Saturday, August 20, 2011

Dongeng Surgaku


Dongeng Surgaku



pagiku redup
berulang redup
tangisku silau
menggulung ufuk


                pagiku cerah
                membara jingga
                tertawa gembira
                menjala aura

kau, bukan
               
                iya, aku

aku matikan lampu
aku hirup asap bakau
sandarkan bahuku
aahh..

                kini waktu membantuku
                menari dan menjelajah. tak ada haru
Manja!
                kau pikir tidak jenuh?
                aku melempar malu. tak ada haru

parasmu itu
luapkan titik benalu
tusukku tanpa porsi dulu
                manja..!
kenali murkamu
kau..!
Iya, aku
Tuturku menjubal kala fajar
Redupkan harum. Kau tidur
Tidak, bukan!
Bayangmu sesalkan sinar
Matikan tanah yang subur
Emm.. Iya, aku!
Tapi,..
Kau berang dengan mereka
Mencari kambing tak berbulu
Mengadu bak kancil merah
Dan, menangis dipojok pintu
Kau, kau tahu?
Flamboyan mengharu sejuk
Mengusir garis-garis pantai sejuk
Pikirmu aku segan terbujuk?

Tak luput.
Tubuhmu indah, memang indah
Senyummu merekah, mengaliri buih-buih mesra
Kadang berguru pun tak cukup
Gombal
Kucrut
Hey..!
Tanpamu, Aku..
Curut

Merebahlah, tunduk
Kau sudah banyak kuguyur
Tubuhmu itu suci ketika..
Lahir?
Kau mujur dan kau..kau..kau..!
Rumahku bertingkat
Jubahku berhias emas
Lihat..! kini aku waras
Kau.. cobalah lirikkan matamu
Lepas..!!
Merebahlah, tunduk.
Patahkan kakimu
Letakkan keningmu, tunduk!
Seandainya..
Diam..!!
Wajahmu tak berpaling
Biarkan..! Tunjukkan!
Aku… Aku..!
Guraumu bukan untukku
Wajahku tak sadar diduniamu
Suaraku mengringi nadimu
Mataku melebur, terbang, berkejaran di nafasmu
Kau! Hidup di duniaku
Tak pernah kau hadir!
Candamu itu, sampah!
Hanya senangmu, itu mauku.
Diam..!!
Sepihak kau suruh aku diam
Guratan dahimu saja, huh..
Aku terkesan.  Jancuk!
Merebahlah, tunduk
Ceritamu tak lebih busuk dari Fir’aun
Kejimu, huh! Pelajaranku.

Merasa sesal dalam-dalam. Terpikat jarah. Kau tak jera.
Kau menyamun ruang putih. Aku melamun dalam sepetak ladang gelap.
Kau berapi-api membawa perisai besi. Menghunus pedang bertulis “BUI”
Dan, kau menghela nafas. Mengusap dahi dengan air yang kau sebut “SUCI”
Aku tahu
Tanganku bergetar menapak tanah yang bernisan
Dadaku terkoyak setelah sekilas meratapi
Sifatmu
Iya, aku!
Kau mendosakan kebaikanku
Kau menghitamkan padang yang kuputihkan
Kau turunkan kedinginan yang panas
Kala manusia-manusia itu naza’
Ha ha ha ha ha
Iya, aku
Kau hanya ingin sujud kepada Adam
Adam yang aku bius dengan kelembutan
Kelembutan yang terpisah dari rusuk kirinya

Merebahlah, tunduk!
Surgaku bukan surgamu
Nerakaku itu surgamu
Kilatan cahaya dan harum yang tak kukenal itu.
Disanalah tempatku.
Matamu tak mampu lagi menahan jampiku
Kau hanya menyiksa batinmu di duniamu
Hanya untuk dunia mereka yang tabu
Mengatasnamakan surga ditelapak kaki ibu

Akulah ibumu.
Bukan, dia ibuku.
Ibuku tidak bertaring dan berbulu.
Ibuku membelai indah malam-malamku.
Kenapa kau diam?
Ingat saat kau menjambak rambutnya yang memutih?
Ingat saat lenganmu menyambar pipinya yang keriput?
Ingat saat kau terbahak mendengar namanya terlacur?
Ingatlah itu, kau senang bukan? Siapa ibumu sekarang?
Akulah ibumu.
Merebahlah, tunduk!
Ibuku itu,
Ketika aku merengek tidak memperoleh permen.
Aku masih menerima kecupan dikening kecilku, tanpa dia lesuh.
Mengelus bekas lukaku. Dan, tak peduli jika terluka karenaku.

