Saturday, July 9, 2011

Mimpi

Tuhan
Aku Bermimpi
Bermimpi lagi
Ahahahaha... Aaaaa..  Uuuu...  Aaaaa...

---------
Depok, 8 Juli 2011
Oejank Indro

Sasmita Awamarta


                                         By, Mang Oejank Indro

Merangkak naik
Terjatuh tanpa beban

Banjiri kota-kota
Belahan bumi, tak Nusantara
Pamerkan                                                                                                   
Tunjukkan

Jutaan aksi persembahan
Suara kearifan

Bersandarlah. Buka lagi kantung imajinasimu.
Letakkan dalam-dalam. Jinakkan aurora dan fantasi.

Jual saja.

Bungkus dahulu. Rapikan lubang-lubang cacat.
Komersialkan. Sudah terbuang.

Cucuku tak mengenalmu lagi.

Kejenuhanku terbungkus rapi
Keningku memanas
Tak peduli
Menghambar percuma

Menggertak tak berpeluh
Pongah kepalaku. Hening tak menang
Jengah naluriku. Parah suar dan koar

Dan terbayang katalog keindahan
Terbuang jauh.
Tergadaikan

Bukan Bushido yang menggantung tanpa ruang
Tak pula sejajar dengan sempoa kehidupan

Menggiling derap tabuh-tabuhan
Mendongak mozaik asongan
Menggigil dalam retorika karya-cipta
Dalam gulungan karya jua

Helakan nafas sejenak
Banyak sudah pseudonym jalanan
Berpulang rangka penghujanan ketaatan


_________
Oejank Indro
-Puisi ini mendapatkan medali Perunggu dalam ajang OIM (Olimpiade Ilmiah Mahasiswa) FIB UI 2011-
O.i @ 2011

Diamnya Ismail Marzuki


Diam
Kataku terbang menjalar
Ismail Marzuki mengukir kelam
Guratannya menyala dalam-dalam
Sekedar berpose dalam keharibaan

Diam
Kataku melingkar pekat terbuang
Sebesar tingkah ilusi sajak jalanan

                  D
                   i n i   r i n d u K u    M e n a n t a n g
                  a                      e
B u n g K a m Kau...             b
            a                                i
            u                                 a
                                                  s
                                                    a
                                                      a
                                                        n

Diam
Saat ini kau tetap diam
Aku juga terkantuk menepi pinggir jalan
Menyapu cerita penyair terlegendakan
Dia masih diam. Dan dia selalu diam

Mencengang dibalik tiang
Menatap ramah. Lurus ke jalan
Sajakmu. Rinduku. Kenangku


Mang Oejank Indro
1 Juni 2011
Jakarta, TIM

Ada Indon-nesos


Ada banyak oase terbentang. Ada banyak suara terpenggal geram. Ada juga sabetan pena haram. Ada lagi pijakan beranak setan. Ada pula tetesan bersua menggeram. Ada warna menghitam hilang. Ada jerit memekik tajam. Ada jurang menari bertatapan. Ada lengan terombang bergelayutan. Ada kuasa bertabrakan uang.

Ada-ada saja

Ada panglima sempoyongan menahan beban. Ada agama teruntuk akuan Tuhan. Ada sayembara bersimbah pertapa. Ada dungu bertahta kuasa. Ada tanya bertanda seruan. Ada silsiilah berpangkal fitnah. Ada tanah mendengkur goyah. Ada ombak menendang pecah. Ada gunung terbangkan bara. Ada biji bertunas rendah. Ada bayi terkikis sengaja. Ada rumput berbau pestisida.

Ada-ada saja.

Adalah aku. Adalah kamu. Adalah itu. Adalah anu. Adalah dia. Adalah kita. Adalah bangsa. Adalah Nusantara. Adalah Indonesia. Adalah negara. Adalah Bahasa. Adalah semua.

_____
Depok, 4 Juni 2011
Oejank Indro

Huh!


