Monday, October 8, 2012

Ngomong Filsafat (3)

Oleh, Oejank Indro

-( 1 )-
Multikulturalisme

Multikulturalisme, di dalamnya mengandung dua kata yang bermakna kompleks, yaitu ‘multi’ yang berarti plural, dan ‘kulturalisme’ yang berisi pengertian tentang budaya. Plural memiliki berbagai jenis pengertian karena mempunyai implikasi politis, sosial, dan ekonomi. Sedangkan budaya merupakan hasil dari interaksi manusia yang berlangsung selama manusia hidup di suatu tempat – baik dalam komunitas, kelompok, ataupun masyarakat. Multikulturalisme juga memiliki kaitan erat degan epistemologi. Namun, disini epistemologi multikulturalisme berbeda dengan epistemologi pada filsafat – sebagai asal usul ilmu pengetahuan – dan filsafat sosiologi – yang bertitik pada kehidupan sosial.
Sebagai seorang manusia yang tinggal dan lahir di negara multikultur, penulis memosisikan diri tidak hanya terbatas pada keanekaraman etnis di dalam negeri. Lebih lanjut, multikulturalisme sejatinya tidak membatasi ‘teritori’ variabel pada sebuah negara semata. Di Indonesia, menurut penulis, seringkali multikulturalisme dikecilkan dalam pemaknaan sebagai keanekaraman budaya secara lokal – yang meliputi suku, etnis, dan budaya itu sendiri. Akibatnya, pemaknaan seputar multikulturalisme cenderung dikaitkan dengan budaya ‘tetangga sebelah’.
Terbentuknya pola pikir yang demikian dominan di tengah masyarakat Indonesia, agaknya mengerdilkan luasan makna multikulturalisme yang ditawarkan Charles Taylor dan John Rawls. Bahkan pemikiran tokoh pluralis yang jenaka seperti Gus Dur pun belum mampu diserap oleh masyarakat luas. Dalam hemat penulis, multikulturalisme mendapatkan tempat ‘kecil’ di Indonesia. Berbeda dengan pemahaman filsafat multikultur yang berkembang di belahan Eropa.
Multikulturalisme tidak selamanya memiliki ‘posisi’ baik dalam kehidupan. Salah satu bahaya yang tersimpan dalam paham ini adalah lahir dan berkembangnya paham fanatisme budaya. Apabila paham fanatisme ini dibiarkan tetap berkembang, maka seluruh kebudayaan akan mempertentangkan budaya satu dan lainnya – biasanya berujung pada konflik lintas budaya. Namun, jika digarap dengan baik dan dirawat dengan baik, kultur yang beranekaragam tersebut akan menjadi kekuatan besar bagi suatu bangsa. Gandhi mampu menularkan ajarannya ke seluruh India dan penjuru dunia juga tidak terlepas karena ia memanfaatkan budaya sebagai kekuatan utamanya.

***

-( 2 )-
Filsafat China : Konfusius

Pada buku yang berjudul Konhucu: Penata Kebudayaan Langit, Raymond Dawson menuliskan inti pemikiran konfusius terpadu dalam sebuah sistem sosial, etika, dan intelektual. Ketika unsur tersebut memang menjadi bahan wajib bagi Konfusius dalam menyebarkan ajarannya. Konfusius sendiri menitik beratkan ajarannya pada ranah pendidikan. Hal ini dapat diketahui dari sebuah Kitab Analect/Bunga Rampai 7.2, “secara diam-diam kukumpulkan ilmu pengetahuan. Aku belajar dan tidak pernah bosan. Aku mengajar orang lain dan tidak pernah jemu – karena hal-hal seperti ini muncul secara alami pada diriku.” (Dowson. 1999:14).
Nilai sosial, etika/moral, dan intelektual yang diusung Konfusius hampir mirip dengan apa yang diajarkan Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantara, yaitu ing ngarso sing tulodho, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Dalam hemat penulis, kedua tokoh ini berhasil membangun citra manusia sejati melalui pendidikan.
Konfusius lahir ditengah-tengah anarki sosial dan intelektual. Menurut konfusius, kekacauan dan anarki bukanlah hakikat masyarakat dan peradaban. Ajarannya adalah untuk memlihara pranata sosial dan kultural, serta kembali kepada li (tata karma/etiket/budi pekerti). Terdapat beberapa versi tentang ajaran Konfusius. Ada yang menyebutkan terdapat lima pokok ajaran dan ada pula yang mengatakan enam pokok ajaran. Ke enam ajaran tersebut adalah li (tata karma/etiket/budi pekerti), Tao (jalan/cara), Jen (perikemanusiaan), Chun Tzu (manusia bijak), Cheng Ming (penyesuaian nama), Hsiao (bakti anak). Dari keenam ajaran tersebut, inti ajaran Konfisius adalah Tao, jalan sebagai prinsip utama dari kenyataan. Dengan kehidupan yang baik, manusia menjadikan Tao itu luhur dan mulia.
Karena lahir pada kondisi yang kacau dan menekankan pada ranah pendidikan, ajaran Konfusius, menurut penulis, terlalu ‘elegan’ dan seolah ‘terbelenggu’ dalam satu fenomena, pendidikan. Hal inilah yang menjadi awal terpecahnya ajaran ini ketika diteruskan oleh Mensius dan Xun Zi. Menxius seorang yang idealis sedangkan Xun Zi seorang realis – karena ia eksponen ajaran Konfusius dan pengkritik Mensius. Xun sendiri berpandangan bahwa kodrat manusia itu pada dasarnya jelek. Dia menempatkan fungsi dan hak istimewa negara di tempat amat tinggi, seperti yang dilakukan kaum Legalis, sehingga Xun tidak begitu dihormati di kalangan penganut Konfusianis.
Secara garis besar, filsafat China sejak zaman klasik (600-200 SM) – meliputi Konfusianisme, Taoisme, Mohisme, Legalisme, Ying Yang – melalui zaman Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 SM – 1000 M), Neo-Konfusianisme (1000 – 1900), dan zaman modern (1900-sekarang), filsafat China memiliki tiga tema besar, yang menurut penulis, sebagai pokok pandangan filsafat China. Pertama, harmoni, antara manusia dan sesame, antara manusia dan alam, antara manusia dan surga, menjauhkan extrimisme dan mengagungkan perdamaian bersama.
Kedua, toleransi, terbukanya sikap menghargai budaya dan pikiran. Hal ini terwujud dari sikap pluriformitas budaya China – contohnya adalah dalam hal berdagang dan berguru. Ketiga, kemanusiaan, filsafat China memusatkan perhatian pada manusia. Karenanya, manusia mengejar kebahagiaan di dunia dengan mengembangkan diri dalam interaksi dengan alam dan sesama.