Ibuku itu,
Ketika malam bersujud dengan do’a yang berkejaran.
Hanya untuk menghilangkan dosa terkesil disekujur tubuhku.
Sekalipun aku berkeras untuk tetap membela temanku.

Ibuku itu,
Orang yang tidak punya malu.
Hanya untuk menyuapiku sepiring nasi dan seteguk air putih.
Dan, menabur sekeping koin dalam saku celanaku.

Ibuku itu,
Manusia yang menyiangi sekujur tubuhku tanpa letih.
Ketika urat nadinya mengecil dan hampir mati.
Terlebih ketika kening dan kakinya mulai melepuh.

Ibuku itu,
Ketika aku dewasa.
Sedikitpun tidak memanja untuk mengharap budi.
Ia rela melihatku berdiri dari tempat tidurnya. Meneteskan air mata kasih.
Lalu pergi tidur dengan tiga lembar kain putih yang terikat rapi.


________
Depok, 20 Agustus 2011
Mang Oejank Indro

Tuesday, August 16, 2011

Indonesia Terbalik (1)


Oleh, Mang Oejank Indro
"Ini adalah artikel yang akan terbit secara berkala. Dalam artikel ini, Penulis akan memberikan sedikit gambaran Indonesia kita yang unik dan besar!"

Rahasiamu, Indonesiaku
Menulis tentang Indonesia memang menyenangkan. Ditengah hiruk pikuk kehadiran pesta olahraga terbesar se-Asia Tenggara , SEA Games 26, yang dicanangkan dihelat tanggal 11-22 November 2011. Keajaiban yang terukir indah dalam bentangan pulau sepanjang sekitar 5.000 kilometer, yang diantaranya 3.000 pulau layak huni, inilah Indonesiaku. Sejarah banyak mencatat kejayaan kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di Nusantara yang memiliki kharisma dan kekuasaan yang menakjubkan. Sebut saja, Sriwijaya yang mengendalikan perdagangan dunia pada abad pertengahan, ketika barat sedang mengalami abad kegelapan. Majapahit yang berhasil menaklukkan banyak wilayah nusantara dan berkuasa hingga daratan Semenanjung Malaya, dan banyak masih banyak lagi.
Fakta sejarah terlalu banyak bercerita tentang Indonesia, Prof, Arisyo Santos dalam bukunya Atlantis:The Lost Continent Finally Found, secara tegas menerangkan bahwa Indonesia –lah Atlantis. Ibu dari seluruh peradaban dunia, sebuah peradaban yang dituangkan secara misterius dan fantastis oleh Mbahnya filsuf dunia, Plato. Secara geografis, Indonesia menempati posisi yang ‘aman’ dan ‘nyaman’. Tidak heran Koes Plus mendendangkan lagu “Kolam Susu” sebagai perumpamaan kekayaan yang dimiliki Indonesia. Daratan kita menempati urutan ke enam sebagai yang terluas, dengan bentangan daratan sekitar dua juta mil persegi. Terselip diantara dua benua, Asia dan Australia. Mengambang diantara dua samudera, Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia. Indonesia masih sebagai Negara dengan sumberdaya alam terbesar ketiga dunia, dibelakang Amerika Serikat dan Rusia. Faktanya, satu dari empat ban mobil Amerika terbuat dari karet Indonesia.
Di wilayah Indonesia yang sedemikian luas itu, matahari pun tidak cukup hanya sekali terbit. Matahari harus terbit sebanyak tiga kali. Hal ini mengakibatkan pembagian waktu menjadi tiga bagian. WIB untuk Indonesia bagian barat, WITA, di bagian tengah, dan WIT, untuk bagian Timur. Luas daratan Inggris Raya, Romania, dan Yunani jika digabungkan menjadi satu, tidak lebih besar dari luas pulau Sumatra dan sekitarnya, sekitar 473.605,9 km2.  Luas wilayah Perancis, 547.026 km2 ternyata lebih kecil daripada Kalimantan Indonesia, 59.424.53 km2. Denmark yang luas wilayahnya 43.069 km2 tidak lebih besar dari Provinsi Jawa Barat, 44.170 km2. Bahkan luas wilayah DI Yogyakarta, 3.142 km2, lebih besar dari gabungan antara Vatikan, Monako, dan Luksemburg. Memang bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar.(Oi)