Selama ini dia bersipu
Menelanjangi diri seolah bajunya sudah tak wangi
Selama ini dia menepi
Mengasingkan diri seperti kabilah garis kiri
Selama ini ia bermimpi
Mengapa ia mati bukan sebagai permaisuri

Saai ini dia mengilhami
Mengaliri asi putih kaya nutrisi
Saat ini dia menggurui
Menjejali busung dan rongga tak berisi
Saat ini ia bermimpi
Mengapa permaisuri berebut suami

Asu

Aku

Anu

Bertatap sering. Hah! Tua kering. Ludah basin. Hoplah! Hoplah lagi.
Eureka! Eureka! Kau juga! Aku juga!
Mati pasti


_____________________
Oejank Indro
4 Juni 2011
-saat menatap meja bergambar wajah wanita muda-
Depok, Jawa Barat

Thursday, July 7, 2011

Aisyah Namaku (Chapter II)



Setelah kembali ke dunia nyata, Aisyah tidak banyak berubah. Mimpi yang cukup buruk dan menyesakkan tidur malamnya. Rahmat, Inah, dan Rasmi semua hanya mimpi. Mereka benar-benar tidak ada dalam perjalanan hidupnya. Juga pondok pesantren Al-Harun, santri-santri dan Kiyai Soleh dan isterinya. Hanya bunga tidur. “Masa bodoh, semua itu sekedar mimpi.”
Setelah basah kuyup karena guyuran ‘hujan’ air sisa cucian, ia mandi lebih keras. Sabun colek yang tergantung pada pintu dapur ia sabet. Handuk bergambar tokoh kartun Walt Disney, Donal Duck, ia selimutkan diatas kepalanya – meskipun gambar tokoh kartun tersebut sudah sulit dikenali. Kamar mandi tidak jauh dari dapur, hanya dipisahkan oleh sumur berdiameter 120 cm, yang digali sendiri oleh mendiang bapaknya. Jalan ke kamar mandi dihiasi oleh batuan kali. Batuan itu tertempel pada tanah. Hanya menempel. Sekelilingnya penuh dengan tanaman hias yang terlihat buas. Anyelir, Adenium, Mawar hingga pohon pisang hidup dengan damai disana. “Mak, airnya dihabisin siapa? Masak harus nimba lagi. Bisa-bisa Michele Leigh McCool nyembah-nyembah sama aku.” Teriaknya dari dalam kamar mandi. Handuk yang menempel di bahu kanannya ia gantungkan di sebuah paku yang menancap di dinding kamar mandi. Disisingkan lengan kaos birunya. Sebelah kanan dulu. Yang kiri mengikuti. Ia beranjak ke sumur. Meraih tali katrol sederhana dari tambang bekas tali kambing. “Srutt..Kriek..Sruutt..Kriek” kira-kira seperti itu bunyinya ketika Aisyah mulai mengerek tali. Pelan tapi pasti. Sebuah timba bergantian keluar masuk. Pas masuk kedalam sumur timba itu kosong. Sebaliknya, ketika keluar, timba sudah berisi air dari sumur. Mulailah gentong dalam kamar mandi terisi air. Air yang mengalir dari sebuah saluran air dari bambu yang dibelah dua dan dibersihkan buku-buku bambunya. “Ini tidak kalah sama fitness pakai single station 15” Gumamnya.
Gentong terisi penuh. Aisyah terduduk di bangku dekat pintu dapur. Matanya tertuju pada gedung apartemen Julang Mas yang baru diresmikan kemarin malam. Tidak lama ia memandangi apartemen itu. Diambilnya air di dalam timba terakhir. Disiramnya tanaman hias yang sedikit memiliki nilai estetika disekitar sumur tadi;pohon pisang, anyelir, adenium, dan bonsai pohon asem yang berdaun ompong. “Duh, aduh... Udah jam berapa Ais?” Tiba-tiba suara si Emak menggelegar. “Biasanya jam berapa Mak?” jawab Ais. Emak segera memungut sandal jepit multi warnanya. “wussss…Plak!” Lemparan pertama meleset. Pohon adenium berbunga merah blasteran putih tulang menjadi korban ke ganasan sandal Emak. “Lho, Mak! Kasihan adeniumnya! Kan..” belum sempat melanjutkan omongannya, Emak sudah memasang kuda-kuda. Seperti tokoh pendekar dalam cerita-cerita karya Chin Yung. Alis Emak sudah mengkerut. Matanya menjuling. Segera Aisyah melepaskan timba yang berisi sedikit air. Ia berlari menerobos ke kamar mandi. Belum sempat Emak melepaskan sandal ke duanya yang berwarna biru. “Slamet..slamet..!” Bisik Aisyah dalam kamar mandi.
Srrrrriiiiikkk…Gletak!!!...Byuuurr..! Dan suara teriakan terdentum. “Aisyaaaaaahhhh!” Aisyah tersentak. “Ya.. Mak?” Sahut Ais dari dalam kamar mandi. Kemudian kepalanya menjulur keluar dari balik pintu. Celana boxer dan handuk biru tadi yang menempel ditubuhnya. Dilihatnya Emak sedang basah kuyup dengan posisi kuda-kuda ala jago silat. Tentunya sandal jepit biru ditangan kananya. “Lho? Emak kok mandi lagi?” Imbuh Aisyah. Ia lantas masuk kembali ke kamar mandi setelah mendapat lirikan tajam disertai muka suram Emak. Siulan tak berdosa pun segera bersua dari balik pintu kamar mandi. Disertai bunyi deburan air dari gayung yang menabrak tubuh dan jatuh ke tanah.