 ***

-( 3 )-
Filsafat Jepang

Hal yang menjadi salah satu ciri orang Jepang dalam berfikir adalah membenarkan apa adanya dunia ini. Maksudnya, bagi orang Jepang dunia fenomena (dunia gejala) yang eksis dalam berbagai ragam gejala, dipandang sebagai sesuatu yang mutlak apa adanya. Bahkan mereka cenderung menolak cara berpikir yang memandang, bahwa sesuatu yang mutlak tersebut berada di tempat yang jauh atau terpisah dari dunia gejala. Dengan demikian, salah satu ciri dalam cara berpikir orang Jepang menampakkan tidak adanya sesuatu yangdisembunyikan dari manusia. Dunia fenomena bagi orang Jepang, adalah mutlak dunia apa adanya, sehingga segala apa yang ada di dunia nyata, seperti: pohon, rumput, sungai, gunung, bunga, dan lain-lainnya dipandang sebagai perwujudan dari Bussho (sifat Budha).
Selain Bussho, Jepang juga menjunjung tinggai berberapa falsafah hidup sebagai filosofi, yaitu: semnagat Bushido, disiplin samurai, budaya keisan, prinsip kai-zen, dan prinsip keiretsu-zaibatsu. Semua nilai tersebut, menurut hemat penulis, merupakan pondasi dasar Jepang selepas kekalahan di Perang Dunia II. Hanya dalam kurun empat puluh tahun Jepang mampu bangkit dan menjadi negara Asia yang memiliki perekonomian kuat dan berpengaruh di dunia.
Secara jelas, filsafat Jepang tidak bertolak belakang dengan filsafat China. Terdapat beberapa ajaran – agama Buddha – yang memang kental dengan kehidupa orang Jepang. Hal ini dapat kita lihat dari Genseshugi (paham keduniawian), Ajio (cinta kasih), dan pengakuan mereka terhdap tabiat manusia yang alami. Kesadaran inilah, menurut penulis, yang menguatkan orang Jepang meskipun hidup dalam ‘goncangan’ bumi berintensitas tinggi.
Melalui film The Last Samurai, masyarakat dunia juga disuguhi – dan di ajarkan – semangat Bushido-Samurai yang identik dengan kedisiplinan, kehormatan, pantang menyerah, dan menghargai sesama manusia. Namun, semangat ini tidak hanya memiliki dampak positif semata. Kehormatan yang menjadi salah satu sifat utama seorang Samuari juga tersalurkan ke dalam kehidupan masyarakat Jepang secara eksklusif. Akibatnya, angka bunuh diri di Jepang sangat tinggi di bandingkan negara-negara lain di Asia. Hal ini dikarenakan keyakinan dan keteguhan menjaga kehormatan keluarganya.



 -( 4 )-
Tan Malaka

Sejarah mencatat banyak seputar perjalanan dan pemikiran sosok Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka. Tulisan pertamanya yang berjudul Parlemen atau Soviet merupakan titik awal kemunculan karya beliau yang lainnya – antara lain Naar De Republic Indonesia (Menuju Republik Indonesia) tahun 1925 dan Madilog pada tahun 1943. Memahami Tan Malaka, menurut penulis, berarti memahami karya tulis beliau. Sebelum Indonesia merdeka, esensi pemikiran Tan Malaka terpusat pada tujuan bagaimana memerdekakan bangsanya sekaligus seluruh tatanan ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Jauh hari sebelum Sukarno menulis Indonesia Menggugat tahun 1932 dan Kearah Indonesia Merdeka Hatta tahun 1930, karya Tan Malaka Naar De Republic Indonesia sebagai sebuah konsepsi menuju Indonesia merdeka diterbitkan pertama kali di Kowloon, Cina, April 1925 – semasa pembuangannya.

Sebagai seorang pemimpin partai komunis, Tan Malaka seringkali berseberangan pemikiran dengan tokoh komunis lainnya. Terbukti ketika Kongres Koomunis Internasional (Komintem) IV pada tahun 1922, Tan Malaka dengan tegas menolak pandangan Komintern untuk memusuhi Pan Islamisme. Selain itu, Tan Malaka juga menolak pemberontakan PKI terhadap Belanda pada tahun 1926 yang mengakibatkan 13.000 pejuang politik ditangkap dan dihukum. Kejadian ini juga berakibat pada larangan Belanda terhadap aktivitas PKI.
Jika melihat sejarah dan masa lalu Tan Malaka yang berdarah minang, didukung dengan lingkungan yang agamis, tidak menutup kemungkinan hal ini menjadi dasar pemikirannya. Meskipun titik balik perkembangan pemikirannya berawal dari masa studinya di Rijkweekschool di kota Haarlem. Pengaruh sebuah media radikal Belanda Hel Volk memicunya untuk mengetahui lebih dalam tentang Revolusi Bolsyhevik Oktober 1917. Kejadian ini membuatnya menempatkan dirinya sebagai seorang Bolsyhevik.

Nah, berbekal pengetahuan yang ia dapat dari pengalaman hidup di Belanda itulah, Tan Malaka menasbihkan dirinya sebagai seorang yang harus melakukan perubahan untuk negaranya. Bahkan ketika kembali ke Indonesia, ia meninggalkan kemewahan yang ditawarkan Belanda dan memilih hidup sebagai Bolsyhevik, mendirikan sekolah, dibuang dan dikejar-kejar polisi Belanda hingga ke berbagai negara, mengikuti konferensi Komunis Internasional IV, bertemu Dr. Sun Yat Sen, menhadiri Konferensi Buruh Angkutan Pasifik tahun 1924, dan akhirnya menetap di Rawajati, di dekat pabrik sepatu Kalibata Clilitan Jakarta. Delapan bulan dari 15 Juli 1942 sampai dengan 30 Maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, beliau menulis Madilog.
Daftar rujukan:

_______
Daftar Rujukan:
Alie, Marzuki. 2010. Pemahaman Multikulturalisme untuk Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dalam Bahan Pembicara Untuk Dialog Kebangsaan pada acara Dies Natalis Universitas Negeri Surabaya. http://www.marzukialie.com/upload/arsip/123_UNSurabaya.pdf (diakses tanggal 15 Desember 2011).
Anwar, Siti D. 2004. Cara Berpikir Orang Jepang: Sebuah Perspektif Buddhisme. dalam Jurnal Makara, Sosial Humaniora. Vol. 8/3. Hal. 1120-125. Depok: Universitas Indonesia.
Darini, Ririn. 2006. Pendidikan Dalam Pemikiran Konfusius. http://eprints.uny.ac.id/2998/5/PENDIDIKAN_DALAM_PEMIKIRAN_KONFUSIUS.pdf (diakses tanggal 15 Desember 2011).
Dawson, Raymond. 1990. Konghucu: Penata Budaya Kerajaan Langit. Jakarta: Temprint.
Hanum, Farida. 2005. Multikulturalisme Dan Pendidikan. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/farida-hanum-msi-dr/multikulturalisme-dan-pendidikan.pdf  (diakses tanggal 15 Desember 2011).
Nurhayati. 2009. Jadikan Nilai-Nilai Bangsa Sebagai Pembangkit Semangat Kerja. http://lib.ugm.ac.id/data/pubdata/pusta/nurhayati.pdf  (diakses tanggal 15 Desember 2011).
Syaifuddin, A. Fedyani.2006. Membbumikan Multikulturalisme Di Indoensia dalam Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI. Vol. II. No. 1. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara.

Ngomong Filsafat (2)


Oleh, Oejank Indro
-( 1 )-
Sosialisme

Istilah ‘sosialisme’ selalu identik dengan Karl Marx. Padahal cita-cita sosialisme sudah dicetuskan jauh sebelum Marx mulai memikirkan revolusi proletariat. Euhemeros dan Jambulos (sekitar abad ke-5 SM) mendeskripsikan sebuah ‘negara matahari’ dimana segala-galanya – termasuk para isteri – dimiliki bersama. Hal ini kemudian menjadi dasar cerita ilmiah yang di utarakan Marx dan Engels. Jika kita mengacu pada terminology ‘sosialisme’, kata ‘sosialisme’ muncul di Prancis pada tahun 1830, begitu juga istilah ‘komunisme’. Pada awalnya dua kata tersebut memiliki penafsiran yang sama, tetapi komunisme menjelma sebagai paham radikal dari sosialisme – menuntut penghapusan total hak milik pribadi dan kesamaan konsumsi serta mengharapkan keadaan komunis itu bukan dari kebaikan pemerintah, melainkan semata-mata dari perjuangan kaum terhisap sendiri (Frans. 2003:20).
Tradisi pemikiran tentang sosialisme sendiri bisa dikatakan cukup panjang dan identik dengan kaum buruh. Berbeda dengan konsep konservatif dan liberal, konsep pemikiran sosialisme ini bertumpu pada kesadaran dan kebersamaan. Herman Dunker mengatakan bahwa sejarah sosialisme dimulai bersamaan dengan sejararah umat manusia – meskipun sebagian filsuf berpendapat faham ini dicetuskan di Prancis dan Inggris. Namun, perkembangan paham ini mendapat tempat di Jerman. Pernyataan tentang prinsip-prinsip dari kaum sosialis internasional adalah , “Tidak ada sosialisme tanpa kebebasan. Sosialisme hanya bisa direalisasikan  lewat demokrasi, dan demokrasi hanya bisa terampungkan oleh sosialisme.” Dari prinsip dasar tersebut – dan pemahaman tentang ‘kebebasan’, sosialisme yang demokratis secara jelas membedakan dirinya dengan rezim-rezim totaliter, terutama dari apa yang dinamakan dengan demokrasi-demokrasi rakyat dari blok timur.
Bentuk-bentuk paham sosialisme merupakan cerminan dari tokoh dan manusia yang terlibat saat itu – utopis, marxis, fabianis, dan sebagainya. Dalam pandangan penulis, memahami sosialisme tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan terbatas pada pertimbangan-pertimbangan moral semata. Dengan kata lain, menyederhanakan pendangan bahwa sosialisme itu baik dan kapitalisme itu jahat – berdasarkan orientasi prinsip dasar manusia dan syarat-syarat objektif hokum-hukum ditengah-tengah mereka.