Sunday, August 14, 2011

SEMALAM DI GERBONG GUMARANG


Oleh,
Mang Oejank Indro

Kerumunan orang berbondong-bondong melihat jadwal keberangkatan kereta di stasiun pasar Senin, seorang petugas berusaha menjawab pertanyaan beberapa orang yang terlihat sedang menunggu sesuatu. Ruangan disebelah kanan pintu keluar telah dipenuhi beberapa orang yang sesekali melihat jam dinding yang tergantung di atas pintu masuk. Mungkin mereka pengguna jasa kereta api, atau sedang menunggu kerabat, sahabat, kekasih, dan istri atau suami mereka.
Sudah setengah jam aku berdiam dan hanya memandangi lalu lalang manusia. Sesekali terdengar suara dari balik speaker mendengungkan kabar kedatangan dan keberangkatan mereka.
            “Ah.., Lama juga keretanya, lali paling masinise”. Gumamku dalam hati. Selang beberapa menit, speaker yang tergantung di atas plafon atap stasiun memberikan informasi kedatangan KA Gumarang kelas bisnis jurusan pasar Senen – pasar Turi.

Saturday, August 13, 2011

Islam, Budaya dan Teknologi-nya Gus Dur


Oleh, Mang Oejank Indro

PADA suatu pagi, Gus Dur duduk di kursi depan kendaraan yang dinaikinya. Suara dari kaset terdengar memenuhi kabin kendaraan, mengalunkan bermacam shalawat yang didendangkan anak-anak dengan dipimpin seorang dewasa. Berbagai shalawat didendangkan, termasuk shalawat/pujian semasa menunggu datangyan imam di masjid/musala. Dibawakan versi lengkap dari pujian “Illahi Lastu” yang biasanya hanya diperdengarkan dua baris/bait bahasa Arab saja. Kira-kira dua jam berkendara dari tempat tinggal Gus Dur di jalan Paso ke Hotel Marriott guna melakukan doa bersama dengan sejumlah kiai dan para agamawan lain. Dalam mendengarkan kaset shalawat dan pujian, Gus Dur lagi-lagi dihadapkan kepada sebuah gambaran tentang masyarakat kita dewasa ini, yaitu antara dendang tradisional tapi menggunakan alat-alat sound system yang sangat canggih. Yang dimaksudkan Gus Dur adalah penggunaan teknologi canggih berarti tekonologi modern oleh pergelaran tradisional. Ini adalah kenyataan di depan mata yang tidak dapat diingkari walaupun jarang dipikirkan. Ternyata tidak seperti yang para peneliti dan pemerhati sering kemukakan mengenai adanya pertentangan teknologi modern dengan budaya tradisional.