**
Sebuah buku tulis dan catatan kecil dalam lembaran acak ia masukkan ke dalam tas sekolah. Sebenarnya tidak seperti tas sekolah. bentuknya lbeih mirip kantung beras putih yang bertali di sisinya, sehingga bisa digendong di balik punggung. Kata orang-orang sih tas gaul. Tapi Aisyah sudah memakai tas itu setika masuk SD 14 tahun yang lalu, sekitar tahun 1994. Pas waktu anget-angetnya pelajaran P4, dan puncak kejayaan Pramuka. “Nasi, tempe, kangkung, sambel. Emm.. enak nih?” Celotehnya sambil mengamati menu makanan di meja makan. Air minum ia tuangkan dari kendi yang terbuat dari tanah liat ke gelas berbahan alumunium. Piring platik, bukan berbahan melamin, nasi dua entong, tahu dua potong, tempe dua potong, dan sambal tiga sendok makan. “Lha, kepuruknya mana Mak?” teriaknya kepada Emak yang sedang menyapu halaman rumah.
“Di atas lemari bupet!” Sahut Emak.
“Tinggal 3 biji ya Mak? Kira-kira Emak bisa habisin berapa?”
“Satu aja cukup.” Aisyah mengambil 2 biji kerupuk putih berbandrol Rp. 200 per biji tersebut. Hidangan sarapan dilahapnya. Tidak lupa ia cuci dulu piring dan gelas. Tanpa sabun cuci dan usap-usap, yang penting kelihatan bersih, masa bodoh dengan higienis, steril, dan kawan-kawan.
“Mak, Ais berangkat cari ilmu lagi! Emak masih kerasan kan dirumah sendirian?” Aisyah berpamitan. Cium tangan kanan dulu. Aisyah melesat melewati pagar rumah tetangga. Menyelinap di balik gang kancil. Melewati jembatan yang melayang diatas sungai berair sampah dan sejenisnya. Atau bukan sungai, comberan. Lalu menghilang dari pandangan Emak.
Sejak kelas 4 SD, Aisyah hidup dua batang kara bersama Emak. Dunia ditinggal bapaknya ketika bergejolak peristiwa Reformasi berkecamuk di tahun 1998. Bapaknya bernama Cok Tjian adalah salah satu korban kerusuhan yang terjadi di Jakarta, 13-14 Mei 1998. Kerusuhan yang dipicu penembakan aparatur pemerintah terhadap Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Aisyah dan ibunya tidak pernah menyemayamkan bapak satu-satunya itu. Tapi Emak yakin suami tercintanya itu sudah tiada. Emak beberapa kali ditemui bapak lewat mimpi. Dan Emak percaya itu benar-benar petunjuk dari yang Maha Kuasa.
Hidup berdua di rumah sederhana dengan bunga-bunga alakadarnya bukan hal mudah. Setidaknya ketika tahun-tahun pertama dan kedua. Emak harus berjuang menjadi orangtua single. Sedangkan Aisyah harus berusaha menjadi single child. Artinya, pupus sudah keinginannya mempunyai adik. Berbeda dengan sahabatnya, Yona, yang orangtuanya langsung meberikan dua orang adik sekaligus dalam sekali produksi. Mungkin saja orangtua Yona gemar Puasa Patigeni dan menguasai aji Semar Mesem. Jalan Tuhan memang selalu indah untuk hambanya. Hal inilah yang mendasari kekuatan Emak dan Aisyah bertahan. Bisa saja Aisyah memiliki adik, tapi ia tidak ingin adik berbeda bapak. Tapi masa iya, Emak bisa punya anak dengan orang yang sudah mati? Jangan-jangan disangka Bunda Maria second edition? Tapi itu mungkin bin mustahil. Lho? Jadinya ya tidak mungkin.