***
-( 2 )-
Fundamentalisme

Memahami antara ‘fundamentalisme’ dan ‘radikalisme’ merupakan hal yang tidak mudah . Kedua istilah tersebut memiliki prinsip dasar yang – seolah-olah – sama, yaitu sama-sama ingin memperjuangkan apa yang ia yakini secara radikal dan menolak paham-paham lainnya yang bertentangan. Agaknya istilah ‘fundamentalisme’ di Indonesia dapat diidentikkan dengan terorisme. Aksi teror bisa jadi merupakan ‘ekspresi’ dari golongan fundamentalis yang membenarkan aksi kekerasan atas nama agama. Paham ini memang tidak dapat dijauhkan dari kepercayaan dan ke-Tuhan-an. Tidak jarang aktivitas penganut paham ini menimbulkan keresahan terhadap golongan lainnya – liberalis, sosialis, dan kapitalis.
Perkembangan paham fundamentalis sejatinya beriringan dengan perkembangan agama-agama itu sendiri. Beberapa faktor dapat memicu ‘pembenaran’ kekerasan dan tindakan anarkis atas nama agama. Pertama, adalah karena fungsi agama sebagai ideologi. Dalam fungsi ini agama kemudian menjadi perekat suatu masyarakat karena memberi kerangka penafsiran dalam pemaknaan relasi antar manusia, yakni sejauh mana tatanan sosial di anggap sebagai representasi religius, yang dikehendaki Tuhan. Lebih jauh fungsi perekat ini, disisi lain juga bisa menghasilkan banyak kontradiksi terutamamenyangkut masalah ketidak adilan dan kesenjangan yang selalu menjadi topik yang panas dan acapkali melahirkan tindak kekerasan.
Kedua, adalah fungsi agama yang juga sebagai faktor identitas. Agama secara spesifik dapat di identikkan kepemilikannya pada manusia atau kelompok manusia tertentu. Kepemilikan ini memberi stabilitas, status, pandangan hidup, cara berpikir, etos dan sebagainya. Hal ini lebih mengkristal lagi bila dikaitkan dengan identitas lainnya seperti seksual (jenis kelamin), etnis (kesukuan), bangsa dan sebagainya. Pertentangan etis, kelompok, bangsa dan sebagainya sangat mungkin melahirkan kekerasan dan di sini agama sangat mungkin untuk turut diikutsertakan juga.
Ketiga, fungsi agama sebagai legitimasi etis hubungan antar manusia. Berbeda dengan agama sebagai kerangka penafsiran, mekanisme ini bukan sakralisasi hubungan antar manusia, tetapi suatu hubungan antar manusia yang mendapat dukungan dan legitimasi dari agama.
Mengenai peran agama, sebenarnya terdapat 2 konsep penting yang dimiliki setiap agama yang bisa mempengaruhi para pemeluknya dalam hubungannya dengan manusia lain yakni; (a) fanatisme dan, (b) toleransi. Kedua hal ini harus dipraktekkan manusia dalam pola yang seimbang. Sebab ketidakseimbangan diantara keduanya akan melahirkan problem tersendiri bagi umat beragama. Toleransi yang berlebihan dari umat agama tertentu bisa menjebak mereka ke dalam pengaburan makna ajaran agama meraka, selain bahwa eksistensi agama mereka juga akan melemah karena dalam situasi ini orang terkadang tidak lagi bangga dengan agama yang mereka peluk.
Agama bisa saja akhirnya hanya menjadi sekedar ritual; karena agama yang bersangkutan sama derajat dan kebenarannya dengan agama lainnya yang ada. Sebaliknya, fanatisme yang berlebihan juga akan melahirkan sikap permusuhan terhadap pemeluk agama lain. Inilah juga yang terkadang menjadi biang lahirnya konflik dan kekerasan atas nama agama. Fanatisme yang berlebihan melahirkan truth claim (klaim kebenaran) yang bersifat eksklusif. Selanjutnya, eksklusivisme akan memandang penganut agama lain sebagai musuh, sehingga melahirkan arogansi sosial, terutama ketika ia menjadi mayoritas. Dalam kondisi mayoritas ini, kelompok eksklusif cenderung melakukan cara-cara pemaksaan dan kekerasan atas nama agama kepada kelompok lainnya.

***

-( 3 )-
Feminisme

Dalam pemahaman penulis, feminisme merupakan pemikiran yang sia-sia. Kenapa? Karena tokoh feminis sendiri tidak mengetahui parameter ‘adil’ dan ‘sama’ sebagai dasar mereka menuntut persamaan gender. Bahkan dalam kilas balik sejarah, tokoh seperti Lady Mary Wortley  Montagu dan Marquis de Condorcet belum bisa menjawab pertanyaan tersebut. Mereka berpandangan bahwa perempuan itu seringkali dirugikan dan menjadi ‘manusia kedua’ di muka bumi. Sayangnya, jika dihadapkan pada persoalan dasar tentang kebutuhan wanita, pengikut paham feminisme ini terdiam dan tidak mau mengakui bahwa mereka berbeda – dan memang harus dibedakan.
Dari berbgai sumber yang diolah penulis, penulis menemukan bahwa ada beragam mazhab feminisme dengan latar belakang dan perspektif berbeda. Hal ini menarik, karena feminis mulai menyadari kelemahan dasar paham ini. Namun, hal ini berdampak pada lahirnya bub-aliran di tubuh femisme itu sendiri. seperti feminisme radikal, feminisme liberal, dan feminis sosialis. Masing-masing dari mazhab tersebut memiliki pendekatan dan strategi dalam melegitimasi ketidakadilan gender. Keadan inilah yang menjadikan feminisme merupakan sebuah paradigma ‘open source’, responsif, dan non-dogmatis.

***

-( 4 )-
R. A. Kartini

RA. Kartini umumnya disebut-sebut sebagai salah seorang di antara tokohtokoh terkemuka wanita feminis dari zamannya, dan ia memang tokoh feminis dari masa awal yang paling terkenal. Kartini (1879-1904) adalah anak kedua (wanita) dari Bupati Jepara, sebuah daerah di pantai utara Jawa. Ayahnya seorang yang berpikiran maju, karenanya mengizinkan anak-anak wanitanya mengikuti pendidikan sekolah dasar bersama-sama dengan kakak-kakak mereka. Suatu hal seluruh bangsa bumiputera untuk bangun dan memasuki “jaman baru”. Oleh karena itu tidak mengherankan jika hari lahirnya, 21 April, selalu dirayakan oleh organisasi-organisasi wanita dewasa ini. Adanya kaum wanita di sekolah-sekolah, universitas-universitas, atau angkatan bersenjata, biasanya disebut-sebut sebagai bukti tentang taraf emansipasi yang telah dicapai oleh wanita Indonesia. Pada tahun 1964 Kartini dinyatakan sebagai “Pahlawan Nasional”. Dalam kenyataannya kepahlawanan Kartini tersebut juga diakui oleh bangsa-bangsa lain
Secara nyata, perjuangan Kartini merupakan perjuangan yang halus dan berbudi luhur. Penentangan yang ia lakukan terbungkus dengan rapi di dalam surat-surat dan prestasinya pada masa penjajahan belanda. Karena status darah biru-nya, Kartini dengan mudah mendapatkan akses untuk melakukan ‘diplomasi kecil’ kepada penjajah dan perlahan menempuh jalan kemanusiaan untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan Indonesia.
  