Friday, August 12, 2011

HINDARI SEX-APPEAL DAN NAFSU EXHIBISIONISME


Oleh,
Mang Oejank Indro


Pada era modern saat ini banyak bermunculan media-media yang menghantarkan remaja kedalam aspek-aspek demonstratif dan agresif. Bahkan dapat dikatakan hampir pada semua kegiatan kehidupan kita sehari-hari. Pertemuan di sekolah, kampus, tempat olahraga, dalam kendaraan, pengajian dan sebagainya. Apabila kita kurang hati-hati dan tidak mempunyai kendali diri yang berupa aturan moral, maka lingkungan akan menyeret kita kedalam suatu ruang perversi. Dan yang sering menjadi menjadi wahana eksplorasinya adalah kalangan remaja, hal ini sangat berbahaya karena mereka sedang dalam keadaan jiwa yang tidak tetap, suatu pribadi yang belum memiliki kematangan bentuk dan masih muda menerima pengaruh dari luar. Apalagi pengaruh-pengaruh yang datangnya sengat menyolok dan dengan disengaja, selain itu, organ seksualitas yang mulai matang sebagai alat pemenuhan kebutuhan koitus yang mulai membara yang mana pada konsdisi inilah kebutuhan tersebut membutuhkan sambutan dari luar.

Sex-appeal adalah daya tarik yang kuat yang dapat membangkitkan seseorang pada nafsu-nafsu seksual atau birahi terhadap jenis lain. Sedangkan nafsu exhibisionisme mempunyai pengertian suatu keinginan yang kuat untuk memperlihatkan kepada orang lain karena sifat jasmaniah yang dimiliki oleh seseorang, terutama dipergunakan dalam hal-hal yang bersangkut paut dengan masalah seksualitas. Karena sifatnya yang dating secara tiba-tiba dan dapat melemahkan kepribadian, seseorang akan terdorong untuk berbuat sesuatu yang sifatnya erotis-seksual.

NILAI WANITA DALAM ISLAM


Oleh, Mang Oejank Indro

Sebagai tanda bukti kekuasaan Allah SWT, Allah menciptakan manusia dalam dua jenis yang berlawanan sebagai jodohnya, ialah jenis pria dan jenis wanita. Meskipun ada lagi jenis ketiga yaitu banci (khuntsa), namun itu merupakan sebagian kecil ataupun merupakan pengecualian.
Berdasarkan hasil penyelidikan para sarjana yang ahli golongan wanita di dunia ini sejak dari dulu sampai sekarang telah melalui tiga periode dengan tingkatan falsafah dan pola fikir yang berbeda. Pertama, golongan yang menghinakan wanita. Golongan ini mengartikan bahwa wanita bukan jenis manusia, tetapi jenis binatang. Karena bukan jenis manusia, wanita pada periode ini diperjual belikan, digadaikan ataupun ditukar-tambahkan layaknya barang dagangan. Tidak lain wanita tersebut dijadikan sebagai alat pemuas nafsu dan tidak mempunyai hak sama sekali, yang ada padanya adalah kewajiban semata. Bila sudah tidak laku dijual, ia-pun dibuang seperti sampah. Kedua, Golongan yang mendewakan wanita.

Saturday, July 9, 2011

Mimpi

Tuhan
Aku Bermimpi
Bermimpi lagi
Ahahahaha... Aaaaa..  Uuuu...  Aaaaa...

---------
Depok, 8 Juli 2011
Oejank Indro

Sasmita Awamarta


                                         By, Mang Oejank Indro

Merangkak naik
Terjatuh tanpa beban

Banjiri kota-kota
Belahan bumi, tak Nusantara
Pamerkan                                                                                                   
Tunjukkan

Jutaan aksi persembahan
Suara kearifan

Bersandarlah. Buka lagi kantung imajinasimu.
Letakkan dalam-dalam. Jinakkan aurora dan fantasi.

Jual saja.

Bungkus dahulu. Rapikan lubang-lubang cacat.
Komersialkan. Sudah terbuang.

Cucuku tak mengenalmu lagi.