Aisyah mengakrabkan diri dengan satpam sekolah. Seperti lagak Ki Juragan pada awal kisah perang Campuh – Karta Sura dan Sura-Baya – waktu kembali ke Paronggahan bersama Panji Sugeng Rana. Pak Beno, itulah nama satpam sekolah yang bagian jaga pintu masuk. Orangnya pendek dan berkumis tebal. Kepalanya sedikit kotak dengan variasi hidung lebar. “Pak, dulu pernah punya pacar nggak waktu SMA? Berapa pak?” Tanya Aisyah sok akrab.
“Ya mesti punya.” Jawab pak Beno dengan nada sedikit congkak.
“Mirip siapa pak?” Aisyah memancing pembicaraan.
“Yang pasti jauh beda sama kamu.”
“Ooo..” Aisyah membalikkan badan. Ia mulai memandangi jalanan dan sekitar. “Cowok pak?”
“Opo? Yo pasti cewek, wadon, harim.” Pak Beno menyambar Aisyah. “Saya sudah hafal jurus kamu, ndak bakal mempan dan ndak bakal mujarab lagi rayuan basi-basa kamu.” Pak Bona keluar dari pos jaganya. Memegangi kunci gerbang dan berjalan sombong ke depan. Putar badan, dan berjalan ke depan lagi.
“Nanti malam jagoin siapa pak?” Aisyah mencoba meleburkan suasana. Ia tahu ada pertandingan final liga champions eropa nanti malam.
“Ya pasti MU to!” Sahut pak Beno.
“Berani pasang berapa pak?”
“Nantang nih ceritanya?” Pak Beno semakin menjauh dari pos jaganya.

Bersambung..

Sunday, July 3, 2011

Kupunya Punyamu Jiwa Jelatah

Tanganku memucung melebar dengan sayap lima
Menyapa sumpah-sumpah yang tak kunjung reda
Buaian bui terkatung-katung lemah menyerah
Menengadah dibalik lembaran pundi haram

Kanan dan kiri
Atas dan Bawah, lagi
Terkebiri riangnya tirani
Terkubur subur bak pandemi

Disini tak berdiri
Disana sekedar sampah
Jelatah merayap mengais rejeki
Baginda berlomba menyapa tahta