 ___________
Daftar Rujukan:

Akhyar. 2008. Fundamentalisme Dalam Agama Islam Dan Kristen. http://www.uinsuska.info/ushuluddin/attachments/073_Akhyar%20Artikel%20Fundamentalisme%20Agama.pdf diakses 10 Desember 2011.

Fuad, Nur Ahmad. 2011. Interrelasi Fundamentalisme Dan Orientasi Ideologi Gerakan Islam Kontemporer: Survei Pendahuluan. http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurfuad/files/2011/04/interelasi-ideologi-gerakan-islam-kontemporer.pdf. diakses 10 Desember 2011.

Frans Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionis, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003, hal.14-20.
Suharto, Edi. 2007. Teori Femnis Dan Pekerjaan Sosial. http://www.policy.hu/suharto/Naskah%20PDF/YogyaFEMINISMESocialWork.pdf  diakses 9 Desember 2011.
Suraji. 2006. Kesetaraan Gender Di Indonesia Ditinjau Dari Teori-Konsep Dan Pendekatan Sosiologi Hukum.  http://pa-wonogirikab.go.id/static/file/Makalah_Suraji.pdf diakses 10 Desember 2011.


Ngomong Filsafat (1)


Oleh, Oejank Indro
-( 1 )-
Liberalisme: Kebebasan Yang Terlepas


Di dalam Ensiklopedi Britanica 2001 deluxe edition CD-ROM, kata ‘liberal’  diartikan sebagai falsafah politik yang menekankan nilai kebebasan individu dan peran negara dalam melindungi hak-hak warganya. Istilah liberal muncul dalam bahasa inggris pada ke 14, dari bahasa latin Liberale yang berarti class of free man, yaitu salah satu kelas dari orang-orang merdeka atau mereka yang bisa dibedakan dari slave, bisa juga diartikan orang-orang yang independen dari sisi ekonomi.
Liberalisme lahir dari sistem kekuasaan politik dan sosial sebelum masa Revolusi Perancis – merkantilisme, feodalisme, dan greja roman katolik. Dari sudut pandang ideologis, liberalisme dapat dikategorikan sebagai turunan dari falsafah humanisme yang mempersoalkan kekuasaan gereja di zaman Renaissance dan juga golongan Whings pada masa Revolusi Inggris – dengan cara memaksakan hak untuk memilih raja dan membatasi kekuasaan raja – yang menentang sistem merkantilisme dan bentuk-bentuk agama kuno dan berpanderi.
Faham liberal sendiri mengalamai perluasan makna sebagai ‘monster’ yang mencekik golongan proletar sejak abad 18 hingga 19. Sebelumnya, liberal telah di kaitkan dengan kebebasan dalam seni. Tidak salah jika kita mengenal Liberal Art yang memiliki independensi tertentu – blue color atau label class – yang membedakan tingkatan derajar seorang seniman. Mungkin juga kita pernah mendengar istilah Liberal Science yang identik dengan kebebasan mencari ilmu pengetahuan alam seperti matematika, fisika, kimia, biologi, seolah mampu menempatkan individu lebih tinggi daripada penguasa ilmu-ilmu praktis.
Seiring meluasnya revolusi golongan borjuis di Eropa – ditandai dengan munculnya borjuis public sphere abad 18, pemaknaan faham liberal mengerucut pada konteks sosial-politik. Secara garis bersar ide ini lahir dari kepala-kepala golongan borjuasi – tidak jarang mereka berasal dari kalangan Aristokrat. Oleh karena itu, awal perkembangan liberal sanga identik dengan apa yang open minded atau progressive idea, serta diasosiasikan kepada kelompok radikal atau kiri. Karena mendapat banyak dukungan dari masyarakat kelas menengah ke atas, yang tentunya memiliki kedudukan ekonomi tinggi, sehingga liberal mengalami penyempitan pemaknaan dengan sifat individual, confident pada dirinya sendiri, dan dalam perkembagannya lebih dikenal dengan Liberalisme.
Pengaruh sejarah memang sangat kentara dalam perkembangan makna ‘liberal’. Sejak abad ke 19, liberal ‘dipaksa’masuk ke dalam liberalisme yang berorientasi pada sifat possessive individualism. Hal ini kemudian menjadi tolak ukur banyak negara-negara di belahan Eropa, Amerika, dan Asia dalam menjalankan roda pemerintahan, politik dan sosial.
Dalam pemikiran orang-orang Barat, liberalisme berpangkal pada prinsip dasar keabsolutan dan kebebasan yang tidak terbatas dalam pemikiran, agama, suara hati, keyakinan, ucapan, politik, sex, dan kenyataan hidup lainnya. Pertanyaannya adalah, sejauh mana kebebasan individu-individu tersebut terlepas? Apakah ‘kebebasan’ itu sendiri akan membawa kepada kebenaran?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus mundur dan menggali lagi paham dasar pemikiran liberal yang bertumpu pada tiga pendapat yang sederhana – disuarakan oleh tiga pemikir besar, Immanuel Kant, John Stuart Mill, dan Adam Smith. Pertama dari Kant, ia mengatakan bahwa perkembangan manusia pada dasarnya dalah proses pendewasaan diri. Ketika manusia itu sudah sampai pada titik otonom, sapere aude, berfikir bebas sendiri, maka manusia itu sudah melampaui tahapan mendewasakan diri. Kedua, Mill berpendapat bahwa manusia yang rasional (yang berfikir) membutuhkan ruang agar dia bisa menjadi manusia yang kreatif – hal yang tidak berhubungan erat dengan pemikiran Kant. Menurut Mill, untuk menjadikan masyarakat yang konstruktif, manusia harus dibebaskan sebebas-bebasnya – agar genus-genus masyarakat tumbuh dan pemikiran mereka terkonstruksi. Namun, Mill juga memberikan sebuah ‘batasan’ dengan dalih supaya kebebasan manusia tidak terlepas kedalam belenggu – sehingga manusia itu menjadi kehilangan akal sehatnya. Batasan tersebut merupakan sebuah prinsip dasar yang dia sebut sebagai a very simple principle of liberty, kamu bebas sejauh kamu tidak menganggu atau mengancam orang lain. Dalam era modern dikenal dengan istilah live and that live.
Ketiga, Adam Smith. Ia mengemukakan bahwa manusia memiliki kepentingan masing-masing, tidak ada manusia satu pun yang tidak berfikir tentang dirinya sendiri. Meskipun Smith tidak menafikkan manusia sebagai makhluk sosial, ia tetap menerima ketidaksempurnaan manusia. Kesimpulannya adalah, liberalisme saat ini tidak berdasar pada prinsip dasar yang berakar pada kata ‘liberal’. Agaknya penegasian liberalisme terhadap politik-sosial-ekonomi merupakan suatu ke-sangsi-an yang terlepas dari pemaknaan liberal itu sendiri – karena sudah terlepas dari prinsip dasar liberalisme.