Kejenuhanku terbungkus rapi
Keningku memanas
Tak peduli
Menghambar percuma

Menggertak tak berpeluh
Pongah kepalaku. Hening tak menang
Jengah naluriku. Parah suar dan koar

Dan terbayang katalog keindahan
Terbuang jauh.
Tergadaikan

Bukan Bushido yang menggantung tanpa ruang
Tak pula sejajar dengan sempoa kehidupan

Menggiling derap tabuh-tabuhan
Mendongak mozaik asongan
Menggigil dalam retorika karya-cipta
Dalam gulungan karya jua

Helakan nafas sejenak
Banyak sudah pseudonym jalanan
Berpulang rangka penghujanan ketaatan


_________
Oejank Indro
-Puisi ini mendapatkan medali Perunggu dalam ajang OIM (Olimpiade Ilmiah Mahasiswa) FIB UI 2011-
O.i @ 2011

Diamnya Ismail Marzuki


Diam
Kataku terbang menjalar
Ismail Marzuki mengukir kelam
Guratannya menyala dalam-dalam
Sekedar berpose dalam keharibaan

Diam
Kataku melingkar pekat terbuang
Sebesar tingkah ilusi sajak jalanan

                  D
                   i n i   r i n d u K u    M e n a n t a n g
                  a                      e
B u n g K a m Kau...             b
            a                                i
            u                                 a
                                                  s
                                                    a
                                                      a
                                                        n

Diam
Saat ini kau tetap diam
Aku juga terkantuk menepi pinggir jalan
Menyapu cerita penyair terlegendakan
Dia masih diam. Dan dia selalu diam

Mencengang dibalik tiang
Menatap ramah. Lurus ke jalan
Sajakmu. Rinduku. Kenangku


Mang Oejank Indro
1 Juni 2011
Jakarta, TIM

Ada Indon-nesos


Ada banyak oase terbentang. Ada banyak suara terpenggal geram. Ada juga sabetan pena haram. Ada lagi pijakan beranak setan. Ada pula tetesan bersua menggeram. Ada warna menghitam hilang. Ada jerit memekik tajam. Ada jurang menari bertatapan. Ada lengan terombang bergelayutan. Ada kuasa bertabrakan uang.

Ada-ada saja

Ada panglima sempoyongan menahan beban. Ada agama teruntuk akuan Tuhan. Ada sayembara bersimbah pertapa. Ada dungu bertahta kuasa. Ada tanya bertanda seruan. Ada silsiilah berpangkal fitnah. Ada tanah mendengkur goyah. Ada ombak menendang pecah. Ada gunung terbangkan bara. Ada biji bertunas rendah. Ada bayi terkikis sengaja. Ada rumput berbau pestisida.

Ada-ada saja.

Adalah aku. Adalah kamu. Adalah itu. Adalah anu. Adalah dia. Adalah kita. Adalah bangsa. Adalah Nusantara. Adalah Indonesia. Adalah negara. Adalah Bahasa. Adalah semua.

_____
Depok, 4 Juni 2011
Oejank Indro

Huh!


Selama ini dia bersipu
Menelanjangi diri seolah bajunya sudah tak wangi
Selama ini dia menepi
Mengasingkan diri seperti kabilah garis kiri
Selama ini ia bermimpi
Mengapa ia mati bukan sebagai permaisuri

Saai ini dia mengilhami
Mengaliri asi putih kaya nutrisi
Saat ini dia menggurui
Menjejali busung dan rongga tak berisi
Saat ini ia bermimpi
Mengapa permaisuri berebut suami

Asu

Aku

Anu

Bertatap sering. Hah! Tua kering. Ludah basin. Hoplah! Hoplah lagi.
Eureka! Eureka! Kau juga! Aku juga!
Mati pasti


_____________________
Oejank Indro
4 Juni 2011
-saat menatap meja bergambar wajah wanita muda-
Depok, Jawa Barat

Thursday, July 7, 2011

Aisyah Namaku (Chapter II)