Sakit tukar sulit
Miskin tukar aking
Bodoh tukar sinting
Pintar tertukar asing

Aku muda kini
Kau mati nanti
Kami warisi sulitmu
Kalian matilah dulu

Maaf aku lantang
Egoku makin matang
Siaplah untuk ku tantang
Ajalmu akan datang

Aku muda kini
Sebentar lagi kau mati
Wariskan Negeri ini pada kami
Kalian pasti ku ampuni

Maaf aku kasar
Sadarku lebih pintar
Yakin kau gusar
Segera kau akan terkapar


-----
Serpong, 3 Juli 2011
Mang Oejank Indro

Takut Tuhan


Aku takut Kau menukar imanku
Aku takut
Benar-benar takut

Aku mau Kau!
Kau yang satu
Kau yang kasih
Kau yang Pengasih
Kau yang abadi

Tidurkan aku sebagai hamba-Mu
Aku tak mau jauh dari-Mu
Sungguhpun Kau tak pernah jauh
Tak lebih jauh dari hidungku

Aku mau Kau Tuhanku
Aku mau Kau! Allah....
Sujudku
Tobatku
Hidupku
Surga-Mu..

-----
Puisi ini saya dedikasikan untuk seorang sahabat saya, Nur Fidini (1992-2011). Selamat jalan sahabatku Nur Fidini, bahagialah disana. Doaku menyertaimu. Aku hanya tahu kebaikanmu. Semoga Allah SWT menerimamu sebagai hamba yang baik dan patuh. Seperti aku mengenalmu..
 -----
Serpong, 3 Juli 2011
Mang Oejank Indro

Saturday, July 2, 2011

SATU





a
n
1



h


n


u



o

T




k

i
a
d
A

t




l

u




l

r




a

n

k
i
a
h

o
d
u





e
h
u
t
i
n
t
a



Karya : Mang Oejank Indro
-----Pekalongan, 13 juni 2011

Ciputat


Ciputat

Cukup nyaman mengenal dan mendiami
Intonasi agama berdenyut meninggi-ninggi
Petakan durasi sejarah tinggi Islami
Untuk lagi mengamini puri-puri sedih
Tunggui saduran religi
Aku tersesat sesaat dan menepi
Tunggui jejak religi dan pergi

-----
Ciputat, 11 Juni 2011
Mang Oejank Indro

Jenuh


Jenuh

Aku sumbang
Aku menghilang
Aku terbiaskan ruang

--Jember, 17 Juni 2011 -- Mang Oejank Indro

Demo


Demo

Berlajur-lajur menggenangi jalan
Ada yang terdiam dan tak diam
Melayang lupa tanpa menindih bawahan
Deru tarik ulur tarikan teriak berayunan

----- Ciputat, Junni 2011 – Mang Oejank indro

Friday, May 27, 2011

Air dan Kehidupan



Air merupakan komoditas yang penting dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup dimuka bumi. Tanpa air, peradaban manusia akan dengan cepat musnah. Karena air, sebuah peradaban akan tumbuh. Meskipun 70 persen dari muka bumi adalah air, namun 97 persen darinya adalah air laut (asin) yang tidak dapat dikonsumsi secara langsung oleh manusia.
Pada hakikatnya, kuantitas air dibumi tidak berubah. Hal ini disebabkan adanya siklus hidrologi. Siklus hidrologi adalah siklus perputaran air di alam. Namun, persediaan air tawar yang ada dibumi semakin menghawatirkan. Faktanya, hanya 0,29 % air tawar yang dimanfaatkan. Sisanya tersimpan di kutub sebagai gunning es.

Sunday, May 22, 2011

Berlabu di Perpustakaan Baru Apresiasi, Prestasi, dan Kontroversi (2-Habis)

 Setelah penantian panjang yang penuh dengan kontroversi dan kritik, perpustakaan baru UI mulai dibuka pada tanggal 13 Mei 2011 yang lalu. Suasana perpustakaan cukup nyaman. Kemegahan bangunan dan beberapa sentuhan artistik menambah keindahan dan kenyamanan perpustakaan itu. Belum lagi pemandagan yang tersaji di halaman perpustakaan. Disana pengunjung bisa menikmati sejuk danau dan rindangnya pohon-pohon nan hijau. Dari lantai 5, pemandangannya juga tidak kalah menggiurkan.