***

-( 2 )-
Memahami (lagi) Kapitalisme

Kapitalisme seringkali di identikkan dengan neo-liberalisme. Meskipun secara prinsip dasar keduanya jauh berbeda. Bukan tidak mungkin ‘perkawinan’ antara dua pandangan ini menjadi sangat langgeng di pemikiran modern. Secara etimologi, kapital berasal dari bahasa latin ‘caput’ yang berarti ‘kepala’. Memang hal sngat kohern jika kita membandingkan beberapa istilah yang berhubungan dengan kata capital. Sebagai contoh ‘pendapatan per kapita’ dan ‘capital city’.
Terdapat banyak definisi formal tentang kapitalisme. Salah satunya mengatakan bahwa kapitalisme berarti sistem ekonomi dimana barang dan jasa dijual-belikan di pasar dan barang modal adalah milik entitas-entitas non-negara dari unit terkecil hingga global. Milton Friedman - salah seorang proponen utama kapitalisme modern – merumuskan tiga faktor utama sistem kapitalisme: pasar bebas, kebebasan individual, dan demokrasi.
Pada dasarnya, prinsip kerja kapitalisme yang mendorong secara optimal pencapaian maksimal terhadap komoditas pasar. Hal ini tidak mengherankan karena konteks kapitalisme sendiri selalu diarahkan ke ranah ekonomi. Akibatnya, seorang individu maupun kelompok dipaksa sepenuhnya menempatkan diri sebagai homo economicus yang semata-mata digerakkan oleh rasionalitas instrumental pencapaian laba dan penghimpunan materi sebanyak-banyaknya. Dengan demikian terbentuklah individu-individu sebagai mahkluk yang serakah dan berorientasi ‘memeras’ individu lainnya – yang dipelihara dan disuburkan oleh sistem kapitalisme itu sendiri.
Menggunakan sudut pandang lain, kapitalisme memiliki kekuatan besar dalam memberdayakan suatu negara, tapi mengorbankan golongan bawah dan ‘negara tetangga’. Karena berbasis pada sistem ekonomi, kapitalisme – di suatu negara – dengan mudah mencampuri sistem politik,, sosial, dan budaya. Keadaan inilah yang memicu penafsiran kapitalisme menjadi sebuah ‘kejahatan’. Setidaknya ada tiga jenis kejahatan fungsional kapitalisme. Pertama, The Crime of Acomodation, yaitu kejahatan yang timbul sebagai respon pelaku terhadap dorongan maksimum konsumsi (konsumerisme). Kedua, The of Economic Domination, merupakan kejahatan yang dilakukan oleh pelaku bisnis yang dapat berupa penipuan pajak, eksploitasi buruh, penyimpangan kontrak karya, dan sebagainya. Ketiga, The Crime of Government, yaitu penyalahgunaan wewenang birokrasi, kolusi, korupsi, nepotisme, dan sebagainya.

***

-( 3 )-
Gandhi, India, dan Manusia

Seringkali filsafat India digegasikan dengan Gandhi dan ajaran-ajarannya. Padahal, filsafat India sudah berkembang jauh sebelum masa Gandhi. Secara garis besar, filsafat India sangat lekat dengan masalah keagamaan, etika/moral, dan cara-cara/kiat untuk mencapai keselamatan hidup manusia di dunia dan kelak keselamatan di akhirat. Periodesasi perkembangan filsafat India sendiri terbagi kedalam beberapa masa. Antara lain zaman Weda (2000 – 600 SM), zaman Skeptisisme (600 SM – 300 SM), zaman Puranis ( 300 SM – 1200 M), zaman Muslim (1200 – 1757 M), dan zaman Modern (1757 M).
Masa perkembangan filsafat India yang paling berpengaruh – menurut penulis – adalah zaman Skeptisisme dan zaman Muslim. keduanya merupakan titik pencerahan yang terakumulasi menjadi sebuah faham baru yang dipopulerkan oleh Gandhi. Jadi tidak salah jika Gandhi, India, dan filsafat India memang selalu bergaung – dalam ranah filsafat modern. Pada masa Skeptisisme India, manusia ditarik masuk kedalam kehidupan religius yang ketat dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan dan universal. Ajaran yang kemudian terkenal dengan sebutan Buddhisme – yang diajarkan oleh Gautama Buddha. Ajaran ini memberikan pedoman praktis untuk mencapai keselamatan dan mengajarkan secara nyata bagaimana manusia dapat mengurangi penderitaannya dan bagaimana ia mencapai terang budi yang membawa keselamatan.
Kedua adalah masa Muslim yang dimulai sekitar abad 13. Salah satu tokoh yang terkenal pada masa ini adalah Kabir. Ajarannya tidak jauh berbeda dengan Buddhisme – dalam hal nilai-nilai kehidupan. Perbedaan besar terletak pada peletakkan posisi Tuhan dan ajaran-ajaran ke-Tuhan-an (tauhid). Namun hal ini tidak mengurangi kebebsan beragama antar pemeluk agama lainnya. Berawal dari ‘benturan’ inilah, periode filsafat India modern (1757) berkembang dengan pengaruh yang kental dari agama Buddha, Hindu, dan Islam.
Pada masa modern, filsafat India mulai kembali menggali nilai-nilai klasik yang di barengi perubahan sosial. Tentunya hal ini tidak terlapas dari pengaruh penjajah, bangsa Inggris, sehingga melahirkan tokoh dunia sekaliber Gandhi – yang sejalan dengan pemikiran Ram Mohan Roy – sehingga Gandhi sendiri tidak bisa terlepas dari peng-kasta-an status sosial masyarakat India.

Daftar Rujukan:
Prasetyo, Eko. 2006. Kapitalisme dan Neoliberalisme http://al-manar.web.id/bahan/8.%20EKONOMI%20POLITIK/2.%20Kapitalisme%20&%20Neoliberalisme.pdf (diakses 2 Desember 2011)
Noer Fauzi Rahman. 2008. Menyegarkan Pemahaman Mengenai Kapitalisme Indonesia. http://www.elsam.or.id/downloads/1320201571_Kapitalisme_Indonesia_(_Noer_Fauzi_).pdf (diakses 2 Desember 2011)
Marzuki, Suparman. 2008. Kapitalisme, Keserakahan, dan Kejahatan. http://pusham.uii.ac.id/upl/article/id_kapitalisme.pdf (diakses 2 Desember 2011)
Miswanto. Kumpulan Materi Darcana. http://romonadha.files.wordpress.com/2011/10/darsana-baru.pdf (diakses 2 Desember 2011)
Budi Setiawan. 2010. Sejarah Perkembangan Pemikiran  Filsafat : Suatu Pengantar Kearah Filsafat ilmu http://fpk.unair.ac.id/webo/kuliah-pdf/KUL_FIL_01_FPK.pdf (diakses 2 Desember 2011)

FUNDRAISING PERPUSTAKAAN SEKOLAH: KEWAJIBAN ATAU KEBUTUHAN?


Kajian Taman Bacaan Yayasan Bina Insan Mandiri Depok


Oleh, Iswanda Fauzan S, 1006696951


Abstrak

Perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dan penting di sebuah institusi pendidikan. Selain sebagai penunjuang kegiatan belajar mengajar (KBM), perpustakaan sekolah juga memiliki berbagai tugas untuk pengembangan ilmu pengetahuan dilingkungan sekolah dan menfasilitias pelajar dalam proses belajar. UU No. 43 2007 memberikan acuan sebesar 5% dari anggaran belanja operasional/madrasah atau belanja barang di luar belanja pegawai dan belanja modal untuk pengembangan perpustakaan. Sayangnya, aturan tersebut belum sepenuhnya dijalankan oleh kebanyakan perpustakaan sekolah di Indonesia. Permasalahan lain yang muncul adalah bagaimana perpustakaan sekolah informal menyediakan anggaran 5% untuk perpustakaan? Salah satu solusinya adalah fundraising perpustakaan sekolah. Studi ini berdasarkan pengalaman Penulis ketika menangani program Revitalisasi Perpustakaan Sekolah Master Juli 2011 sampai Februari 2012. Hasil dari studi menunjukkan bahwa fundraising perpustakaan sekolah adalah kebutuhan institusi. Terutama pada perpustakaan sekolah informal.

