu Usluhuddin karena objek kajiannya adalah masalah pokok keagamaan.
Perkembangan selanjutnya, ilmu kalam dijadikan sebagai seuatu ilmu hasil ijtihad para ahli dibidang tertentu. Tujuannya tentu saja memperthankan akidah dan keimanan dalam menggunakan akal fikiran. Hasil kerja dari para Mujtahid yang memiliki stuktur kognisi yang berbeda-beda, menyebabkan munculnya kecendrungan yang berbeda-beda pula. Akibatnya, muncul berbagai aliran dan mazhab yang men-tajir-kan khazanan ke-intelektualan Islam. Sayangnya, kebanyakan munculnya aliran-aliran tersebut banyak dibumbui oleh faktor politik daripada faktor fundamental lainnya. Berikut adalah beberapa rincian perkembangan dan jenis-jenis aliran dalam Islam:
·         Khawarij, adalah golongan penentang Arbitrase – diartikan sebagai Takhim – antara Ali dan Muawiyah dalam perang Shifin. Aliran ini lahir karena perselisihan antara Muawiyah dan Ali. Ketika itu Muawiwah tidak terima atas pengangkatan Ali Bin Abi Thalib sebagai khalifah. Pemahaman yang ekstrim dari aliran ini adalah sering mengkafirkan orang-orang yang dianggap pernah berbuat dosa besar, dan mereka berkeyakinan bahwa orang-orang tersebut adalah kafir dan boleh diperangi dan dibinasakan.
·         Murji’ah, aliran ini merupakan reaksi terhadap aliran yang pertama. Golongan ini menamakan diri mereka sebagai Murji’ah, dari kata arja’a-yarji’ui (mengharap, menyerahkan, dan menangguhkan). Aliran ini berasumsi bahwa dosa yang dikerjakan manusia dapat dimaafkan oleh-Nya.
·         Syi’ah, aliran ini adalah pembela Ali bin Abi Thalib. Pengikut aliran ini percaya bahwa umat islam harus dipimpin oleh Ahl al-Bait, yaitu keturunan Nabi melalui Fatimah al-Zahra’ dan Ali Bin Abi Thalib – Hasan dan Husein. Dalam perkembangan, aliran ini terpecah menjadi beberapa bagian, seperti Syi’ah Istna-Asyariyah, Ismailiyah atau Sab’iyyah, Zahidiyah, Ja’fariyah, dan sebagainya.
·         Jabariyah, aliran ini dipelopori oleh al-Ja’ad bin Dirham dan yang mengembangkan adalah Jaham Bin Sofyan. Golongan ini berkeyakinan bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Dalam kamus orang barat, faham ini dikenal dengan Fatalism atau Predestination.
·         Qadariah, adalah wujud perlawanan dari aliran Jabariyah, golongan ini memiliki keyakinan bahwa manusia memiliki kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya

Wednesday, March 23, 2011

PARODI PANTOMIM SANG PENGADIL (PPSP)


Realita Hukum Rakyat & Hukum (kep-)Aparat

Pantomim ini menceritakan tentang kondisi penegakan hukum di Indonesia akhir-akhir ini. Dengan proyeksi kasus Gayus Tambunan, Artalita Suryani, Susno Duadji,  Aulia Pohan, dan isu-isu hangat lainnya.

Tutorial       : Pantomim diperankan oleh 8 orang. Terdiri dari 4 orang sebagai “mafia peradilan” dan 2 orang berperan sebagai pengadil yang mbalelo. 2 orang akan menjadi narator di belakanag panggung.


Stage 1 :

Suatu malam di LP Brimob Dua Mangga, Koped. Jayus dan Hartalita sedang merencanakan “renofasi” rumah baru mereka di dalam LP.