Thursday, May 19, 2011

Putri Kiyai di Bulan Suci

Oleh Mang Oejank Indro

Ia memiliki kharisma yang tinggi. Bukan hanya karena ia anak seorang kiyai, ia juga seorang yang memiliki intelektualitas yang sangat tinggi. Kemampuannya dalam hal agama tidak diragukan lagi. Banyak sudah yang berbondong ingin menjadikannya sebagai menantunya. Tapi banyak juga yang pulang dengan tangan hampa.ia tak tampak sedikitpun mirip dengan putri raja. Selir kaisar dan apalah namanya. Sangat sederhana jika aku boleh mengatakannya. Semenjak mengenalnya, aku sadar, ternyata ia tidak bbegitu cantik, tapi sangat menarik. Sangat susah untuk menjelaskan runyamnya perasaanku kepadanya. Skalipun aku berkali-kali memperoleh medali emas di setiap kompetisi menulis puisi, tetap saja sulit bagiku menuangkan kalimat untuk melukiskan pribadinya. Nah, pribadinya itu lho, itu yang jarang dimiliki orang lain.
Pertemuanku dengannya berlangsung sebulan yang lalu. Bulan Sya’ban. Tanggalnya aku sudah lupa. Pokoknya antara tanggal 6 sampai 9. Saat itu, aku masih remaja. Usiaku belum genap 18 tahun. Kata psikiater ‘masih puber’. Karena dirumah aku sering berulah, menyusahkan orang tua, dan kadang manja, aku dikirim ke pondok. Pikirku, daripada bapak dan ibu terus sakit karena melihat tingkahku, mending aku jauh dari rumah. Nakal dan berandal diluar lebih aman.
Tidak berat jika harus meniggalkan rumah. Apalagi untuk belajar. Hemm.. dunia memang sulit dicerna. Sayangnya, kalau masuk surga, kita harus hidup di dunia, tidak seperti malaikat-malaikat tak bersyahwat itu.
Beberapa orang sibuk dengan buku kecil bertuliskan huruf arab gundul. Ada yang berpakain mewah, ada yang memakai baju takwa, da nada juga yang hanya mengenakan kaos oblong. Untuk bawahannya, mereka kompak memakai sarung. Tidak ada yang mengenakan celana kain, apalagi jeans. Aku hanya meamndangi mereka. Berlagak sebagai santri baru yang butuh perhatian dan pengarahan. Diam saja. Tak lama kemudian, seorang pria agak tua menghampiriku. Ia duduk disebelahku. “Santri baru ya nak?” Ia bertanya. “Iya, bapak pengurus pondok sini ya pak?” Aku balik bertanya.
“Semua santri dan keluarga pak kiai adalah pengurus pondok ini.” Jawabnya. “Asli mana? Tanyanya lagi.

Friday, May 13, 2011

BAHASA

Bahasaku tidak mudah
Rapuh dan jauh dari Jelatah
usang jika ditelan mentah-mentah
Satu pagi tak mungkin berujung duka semata

Balik badan dan jangan tertawa
Meskipun ini bukan kisah nyata
Narasi terpenggal halus lurus bersila
Abaikan saja nafas buruk sangka

Asing..
Hilir...