Setelah kembali ke dunia nyata, Aisyah tidak banyak berubah. Mimpi yang cukup buruk dan menyesakkan tidur malamnya. Rahmat, Inah, dan Rasmi semua hanya mimpi. Mereka benar-benar tidak ada dalam perjalanan hidupnya. Juga pondok pesantren Al-Harun, santri-santri dan Kiyai Soleh dan isterinya. Hanya bunga tidur. “Masa bodoh, semua itu sekedar mimpi.”
Setelah basah kuyup karena guyuran ‘hujan’ air sisa cucian, ia mandi lebih keras. Sabun colek yang tergantung pada pintu dapur ia sabet. Handuk bergambar tokoh kartun Walt Disney, Donal Duck, ia selimutkan diatas kepalanya – meskipun gambar tokoh kartun tersebut sudah sulit dikenali. Kamar mandi tidak jauh dari dapur, hanya dipisahkan oleh sumur berdiameter 120 cm, yang digali sendiri oleh mendiang bapaknya. Jalan ke kamar mandi dihiasi oleh batuan kali. Batuan itu tertempel pada tanah. Hanya menempel. Sekelilingnya penuh dengan tanaman hias yang terlihat buas. Anyelir, Adenium, Mawar hingga pohon pisang hidup dengan damai disana. “Mak, airnya dihabisin siapa? Masak harus nimba lagi. Bisa-bisa Michele Leigh McCool nyembah-nyembah sama aku.” Teriaknya dari dalam kamar mandi. Handuk yang menempel di bahu kanannya ia gantungkan di sebuah paku yang menancap di dinding kamar mandi. Disisingkan lengan kaos birunya. Sebelah kanan dulu. Yang kiri mengikuti. Ia beranjak ke sumur. Meraih tali katrol sederhana dari tambang bekas tali kambing. “Srutt..Kriek..Sruutt..Kriek” kira-kira seperti itu bunyinya ketika Aisyah mulai mengerek tali. Pelan tapi pasti. Sebuah timba bergantian keluar masuk. Pas masuk kedalam sumur timba itu kosong. Sebaliknya, ketika keluar, timba sudah berisi air dari sumur. Mulailah gentong dalam kamar mandi terisi air. Air yang mengalir dari sebuah saluran air dari bambu yang dibelah dua dan dibersihkan buku-buku bambunya. “Ini tidak kalah sama fitness pakai single station 15” Gumamnya.
Gentong terisi penuh. Aisyah terduduk di bangku dekat pintu dapur. Matanya tertuju pada gedung apartemen Julang Mas yang baru diresmikan kemarin malam. Tidak lama ia memandangi apartemen itu. Diambilnya air di dalam timba terakhir. Disiramnya tanaman hias yang sedikit memiliki nilai estetika disekitar sumur tadi;pohon pisang, anyelir, adenium, dan bonsai pohon asem yang berdaun ompong. “Duh, aduh... Udah jam berapa Ais?” Tiba-tiba suara si Emak menggelegar. “Biasanya jam berapa Mak?” jawab Ais. Emak segera memungut sandal jepit multi warnanya. “wussss…Plak!” Lemparan pertama meleset. Pohon adenium berbunga merah blasteran putih tulang menjadi korban ke ganasan sandal Emak. “Lho, Mak! Kasihan adeniumnya! Kan..” belum sempat melanjutkan omongannya, Emak sudah memasang kuda-kuda. Seperti tokoh pendekar dalam cerita-cerita karya Chin Yung. Alis Emak sudah mengkerut. Matanya menjuling. Segera Aisyah melepaskan timba yang berisi sedikit air. Ia berlari menerobos ke kamar mandi. Belum sempat Emak melepaskan sandal ke duanya yang berwarna biru. “Slamet..slamet..!” Bisik Aisyah dalam kamar mandi.
Srrrrriiiiikkk…Gletak!!!...Byuuurr..! Dan suara teriakan terdentum. “Aisyaaaaaahhhh!” Aisyah tersentak. “Ya.. Mak?” Sahut Ais dari dalam kamar mandi. Kemudian kepalanya menjulur keluar dari balik pintu. Celana boxer dan handuk biru tadi yang menempel ditubuhnya. Dilihatnya Emak sedang basah kuyup dengan posisi kuda-kuda ala jago silat. Tentunya sandal jepit biru ditangan kananya. “Lho? Emak kok mandi lagi?” Imbuh Aisyah. Ia lantas masuk kembali ke kamar mandi setelah mendapat lirikan tajam disertai muka suram Emak. Siulan tak berdosa pun segera bersua dari balik pintu kamar mandi. Disertai bunyi deburan air dari gayung yang menabrak tubuh dan jatuh ke tanah.