Kata kunci: fundraising, perpustakaan sekolah, fundraising perpustakaan sekolah, TBM Master

DOWNLOAD FULL PAPER

REINVINTING SPECIAL LIBRAY FOR COMMUNITY


Perpustakaan khusus lahir karena adanya perbedaan kebutuhan dari kelompok pembaca dalam masyarakat. Kesadaran akan perbedaan kebutuhan informasi menjadi dasar bagi kelompok-kelompok pembaca mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan informasinya masing-masing. Sulistyo Basuki (1991) menjelaskan bahwa faktor yang memengaruhi pembedaan jenis perpustakaan adalah pandangan masyarakat terhadap; (1) jenis pustaka, misalnya buku, film, rekaman suara, kartografi, manuskrip, majalah, dan sebagainya. Dibeberapa tempat terdapat perpustakaan yang hanya mengoleksi salah satu dari material perpustakaan tersebut; (2) kebutuhan informasi,  dalam masyarakat terdapat banyak macam kelompok pembaca, misalnya pelajar (SD, SLTP, SLTA), mahasiswa, peneliti, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Kelompok pembaca dapat dilatarbelakangi oleh profesi, gender, agama, suku, usia, dan banyak lainnya; (3) spesialisasi subjek, termasuk ruang lingkup subjek dan rincian subjek yang bersangkutan, genus-species (Sulistyo, 1991: 41).

Tujuan perpustakaan khusus tidak lain adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi anggota/ lingkungan tempat perpustakaan khusus tersebut berada. Ketetapan Badan Standardisasi Nasional (BSN) nomor 1637/BSN-1/HK.74/10/99 menjelaskan bahwa tujuan perpustakaan khusus, selain sebagai pemenuhan kebutuhan informasi, adalah untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia di dalam instansi/lembaga dimana perpustakaan tersebut bernaung. Lebih jauh, UU no. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan memberikan batasan bahwa perpustakaan khusus dipruntukkan bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintahan, lembaga masyarakat, lembaga pendidikan keagamaan, rumah ibadah, atau organisasi lain.

Salah satu ciri perpustakaan khusus adalah memberikan jasa informasi sesuai minat perorangan. Hal inilah yang menjadikan perpustakaan khusus bersifat lebih dekat kepada pemustaka – orientasi jasa informasi – daripada jenis perpustakaan lain. Oleh karena itu, parameter kualitas sumber daya manusia pada sebuah lembaga/instansi dapat diukur dari kualitas perpustakaannya. Surachman (2005) menyatakan bahwa perpustakaan khusus merupakan pendukung visi dan misi lembaga/instansi yang bersangkutan (Surachman, 2005). Dengan demikian, peranan perpustakaan khusus sangat potensial dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam ruang lingkup masyarakat dengan basis komuniatas – profesi, hobi, gender, usia, agama, dan sebagainya.

Sebagai negara yang sebagaian besar penduduknya beragama Islam, Indonesia memiliki sebuah perpustakaan khusus sebagai pusat koleksi Islam di Indonesia, yaitu Pusat Perpustakaan Islam Indonesia (PPII). Perpustakaan ini dikenal juga sebagai perp-ustakaan Masjid Istiqlal. Tulisan ini menitik beratkan pembahasan seputar peran dan fungsi PPII sebagai salah satu perpustakaan khusus di lingkungan Masjid Istiqlal khususnya, dan masyarakat Islam Indonesia umumnya.

Tuesday, March 27, 2012

MEMBERDAYAKAN PERPUSTAKAAN UMUM MELALUI LIBRARY SUPPORT COMMUNITY

Abstrak

Perpustakaan umum sebagai salah satu lembaga non-profit yang memiliki fungsi dan peran sebagai pusat ilmu pengetahuan, pusat interaksi, dan pusat kebudayaan belum mampu menjalankan fungsi dan perannya dengan baik. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah upaya strategis untuk mengoptimalkan fungsi perpustakaan umum supaya dapat berperan dan berfungsi sebagaimana mestinya. Peluang strategis ini dapat dilihat dari Library Support Community (LSC) yang terbukti sukses di beberapa negara. Gagasan yang diajukan dalam penulisan ini adalah memberdayakan perpustakaan umum melalui library support community.
Program pemberdayaan perpustakaan umum melalui LSC merupakan pengembangan konsep perpustakaan berbasis komunitas. LSC mengintegrasikan berbagai komunitas yang ada di sebuah daerah untuk memaksimalkan peran perustakaan umum sebagai basis komunitas. Selain melibatkan perpustakaan umum dan komunitas, program ini juga melibatkan beberapa pihak yang mempunyai peran strategis, yaitu pemerintah, perusahaan, dan masyarakat di sekitar wilayah tersebut.
Pelaksanaan program ini dibagi menjadi dua tahapan, yaitu langkah jangka pendek dan langkah jangka panjang. Langkah jangka pendek merupakan stimulus awal yang melibatkan komunitas dari kalangan akademisi dan memosisikan LSC berbarengan dengan perpustakaan umum. Langkah ini merupakan fondasi awal untuk langkah jangka panjang. Sedangkan langkah strategis jangka panjang menitikberatkan terhadap transformasi LSC ke dalam tubuh perpustakaan umum dan pelibatan berbagai unsur-unsur komunitas yang ada di masyarakat.
 Tahapan dalam pelaksanaan program ini memiliki peluang dan tantangan tersendiri dalam praktiknya. Peluang yang ada diantaranya adalah program ini sesuai dengan visi dan misi perpustakaan umum, terdapat banyak komunitas di Indonesia, dan semakin maraknya CSR yang dilakukan perusahaan/swasta. Adapun tantangan yang dihadapi adalah dorongan pihak perpustakaan dalam meningkatkan kualitas pelayanan, mengintegrasikan komunitas kedalam satu misi yang sama, dan proses menjalin dukungan dari pihak perusahaan atau swasta. Dengan pertimbangan diatas, program penerapan LSC di perpustakaan umum bukanlah angan-angan belaka. 


Baca Artikel Selengkapnya, silahkan DOWNLOAD ARTIKEL

Tuesday, March 13, 2012

Budaya-nya Mudji Sutrisno SJ


Analisa Singkat Kuliah Umum Kebudayaan Indonesia[1]
Oleh, Oejank Indro

Sejarah manusia ditulis oleh manusia itu sendiri. Begitu juga dengan budaya manusia. Hanya manusia yang mampu memetakan hasil kebudayaan dan memahami sumber kebudayaannya. Namun budaya manusia tidak terlepas dari aktivitas manusia dengan manusia lain dalam sebuah komunitas. Aktivitas tersebut, menurut Mudji Sutrisno (selanjutnya disebut MS), dapat dikatakan sebagai seperangkat sistem makna yang dimiliki komunitas untuk melukiskan hidup dengan cara menuangkannya melalui sistem simbolik – yang memuat pandangan hidup, pandangan dunia, yang dilakukan sehari-hari sebagai dasar aktivitas kehidupannya.
Sebagai pendahuluan, MS menjelaskan empat tingkatan pandangan hidup manusia secara hierarki mulai dari common sense, ilmu pengerahuan, estetika, dan agama.

Wednesday, February 22, 2012

Media Pustaka (HMPII)

Ilmu perpustakaan di Indonesia masih belum mendapatkan tempat yang memadahi di hati pelajar, masyarakat, dan cendekiawan. Salah satu faktor adalah tidak banyak buku-buku yang mengupas masalah perpustakaan dan pustakawan. Sebagai salah satu professional informasi, pustakawan di Indonesia kurang mendapatkan tempat untuk menyebarluaskan informasi. Keaadan ini diperparah oleh lemahnya pengaruh oraganisasi pustakawan di Indonesia, baik di tingkat mahasiswa hingga professional. Selain faktor diatas, minimnya media komunikasi berupa majalah, jurnal, dan website juga menjadi PR yang harus segera diselesaikan.

Berdasarkan hal tersebut, Universitas Indonesia mencoba meramaikan kajian ilmu perpustakaan melalui sebuah program kecil yang berjudul “Indonesia Library Center” (ILC). Program ini secara rutin akan menerbitkan majalah seputar perkembangan ilmu perpustakaan, meluncurkan portal/website dengan konten seputar keilmuan perpustakaan, dan menyelengaarakan berbagai seminar dan kajian. Seluruh rangkaian program tersebut terintegrasi dibawah Himpunan Mahasiswa Perpustakaan & Informasi Indonesia (HMPII) dengan pembinaan langsung dari Perpustakaan Nasional RI.