Kutukan batin memecah raga
Ciptakan delik bercecer jiwa
Ciptakan lagi sirna kamar pujangga
Bedakan dua dan tiga suku bangsa

Bangga anak Indonesia
Bangga anak Bangsa
Bangga anak Pancasila
Bangga anak Nusantara

K H A Y A L

Aku menepis keraguan
Tergolong manakah makhluk sepertiku
Kiasan dahaga tak sempat menjelma
Kolong-kolong tanah melayang sendu

Takutku berebut inang bernyawa
Sabar... Cengkeeram lembar dahan pilu
Semilir ilmu tersatir indah membahana
Ratakan gaung belenggu untuk juangmu

Masihkah terlalu Kecil?
Sedangkan Tuhanku tak pernah menggigil
Pijakanku tak buram dan lepas tanpa hasil
Usah berpuisi....Cukup melamun kecil

Wednesday, May 4, 2011

Samidun


Oleh, Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com

Semua dianggapnya sempurna. Meskipun ada yang salah, ia hanya menggeleng-geleng kepala. Lalu menjauhkan rasa dengki. Tanpa ada kata yang terlontar. Membisu saja. Padahal, usianya sudah baligh. Sekarang ia sudah jadi mahasiswa di universitas ternama di Indonesia. Semoga sikap lugu dan neriman tidak sepenuhnya segan ia budayakan. Jika terus-terusan seperti ini, ia akan terbiasa dengan intimidasi dan mudah ditarik oleh lingkungannya. Entah mengapa ia bertingkah seperti keledai dungu. Hanya diam saja. Seperti awal semester ini, disaat sejumlah penerima beasiswa sedang gaduh menuntut pencaiaran dana biaya hidup (living cost), ia hanya mesam-mesem. Apa ia tidak memikirkan nasib ketiga adiknya yang menggantungkan makan dari keringatnya? Apa ia tega melihat ibunya berpanas-panas menikmati sengatan matahari di tengah sawah. Itu jika musim kemarau, kalau musim hujan, ibunya harus menggigil berbalut air hujan. Tidak cukup malukah ia dengan semua ini? Daripada jauh-jauh kuliah dengan menggantungkan beasiswa. Sedangkan keuarga tertati menghidupi diri jauh di pelosok desa.
Samidun nama sahabatku itu. Selama ini, ia menetap satu kamar denganku. Aku yang menanggung biaya kosnya. Termasuk biaya tambahan listrik dan sebagainya. Setahuku, ia hanya membawa dua stel baju tiga kaus dalam, dua celana dalam, dan dua celana. Salah satu celananya pun sudah
bertaburan tambalan. Lebih parah lagi, resleting celana tersebut rusak, dan setiap kali ia mengenakannya, dengkulnya selalu terjuntai murka keluar. Naas dan tragis memang hidupnya.
“Dun, kamu itu lho, hak kamu itu sudah di cederai. Kok malah nyantai, leha-leha, koyok wong sugih aja.” Malam ini aku menegurnya. Sengaja aku memecah konsentrasi belajarnya. Kadang-kadang aku getir sendiri. membayangkan ia dengan tenang menjalani hidup, meskipun tidak tahu besok mau hidup dengan apa.
“Wo, hidup itu sudah ada yang ngatur. Nyantai aja. Hidup kok dibikin susah.” Jawabnya. Ia segera menutup buku kalkulus 1 yang tebal itu.
“Lho, bukan gitu Dun..”
“Terus..?” Aku memotong.
“Kamu percaya tidak kalau Tuhan itu maha adil?”
“Yo mesti percaya…”
“Nah, itu, itu jawabnnya. Buktinya, aku masih bisa hidup meskipun sekamar sama kamu.”
“Maksutmu opo cok? Ndak suka sekamar sama aku?”