**
Sebuah buku tulis dan catatan kecil dalam lembaran acak ia masukkan ke dalam tas sekolah. Sebenarnya tidak seperti tas sekolah. bentuknya lbeih mirip kantung beras putih yang bertali di sisinya, sehingga bisa digendong di balik punggung. Kata orang-orang sih tas gaul. Tapi Aisyah sudah memakai tas itu setika masuk SD 14 tahun yang lalu, sekitar tahun 1994. Pas waktu anget-angetnya pelajaran P4, dan puncak kejayaan Pramuka. “Nasi, tempe, kangkung, sambel. Emm.. enak nih?” Celotehnya sambil mengamati menu makanan di meja makan. Air minum ia tuangkan dari kendi yang terbuat dari tanah liat ke gelas berbahan alumunium. Piring platik, bukan berbahan melamin, nasi dua entong, tahu dua potong, tempe dua potong, dan sambal tiga sendok makan. “Lha, kepuruknya mana Mak?” teriaknya kepada Emak yang sedang menyapu halaman rumah.
“Di atas lemari bupet!” Sahut Emak.
“Tinggal 3 biji ya Mak? Kira-kira Emak bisa habisin berapa?”
“Satu aja cukup.” Aisyah mengambil 2 biji kerupuk putih berbandrol Rp. 200 per biji tersebut. Hidangan sarapan dilahapnya. Tidak lupa ia cuci dulu piring dan gelas. Tanpa sabun cuci dan usap-usap, yang penting kelihatan bersih, masa bodoh dengan higienis, steril, dan kawan-kawan.
“Mak, Ais berangkat cari ilmu lagi! Emak masih kerasan kan dirumah sendirian?” Aisyah berpamitan. Cium tangan kanan dulu. Aisyah melesat melewati pagar rumah tetangga. Menyelinap di balik gang kancil. Melewati jembatan yang melayang diatas sungai berair sampah dan sejenisnya. Atau bukan sungai, comberan. Lalu menghilang dari pandangan Emak.
Sejak kelas 4 SD, Aisyah hidup dua batang kara bersama Emak. Dunia ditinggal bapaknya ketika bergejolak peristiwa Reformasi berkecamuk di tahun 1998. Bapaknya bernama Cok Tjian adalah salah satu korban kerusuhan yang terjadi di Jakarta, 13-14 Mei 1998. Kerusuhan yang dipicu penembakan aparatur pemerintah terhadap Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Aisyah dan ibunya tidak pernah menyemayamkan bapak satu-satunya itu. Tapi Emak yakin suami tercintanya itu sudah tiada. Emak beberapa kali ditemui bapak lewat mimpi. Dan Emak percaya itu benar-benar petunjuk dari yang Maha Kuasa.
Hidup berdua di rumah sederhana dengan bunga-bunga alakadarnya bukan hal mudah. Setidaknya ketika tahun-tahun pertama dan kedua. Emak harus berjuang menjadi orangtua single. Sedangkan Aisyah harus berusaha menjadi single child. Artinya, pupus sudah keinginannya mempunyai adik. Berbeda dengan sahabatnya, Yona, yang orangtuanya langsung meberikan dua orang adik sekaligus dalam sekali produksi. Mungkin saja orangtua Yona gemar Puasa Patigeni dan menguasai aji Semar Mesem. Jalan Tuhan memang selalu indah untuk hambanya. Hal inilah yang mendasari kekuatan Emak dan Aisyah bertahan. Bisa saja Aisyah memiliki adik, tapi ia tidak ingin adik berbeda bapak. Tapi masa iya, Emak bisa punya anak dengan orang yang sudah mati? Jangan-jangan disangka Bunda Maria second edition? Tapi itu mungkin bin mustahil. Lho? Jadinya ya tidak mungkin.