Berjuang denga Tulisan

Media masa merupakan entitas yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. Baik berupa media cetak maupun elektronik. Peran media dalam mengkonstruksi paradigma masyarakat sangat ampuh. Tidak salah jika ada sebuah adagium,
“Penguasa media adalah penguasa dunia.”  Perkembangan media di Indonesiaa mengalami masa ‘pencerahan’ sejak bergulirnya peristiwa Reformasi yang mengerucut pada tahun 1998. Sejak saat itu nyawa media Indonesia melayang bebas dengan berbagai variable yang beranekaragam. Mulai dari media investigasi sampai berita hiburan (entertainment) telah memeriahkan pentas media nasional.

SARAPAN


Oleh, Oejank Indro

Sejak pagi buta bu Karso sudah sibuk dengan berbagai aktvitas memasak. Kali ini berbeda. Benar-benar berbeda. “Segala sesuatunya harus pas!” Katanya dalam hati. Ditemani kucing keluarga. Ia mondar-mandir, meracik bumbu, menuangkan air, mencuci piring, dan menyajikannya di meja makan. Sesekali ia melihat jam di dinding, diatas pintu yang menghubungkan ruang keluarga dan dapur.
Hei kucing, kenapa kau melihatku seperti itu? Belum pernah kan kau lihat aku sesibuk ini kala pagi? Asal kau tahu, kucing, ini hari spesial.
Dengan mata yang tajam, bu Karso memindai satu per satu bahan makanan yang mulai terlihat seperti makanan, dan siap dimakan. “Sebentar! Bumbu soto? Siap! Lodeh? Oke! Nasi? Sebentar lagi! Kopi? Tinggal seduh.” Dilihatnya kucing tadi masih memperhatikan gerak-gerik bu Karso yang sedang mondar-mandir. “Hei puss, bagaimana menurutmu? Apakah suamiku akan terkesan dengan hidangan ini?” … “Tidak? Kenapa tidak?” … “Oh, iya.. aku tahu apa yang kurang. Sambal? Emm.. kerupuk?”
Nah, ini baru pas! Bagaimana menurutmu, kucing?
Hidangan sudah tertata rapi di meja makan. Bu Karso bersiap untuk mandi, beribadah, dan kembali memberikan sentuhan akhir pada masakannya.
Sudah pukul setengah 7 pagi. Bu Karso meletakkan sendok-garpu di meja makan. “Sudah siap!” Katanya puas.   “Semoga suami dan anakku tidak kecewa.”
“Cuma itu yang kau harapkan? Sedangkal itukah pikiranmu?” Tiba-tiba si kucing tadi bicara. Bu Karso clingak-clinguk. Dalam hatinya ia bergumam, siapa yang berbicara? Tidak ada orang lain di dapur? Ia mengintip ke ruang tamu melalui jendela dapur. Menyapu pandangan melewati sela-sela pintu belakang rumah. Mengendap-endap dan melongok ke dalam kamar mandi.
“Ini aku, kucingmu.” Bu Karso tersentak, bulu kudunya mulai tegak berdiri. Benar itu kau? Kucing? Kau.. kata bu Karso terbata.
“Jangan kaget bu Karso. Semua mahkluk Tuhan itu bisa bicara, pohon, hewan, air, gunung, udara, semuanya bicara. Bukan hanya manusia saja yang bisa bicara!” Bu karso tertegun. Ia kembali duduk di kursi dekat meja makan. Matanya memperhatikan si kucing. “Kenapa tidak dari dulu kau bicara, cing?” Tanya bu Karso. “Maksudku, bicara kepadaku.”
Si kucing meubah posisi duduknya. Ia berjalan mendekati bu Karso. Sontak bu Karso terlihat kagok. Tapi sudah tidak takut lagi.
“Aku menjadi kucing, karena aku anak dari bapak kucing. Kau menjadi manusia, karena kau anak manusia. Sudah lama aku bersahabat dengan manusia.” Bu Karso dengan antusias mendengarkan omongan si kucing. Ia mengambil posisi layaknya soerang siswa di dalam kelas. Si kucing melompat ke meja makan. Spontan bu Karso mengusirnya. Namun si kucing hanya diam dan duduk manis sambari melempar senyum. Kontan bu Karso melongo.
“Kau kucing ajaib?” Tanya bu Karso polos. Si kucing menggaruk-garuk punggung dan lehernya. “Aku kucing biasa. Sama dengan kucing tetanggamu.” Jawab si kucing. Bu Karso semakin bingung. Ia mengamati lagi si kucing. “Apa yang hendak kau bicarakan, kucing?” tanya bu Karso lagi.
Makanan!
Si kucing dengan semangat menjawab. “Tahu apa kau soal makanan? Dari dulu makananmu itu itu aja, ikan. Kau mau sate?” Bu Karso menimpali lantas tertawa lebar.
Si kucing tersenyum kecut.
Manusia memang semakin lama semakin tidak bisa menghargai sesama. Tidak heran jika binatang sepertiku juga dihinanya. Seolah manusia dimuka bumi sudah tidak ada yang bisa dihina lagi.
Bu Karso terdiam. Ia memandangi si kucing yang seolah menjelma seperti kiyai. Nuraninya terenyuh.  Lidahnya kaku dan diam. Si kucing melanjutkan. “Beruntung kau diciptakan Tuhan sebagai manusia. Tapi tidak seberuntung aku, kucing, dan juga anjing, cicak, ular, kupu-kupu, dan lain-lain.”
Dalam hati bu Karso bertanya-tanya. Bukankah manusia itu mahkluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan? Paling pintar? Paling hebat dan tinggi derajatnya diantara makhluk Tuhan lainnya? Kok bisa si kucing lebih beruntung?
“Karena kau hidup di jaman akhir.” Si kucing tiba-tiba menjawab. Bu Karso makin bingung. Ternyata si kucing juga mampu membaca kata hati manusia. “Aku beruntung menjadi kucing, karena aku tidak makan makanan saudara se-binatang. Kambing cukup makan rumput. Ayam cukup cacing, padi, dan jagung. Cicak sudah bersyukur memakan nyamuk, serangga, dan kecoa. Padahal cicak tidak punya sayap, benar?”
Bu Karso mengangguk. Menelan ludah dan mengambil nafas dalam-dalam. Si kucing melanjutkan permbicaraannya. “Kau tentu tidak pernah mendengar krisis pangan di dunia kami. Kau tahu alasannya?” Tanya si kucing. Bu Karso hanya menggelengkan kepalanya.”
“Karena kami tidak rakus sepertimu. Kami cukup dengan apa yang diberikanNya. Karena kami percaya Tuhan itu maha adil. Semua ada tempatnya. Segalanya sudah ada bagiannya.” Si kucing mendekati bu Karso. Bersipu di sebelahnya. Di atas meja makan sebelah kanan.
“Tidak sepertimu, apa-apa mau, segala-galanya kurang. Aku tidak perlu berpikir makanan apa yang aku makan untuk besok. Karena Tuhan sudah menyiapkannya.”
Tentunya kau tidak pernah memikirkan perasaan tumbuhan dan hewan yang sudah kalian makan. Asal kau tahu, mereka yang bakal kau santap, sudah mengiklhaskan diri mereka untuk kau makan. Kau ingin tahu apa yang mereka katakana sebelum kau memakannya? Memasaknya?
Bu Karso kembali mengangguk. Ia pasang telinga baik-baik.
“Tuhan, aku rela menjadi makanan bagi mahklukmu yang lain supaya mereka mampu merasakan nikmatMu, bertahan hidup untuk mendekati jalanMu, menjalankan perintahMu, menjauhi laranganMu, dan menghargai ciptaanMu selain aku.” Kata si kucing.
Matahari mulai meninggi. Bu Karso melihar ke arah jendela, langit yang gelap perlahan memerah dan cerah. “Semakin banyak manusia yang tidak peduli lagi pada sesama mahkluk Tuhan. Aku menyadari itu, tapi kalian tidak kunjung sadar, hanya sedikit orang saja yang sadar.” Ujar si kucing seraya melompat ke lantai. Ia kembali merebah seperti sedia kala. Bu Karso merenungkan perkataan-perkataan si kucing hingga terdengar suara piring beradu dengan sendok-garpu.
Karin melenggang turun dari kamarnya di lantai dua. Sudah berpakaian lengkap untuk ke kampus. “Karin! Ayo makan dulu. Ibumu sudah masak makanan spesial.” Teriak Karso yang sudah duduk manis menghadapi hidangan di meja makan.
“Iya pak!” Jawab Karin singkat. Ia segera mengambil piring, makanan, dan menyantap hidangan dengan lahap bersama Karso.
“Lho, ibu nggak makan? Kok malah bengong?” Tanya Karin. Bu Karso semakin bingung. Ia melihat si kucing tadi. Tapi si kucing sudah tidak di tempat. Matanya menguasai sekitar. Melihar Karin dan Karso yang lahap makan.
“Karin, bapak, maafkan ibu, ibu selama ini hanya memikirkan bagaimana menyajikan makanan yang enak.” Karin dan Karso clingak-clinguk bingung. Apa yang sedang dibicarakan bu Karso?
“Seharusnya ibu memiliki niatan menyediakan sarapan untuk kalian, supaya…” Belum selesai bu Karso berbicara, Karin memotong, “Supaya kami bisa lebih mensyukuri hidup yang diberikan Tuhan, melaksanakan perintah Tuhan, menghargai makhluk Tuhan yang sudah kami makan?”
Bu Karso tercengang. Ia masih ling-lung. Seolah ia baru bangun dari mimpi singkatnya. Tapi hidangan sarapan yang ia sajikan nyata-nyata sedang dinikmati anak dan suaminya. Dalam hati bu Karso berkata, “Alhamdulillah, semoga Tuhan senantiasa melimpahkan ramhat untuk keluargaku.” Sambil menarik nafas panjang dan memejamkan mata. Ketika membuka mata, bu karso melihat si Kucing muncul dari pintu belakang rumah. Si kucing melihat ke arah bu karso seraya melempar senyum kecil, lalu melenggang pergi ke luar rumah.