Jayus        : Mbak Curiyan-i, koq bisa ya saya masuk penjara yang bisa pesan apa saja? Opo yang saya lakukan selama ini kurang heboh?
Harta        : Lho, kamu kan mafia kelas tempe. Kalo bukan karena rekaman dari KPK, saya mungkin sudah bisa beli kepala Pak Beye. Hehe.. (tertawa angkuh sambil kipas2)
Jayus        : Ya… Kalau gitu Mbak Harta koq betah disini? Toh bisa dengan gampang dolanan pejabat di Negeri Indronesia. Saya juga sebenarnya pengen ngajak temen2 yang lain supaya nge-Top seperti saya.
Harta        : Maksudmu opo toh?
Jayus        : Yo temen2 saya yang biasanya nilap duit pajak. Hehe..
Harta        : Ya ora bisa..!!!! Kalau semua koruptor kayak kita ini ngaku gara-gara pengen nge-top, saya jadi tidak bisa mainin orang-orang di DPR lagi dong, goblok banget sih kamu..!!
Jayus        : Saya kan masih baru Mbak Cui. Oiya, si Cusno Jeruji sudah balik ke kamarnya belum? Saya mau minta oleh-oleh.

Monday, March 21, 2011

Mencumbu Islam Kosmpolitan


Telaah Kritis Sufistik dan Ilmu Kalam
Oleh: Iswanda Fauzan S (Mang Oejank Indro)


Abstrak
Sebuah penafsiran tentang pokok-pokok ajaran Islam sudah banyak dituangkan oleh ulama-ulama kaliber dunia. Mulai dari syariat sampai fiqh. Sejarah telah banyak mencatat tentang Islam, tidak terkecuali tasawuf dan ilmu kalam. Sebuah penafsiran tekstual akan menjadikan umat Islam terkurung dalam ruang perversi. Sebelum semua menjadi bias dan terkontaminasi oleh pandangan-pandangan nyeleneh, revitalisasi nilai-nilai universal Islam yang sudah ada sejak zaman Rasulullah harus dikembalikan – dengan penafsiran komprehensif menggunakan tasawuf dan ilmu kalam (tauhid). Unsur-unsur utama dalam penyampaian kemanusiaan (al-insaniyah) sejatinya sudah terpatri dalam rangkaian ajaran Islam. Meliputi hukum agama (fiqh), keimanan (tauhid), dan etika (akhlaq). Universalitas Islam dapat ditelusuri melalui lima buah jaminan dasar yang tetuangkan dalam al-kuub al-fiqiyyah kuno; (1) keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum (hifdzu an-nafs); (2) keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa ada paksaan untuk berpindah agama (hifdzul an-din); (3) keselamatan keluarga dan keturunan (hifdzu an-nasl); (4) keselamatan harta benda dan milik pribadi dari gangguan atau penggusuran di luar prosedur hukum (hifdzu al-mal); dan (5) keselamatan hal milik dan profesi (hifdzu al-aqli). Tasawuf tidak seharusnya berkutat pada perbincangan soal moralitas semata. Lebih jauh, Tasawauf juga menyinggung dunia batiniah yang memiliki ruang tanpa batasan yang harus terus-menerus dijelajahi untuk mencapai titik tertinggi tanpa terputus (istiqomah). Selanjutnya, kehidupan beragama yang elektik akan tercapai ditengah-tengah peradaban Islam saat ini dan masa depan.


Kata kunci: Islam, kosmopolitan, tasawuf, ilmu kalam, sufistik

Thursday, March 10, 2011

Berdagang Syahwat Politik, Merakyat!


Oleh : Mang Oejank Indro, Mahasiswa Universitas Indonesia
Tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com

Tidak perlu mukaddimah untuk mengupas kejadian dan narasi pemerintah akhir-akhir ini. Cukup banyak media yang berbondong-bondong menyajikan Lebensraum Indonesiana beberapa pekan terakhir bukan? Sejak Pemilu 2004 rakyat Indonesia memliki presiden dandy dengan berbagai daya tarik. Hingga masa jilid 2 saat ini, suhu politik di negeri menjulang dengan gelombang reshuffle yang sering kali digelontorkan sang presiden. Jika kita mengukuti napak tilas perjalanan politik sejak Pak BeYe menjadi nahkoda Indonesia, tragedi seperti ini acap kali terjadi. Gertakan politik? Atau strategi baru dalam membawa kapal KIB jilid 2 untuk Indonesia lebih baik?

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...