Aisyah mengakrabkan diri dengan satpam sekolah. Seperti lagak Ki Juragan pada awal kisah perang Campuh – Karta Sura dan Sura-Baya – waktu kembali ke Paronggahan bersama Panji Sugeng Rana. Pak Beno, itulah nama satpam sekolah yang bagian jaga pintu masuk. Orangnya pendek dan berkumis tebal. Kepalanya sedikit kotak dengan variasi hidung lebar. “Pak, dulu pernah punya pacar nggak waktu SMA? Berapa pak?” Tanya Aisyah sok akrab.
“Ya mesti punya.” Jawab pak Beno dengan nada sedikit congkak.
“Mirip siapa pak?” Aisyah memancing pembicaraan.
“Yang pasti jauh beda sama kamu.”
“Ooo..” Aisyah membalikkan badan. Ia mulai memandangi jalanan dan sekitar. “Cowok pak?”
“Opo? Yo pasti cewek, wadon, harim.” Pak Beno menyambar Aisyah. “Saya sudah hafal jurus kamu, ndak bakal mempan dan ndak bakal mujarab lagi rayuan basi-basa kamu.” Pak Bona keluar dari pos jaganya. Memegangi kunci gerbang dan berjalan sombong ke depan. Putar badan, dan berjalan ke depan lagi.
“Nanti malam jagoin siapa pak?” Aisyah mencoba meleburkan suasana. Ia tahu ada pertandingan final liga champions eropa nanti malam.
“Ya pasti MU to!” Sahut pak Beno.
“Berani pasang berapa pak?”
“Nantang nih ceritanya?” Pak Beno semakin menjauh dari pos jaganya.

Bersambung..

Sunday, July 3, 2011

Kupunya Punyamu Jiwa Jelatah

Tanganku memucung melebar dengan sayap lima
Menyapa sumpah-sumpah yang tak kunjung reda
Buaian bui terkatung-katung lemah menyerah
Menengadah dibalik lembaran pundi haram

Kanan dan kiri
Atas dan Bawah, lagi
Terkebiri riangnya tirani
Terkubur subur bak pandemi

Disini tak berdiri
Disana sekedar sampah
Jelatah merayap mengais rejeki
Baginda berlomba menyapa tahta

Sakit tukar sulit
Miskin tukar aking
Bodoh tukar sinting
Pintar tertukar asing

Aku muda kini
Kau mati nanti
Kami warisi sulitmu
Kalian matilah dulu

Maaf aku lantang
Egoku makin matang
Siaplah untuk ku tantang
Ajalmu akan datang

Aku muda kini
Sebentar lagi kau mati
Wariskan Negeri ini pada kami
Kalian pasti ku ampuni

Maaf aku kasar
Sadarku lebih pintar
Yakin kau gusar
Segera kau akan terkapar


-----
Serpong, 3 Juli 2011
Mang Oejank Indro

Takut Tuhan


Aku takut Kau menukar imanku
Aku takut
Benar-benar takut

Aku mau Kau!
Kau yang satu
Kau yang kasih
Kau yang Pengasih
Kau yang abadi

Tidurkan aku sebagai hamba-Mu
Aku tak mau jauh dari-Mu
Sungguhpun Kau tak pernah jauh
Tak lebih jauh dari hidungku

Aku mau Kau Tuhanku
Aku mau Kau! Allah....
Sujudku
Tobatku
Hidupku
Surga-Mu..

-----
Puisi ini saya dedikasikan untuk seorang sahabat saya, Nur Fidini (1992-2011). Selamat jalan sahabatku Nur Fidini, bahagialah disana. Doaku menyertaimu. Aku hanya tahu kebaikanmu. Semoga Allah SWT menerimamu sebagai hamba yang baik dan patuh. Seperti aku mengenalmu..
 -----
Serpong, 3 Juli 2011
Mang Oejank Indro

Saturday, July 2, 2011

SATU





a
n
1



h


n


u



o

T




k

i
a
d
A

t




l

u




l

r




a

n

k
i
a
h

o
d
u





e
h
u
t
i
n
t
a



Karya : Mang Oejank Indro
-----Pekalongan, 13 juni 2011

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...