Depok, 20 Februari 2012

MENDADAK JURNAL


Oleh, Oejank Indro

Pada suatu pagi yang kelam, mendung tak berhujan dan angin tak berhembus kencang. Bersandar di sofa bercorak mawar ditemani lembaran berita koran mingguan, Karin mengutak-atik editorial yang bertuliskan “Jurnal Ilmiah Syarat Wajib Kelulusan.” Sesekali ia melihat siaran berita televisi yang dihiasi korupsi, gengsi, dan cinta-cintaan. “Apa tidak bosan rakyat Indonesia disuguhi informasi abal-abal seperti ini?” Gumam Karin.
“Nyata-nyata rakyat Indonesia dibutakan demokrasi. Ingat waktu pecah peristiwa Reformasi. Semua mendewakan demokrasi, seolah-olah menegakkan demokrasi itu mudah. Jika mereka masih ingat pelajaran sejarah kelas XI SMA, Pois Athena yang mengagungkan demokrasi ternyata lebih mudah dihancurkan. Lalu, apa yang kita harapkan dari demokrasi? Kebebasan? Orang nyata-nyata makin banyak orang bablas. Bablas miskin, bablas bodoh, bablas punya anak padahal belom nikah.”
Diambilnya remote televisi di atas meja, dengan kesal Karin mematikan televisi, melipat koran, dan melenggang ke halaman belakang rumah. Disana ia bertemu bapaknya, Karso,  yang sedang kegirangan memberi makan ikan. Karin dengan muka kesal segera menghampiri Karso. “Kenapa sih pak, pemerintah itu nggak bisa mengerti. Bisanya cuma pura-pura ngerti aja.” Tanya Karin.
Karso tersenyum, “Maksud kamu apa? Sudah syukur kamu bisa hidup cukup, kuliah, dan kebutuhan sehari-harimu terpenuhi.”

Saturday, February 18, 2012

Ngelamar

Oleh: Oejank Indro

Ini lho anak saya yang baru datang dari Mesir. Kata pak Gatot. Ia mempersilahkan si anak tadi duduk. Jadi pak Karso, anak saya ini lulusan Universitas Kairo. Ia baru saja lulus dengan predikat cumlaude. Asal bapak tahu, anak saya termasuk sepuluh besar lulusan terbaik di sana. Hebat kan pak? Karso mengangguk-angguk. “Bu, ada tamu. Tolong buatkan minum.” Teriak Karso.
Apa kabar bu? Tanya pak Gatot. Ia melempar senyum kepada bu Karso. “Baik pak. Ini to anak bapak yang dari Mesir?”
“Lho iya.. Bagaimana menurut ibu? Hebat kan anak saya?” Jawab pak Gatot semangat. “Saya dengar anak ibu, Karin, sudah masuk tahun terakhir pendidikan tingginya? Apa benar bu?”  Ujar pak Gatot. “Seharusnya sekarang dia di rumah kan, pak? Bu? Bukannya sudah masuk masa liburan?”
Bu Karso hanya tersenyum. Meletakkan tiga cangkir berisi teh di meja. “Karin masih punya jam ngajar, jadi ia belum bisa pulang. Insyaallah hari Kamis depan ia pulang. Ayo silahkan diminum, pak Gatot.” Bu Karso mempersilahkan. “Saya ke dalam dulu.”
Hebat kau Karso. Memang dari dulu kau pandai memilih wanita. Hahaha.. O iya. Sampai dimana pembicaraan kita tadi?
Pak Gatot seolah berpikir.
“Soal Karin?” Cetus Karso.
“Ya! Anakmu yang cantik itu. Apa sudah kau pikirkan masa depannya? Maksudku, sudahkah ada calon pendampingnya? Suaminya.” Karso melirik anak pak Gatot. ia menarik nafas panjang seraya meletakan cangkir di atas meja. Mngambil posisi duduk yang lebih nyaman.

Thursday, December 29, 2011

Karl Marx: Sosialisme dan Komunisme


Oleh, Mang Oejank Indro

Pendahuluan
Istilah sosialisme selalu identik dengan sosok Karl Marx. Padahal pemikiran tentang sosialisme terlampau jauh berkembang sejak abad ke V – sebelum Marx mulai memikirkan recolusi proletariat. Pemikiran Marx sendiri tentang sosialisme sebenarnya sudah termaktub dalam beberapa karya dan budaya Yunani kuno – meskipun terbatas pada objek dari sosialisme itu sendiri. sosialisme untuk semua digagas oleh Jambulos dan Euhemeros. Jambulos mendeskripsikan sebuah ‘negara matahari’ dimana segala-galanya – termasuk para isteri – dimiliki bersama.
Kata ‘sosialisme’ sendiri mucul di Prancis sekitar tahun 1830, begitu juga ‘komunisme’. Kedua kata ini pada awalnya memiliki makna yang selaras, namun ‘komunisme’ segera dipakai oleh golongan sosialis radikal, yang menuntut penghapusan total hak milik pribadi dan kesamaan konsumsi serta mengharapkan keadaan komunis itu dari kebaikan pemerintah, melainkan semata-mata dari perjuangan kaum terhisap sendiri (Frans. 2003:14). Sosialisme pada abad pertengahan memiliki motif-motif yang erat dengan nilai-nilai religius tertentu, yaitu Kristen. Terutama dalam pertimbanhan tentang penyambutan Kerajaan Allah, orang harus bebas dari keterikatan.

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL

RESTORASI ARSIP KONVENSIONAL Hasil Obervasi Restorasi Arsip Nasional RI dan Sinematek Indonesia Iswanda Fauzan S. ( LIS Rese...