“Ha ha ha. Yo nggak apa-apa. Terimakasih.” Ia mletakkan buku kalkulusnya di meja kecil. Antara kursiku dan kursinya. “Dun, adikmu, Sumi, sudah lunas biaya ujiannya?” Tanyaku. Samidun mengangkat kakinya. Posisinya seperti orang di warung kopi. Pandangannya memusat ke langit. “Woi, ngalamun. Aku tanya cok!” Sengaja kubuyarkan lamunan Samidun. “Belum Wo, masih tunggu beasiswa cair.” Jawabnya melas. Guratan dahinya mengkerut-kerut. “Hemmm, memang Tuhan maha adil.” Gumamku. “Raimu, asu.” Aku hanya tertawa liar. “Makannya, beasiswa itu hakmu, kalau memang yang member hak itu tidak melaksanakan kewajiban, tanya dong! Jangan mbideg saja.”
“Iya juga ya Wo, kalau kamu kuliah dikirim dari dari rumah. Lha aku, malah ngirim ke rumah.” Samidun mengigau. “Memang Tuhan Maha adil.” Tuturku singkat.
“Jancok, raimu Wo. Seneng lihat teman susah?” Samidun menyanggah.
“Mukamu memang muka susah.” Tukasku lantas tertawa.
“Waaah, kacau.”
“Eh, Dun, Samidun.. Tuhan memang menyuruh kita untuk berusaha, tapi Tuhan tidak menuntut kita untuk berhasil.”
“Tumben kata-kata kamu putih, biasanya keruh dan jorok.”
“Koyok raimu ndak aja Dun..!”
“Kalau aku masih demen sholat. Lha kamu, perintah sholat wajib lima waktu, sing dilakoni cuma telu.” Ujar Samidun seraya menjitak kepalaku. “Oooo, asu!”
Hampir setiap malam, aku dan Samidun tidak pernah meninggalkan rutinitas ngopi. Meskipun kopi racikan sendiri. Rasanya tidak kalah dengan starbuck coffe yang mahal itu. Samidun bukan orang bodoh, setidaknya itu yang aku tahu. Setiap Sabtu dan Minggu ia habiskan hanya untuk menukar ilmunya demi rupiah. Hasilnya, ia bisa mengisi perutnya dengan segumpal nasi dan pernak-pernik makanan lainnya. Urusan air minum cukup isi ulang. “Wo, Minggu depan aku pinjem kemeja sama celana ya. Buat ngajar.” Seperti biasa, Samidun selalu mengandalkan pakaianku dalam setiap jam terbangnya mengajar. Sudah berulang kali aku merelakan beberapa baju dan celanaku untuknya. Tetapi jawabannya selalu sama. “Sebentar lagi aku beli kok.” Hasilnya, selama setahun, ia tak kunjung membeli baju, apalagi celana. Dasar Samidun.
Sebenarnya, menurutku, banyak Samidun-Samidun lain di sini, di kampusku. Kampus berbintang nomor satu di negeriku. Tapi, Samidun yang satu ini berbeda. Ia mengejar beasiswa untuk keluarga. Urusan makan dan minum sudah ia dapatkan dari menjual ilmu di tempat-tempat kursus, dan kolom-kolomnya di koran nasional. Memang berat bagi Samidun, ia harus menjadi ‘ayah’ bagi ketiga adiknya, dan sekolah untuk masa depannya. Dalam benakku sangat yakin, kualitas dasar kemanusiaan yang dimiliki Samidun akan sangat high qualified. Sayang sekali jika hanya karena orang-orang yang memainkan hak orang lain, Samidun harus melihat adik-adik dan ibunya menggeliat dalam persakitan ekonomi. Dan Samidun sendiri terganggu perjalanan akademiknya. Pas awal menerima beasiswa, kata Samidun, ia dijejali berkas pernyataan yang bermaterai. Di berkas itu ada poin-poin hak dan kewajiban antara penerima dan pemberi beasiswa. Sayangnya, sampai saat ini penerima lebih diposisikan sebagai ‘isteri kedua’ daripada pemberi. Agamaku saat ini, mengajarkan bahwa hak tetaplah hak, dan pemberi beasiswa itu tidak berhak merampas hak penerima. Awalnya bilang A, ujung-ujungnya dilempar ke Z. Tentunya dibumbuhi alibi dan alsan yang rasional juga. Tetap saja alasan. Di kampusku, hak seorang mahasiswa kadang-kadang juga di buat mainan. Seperti hak Samidun. Dasar Samidun (siang malam rindu dana turun).


RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...